Berkat Kendaraan Listrik, Prospek Bisnis Nikel Makin Mengkilap

Oleh Liputan6.com pada 15 Jul 2021, 17:10 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 17:10 WIB
Harga Nikel Naik 28 Persen, Ini Strategi Antam Agar Kompetitif
Perbesar
Nikel lagi-lagi mencatatkan trend kenaikan harga yang positif selama tahun 2017.

Liputan6.com, Jakarta - PT PAM Mineral Tbk (NICL) menilai peluang bisnis nikel ke depan cukup menjanjikan. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya permintaan nikel di pasar dalam negeri.

Ini juga didukung oleh pemerintah yang akan mengembangkan industri dan ekosistem kendaraan listrik melalui pembentukan holding BUMN baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) kerjasama dengan produsen mobil listrik dunia yaitu LG Chem (Korea) dan CATL (China).

Seperti diketahui, pabrik baterai mobil listrik milik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG serta CATL untuk mobil listrik akan mulai melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada akhir Juli 2021.

Selanjutnya, pabrik baterai tersebut diharapkan akan mulai beroperasi pada 2023. Dimana nikel dengan kadar rendah banyak dibutuhkan untuk kebutuhan campuran dengan jenis logam Cobalt sebagai bahan baku untuk baterai.

Direktur Utama PT. PAM Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka, melihat satu peluang yang cukup menjanjikan pada pertambangan nikel berkadar rendah, hal ini sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan baterai untuk bahan bakar kendaraan listrik.

Disisi lain permintaan bijih nikel berkadar tinggi juga terus mengalami peningkatan, terutama karena adanya industri pengolahan atau smelter yang ada. Permintaan nikel dengan kadar tinggi juga cukup stabil, sementara permintaan pasar nikel berkadar rendah juga kembali mulai meningkat.

Adanya industri baterai nasional seiring tumbuhnya Smelter dgn teknologi Hydrometalurgi akan meningkatkan kinerja perusahaan dengan diserapnya nikel kadar rendah yg diproduksi perseroan. Ini yang kita harapkan bersama," kata Ruddy.

Ia mengatakan, stabilnya industri pengolahan atau smelter, menjadi peluang yang cukup menjanjikan bagi industri bijih nikel. Dia optimis permintaan bijih nikel dengan kadar tinggi akan meningkat. Apalagi dengan ekspansi di smelter yang ada, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan tambang Perseroan.

"Tentu kita optimis perkembangan ke depan itu kebutuhan ore nikel bisa melebihi 7-8 juta ton per bulan," kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (15/7/2021).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Eksplorasi

(Foto: Liputan6.com/Septian Deny)
Perbesar
Smelter nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara (Foto:Liputan6.com/Septian Deny)

Sementara itu, dengan eksplorasi yang terus menerus dilakukan, Perseroan berkeyakinan bahwa ke depan Perseroan dan anak perusahaan masih memiliki sumberdaya sekitar 28 juta ton lebih bijih nikel.

Dari 28 juta bijih nikel tersebut, lanjut Ruddy, tidak semua memiliki kadar tinggi namun juga terdapat bijih nikel dengan kadar rendah. Perseroan saat ini telah melakukan penjualan bijih nikel kadar rendah ke smelter yang ada.

Untuk jangka menengah dan jangka panjang Perseroan memiliki strategi menambah cadangan dengan melalui akuisisi atau maupun mencari tambang baru, dia berharap dapat mengerek kinerja perseroan dengan growth yang lebih tinggi lagi kedepannya.

Untuk rencana jangka pendek, perseroan akan memenuhi target Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) sebanyak 1,8 juta ton bijih nikel. "Tambang nikel ini tergantung cuaca, jadi kita berharap cuaca mulai bersahabat, sehingga kita bisa produksi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan smelter ke depan," ujar Ruddy.

Lebih lanjut, Ruddy menjelaskan, jumlah pasokan nikel terbatas saat ini di sisi lain permintaan bijih nikel semakin meningkat terutama dari industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Market share untuk kendaran listrik (EV) yang akan meningkat dari 2,5% pada tahun 2019 menjadi 10 persen pada tahun 2025.

Market share untuk industry EV diprediksikan akan meningkat menjadi 28 persen di tahun 2030 dan 58 persen di tahun 2040. Pada tahun 2019, konsumsi nikel untuk bahan baku baterai mencapai 7 persen dari total konsumsi global.

Diperkirakan pada tahun 2022, permintaan nikel akan melebihi pasokan/supply yang ada. "Potensi yang besar bagi Perseroan untuk bertumbuh mengingat saat ini baru sebagian kecil dari area yang sudah dieksploitasi," pungkasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya