Layanan Online CEISA Bermasalah, Bea Cukai Minta Pegawai WFO saat PPKM Darurat

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 15 Jul 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 08:30 WIB
Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Aktifitas kapal ekspor inpor di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,24 miliar . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sistem layanan Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) yang dipakai Bea Cukai dalam pelayanan kepabeanan dan cukai masih mengalami gangguan pada sisi database beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat Kantor Bea Cukai terpaksa mempekerjakan pegawainya di kantor atau work from office (WFO) saat PPKM Darurat.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Kemenkeu Syarif Hidayat menjelaskan, gangguan pada CEISA terjadi karena adanya force majeure di sistem IT, sehingga menyebabkan beberapa aplikasi pelayanan kepabeanan dan cukai menjadi terganggu secara signifikan. Diantaranya seperti aplikasi terkait impor, ekspor, manifes dan portal pengguna jasa.

"Gangguan tersebut telah mengakibatkan layanan kepabeanan seperti pengiriman dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB), pengiriman dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), pengurusan surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB), nota pelayanan ekspor (NPE), serta layanan lainnya pada sistem tersebut menjadi terkendala," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (15/7/2021).

Menindaklanjuti kondisi force majeure, Syarif melanjutkan, untuk memastikan seluruh kegiatan ekspor dan impor dapat terlayani dengan baik, Bea Cukai memberikan pelayanan secara manual.

"Langkah pertama yang diambil oleh Kantor Pelayanan meliputi pengoptimalan jumlah pegawai yang melaksanakan WFO di tengah pelaksanaan PPKM Darurat, dengan menugaskan sebagian pegawainya yang semula WFH menjadi WFO untuk memastikan dokumen yang diajukan manual dapat segera diselesaikan," tuturnya.

Selain itu, Syarif menambahkan, sebagai bagian dari protokol tersebut, tiap-tiap kantor membuat skala prioritas terhadap penyelesaian dokumen di lapangan.

"Pada beberapa kantor yang masih terjadi penumpukan dokumen, Bea Cukai memprioritaskan dokumen ekspor dan impor yang memiliki kondisi tertentu seperti dokumen ekspor yang akan closing time agar diprioritaskan untuk segera diselesaikan," ungkapnya.

Syarif mengatakan, aplikasi mandiri di luar CEISA juga dimasukkan ke dalam protokol. Sehingga proses penyelesaian dokumen tidak sepenuhnya berjalan manual, dan keamanan pegawai Bea Cukai yang WFO pun tetap terjaga.

"Hal tersebut membantu mengefisiensikan proses kerja, memudahkan pengguna jasa, dan mengurangi interaksi tatap muka langsung di tengah pandemi," pungkas Syarif.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Layanan Online CEISA Bea Cukai Terganggu, Eksportir Berang

FOTO: Neraca Dagang RI Mei 2021 Surplus USD 2,36 Miliar
Perbesar
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/6/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2021 kembali surplus sebesar USD 2,36 miliar dan menjadi tertinggi sepanjang tahun 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menginformasikan jika sistem layanan Customs Excise Information System and Automation (CEISA) mengalami gangguan sejak Kamis 8 Juli 2021.

Oleh karenanya, layanan kepabeanan dan cukai secara online saat ini masih belum berjalan lancar, sehingga pihak eksportir diarahkan mengikuti panduan layanan manual di kantor Bea Cukai terdekat.

"Sahabat BC, saat ini sedang dilakukan pemutakhiran layanan CEISA untuk mengatasi kendala yang terjadi beberapa waktu terakhir. Saat pemutakhiran berlangsung, beberapa layanan tidak dapat diakses," tulis akun Twitter @beacukaiRI, Senin 12 Juli 2021.

Hal itu membuat sejumlah eksportir bertanya-tanya dan berang lantaran CEISA sangat penting untuk mengurus nota pelayanan ekspor (NPE) hingga pengurusan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).

Gangguan ini pun membuat barang kiriman eksportir tertahan di pelabuhan selama berhari-hari. Itu lantas menjadikan biaya yang dikeluarkan semakin tinggi lantaran kontainer menginap terlalu lama di pelabuhan.

"Hai, ada estimasi nya sampe kpn ga ya? Soalnya jujur saya ini kena charge biaya gudang dr jasa pengiriman. ini klo sistem dr becuk msih jg ga bs digunain… ini mau brp juta hrs saya keluarin. Tolong saya jg org teknologi. Utk pemutakhiran suatu sistem hrsnya ada timeline yg jelas," tulis akun @miss_seoulmate.

"Min masih belum tau sampai kapan untuk kembali normal? Cara manual pib belum ada tahapannya min, cara cek manifest yang biasa di protal pengguna jasa skrng cek dmna min? Beneran saya sampe sakit kepala min tkt imun saya menurun," tulis akun @fireboolt.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya