BRI Insurance Kenalkan Greensurance, Proteksi Bagi Kendaraan Listrik 

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2021, 16:10 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 17:44 WIB
20160217-Ilustrasi Asuransi-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Asuransi (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya popularitas kendaraan listrik mendorong seluruh industri yang terkait dengan otomotif untuk turut menerapkan proses bisnis yang ramah lingkungan, tidak terkecuali industri asuransi.

Sejalan dengan tren ini, CEO BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran mengungkapkan BRINS sudah melakukan langkah-langkah untuk mendorong industri otomotif ramah lingkungan. 

"Diperlukan kolaborasi semua pihak untuk memajukan industri otomotif ramah lingkungan, tapi jangan lupakan proteksinya, jika hanya membangun tetap akan ada 'lubang' disaat terjadi risiko akan apa yang telah dibangun, oleh karena itu saya pikir penting untuk asuransi ikut berperan dalam memajukan industri otomotif ramah lingkungan ini," ungkap Fankar Umran dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/7/2021).

Dia menambahkan bahwa di BRI Group Inisiatif ESG sudah diterapkan dalam berbagai aspek dengan triple bottomline, 3P, People, Planet, dan Prosperity. Mulai dari menjalankan operasional bisnis yang ramah lingkungan, kebijakan perusahaan yang berbasis green economy dan lain sebagainya.

"Jadi kami ingin memastikan untuk poin P terakhir kami mengutamakan prosperity dibandingkan profit, jadi perusahaan tidak sekedar mengedepankan bagaimana mencari profit namun juga mementingkan kesejahteraan bersama," jelas Fankar.

BRINS sendiri telah menginisiasi beberapa produk greensurance dengan Paperless policy dimana business process dilakukan secara paperless dan beralih kepada digital business, Pay as You Drive, ketika pertanggunan dapat disesuaikan dengan pemakaian, Produk ini diharapkan akan membantu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi secara masif.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kurangi Polusi Udara

CEO BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran
Perbesar
CEO BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran.

Sehingga, polusi udara dapat dikurangi dan semakin ramah lingkungan. Selain itu ada juga Incentive for Eco-Friendly Vehicle dengan memberikan premi yang lebih murah atau extra coverage untuk kendaraan ramah lingkungan serta Green for Old, dimana untuk kendaraan yang mengalami risiko total loss akan dilakukan penggantian dengan kendaraan ramah lingkungan atas kesepakatan bersama 

“Saya pikir kita harus mulai men-switch mindset kita dari greed mindset ke green mindset demi kemajuan yang berkelanjutan," tutup Fankar.

Pada kesempatan yang sama, dua Menteri juga mendukung penggunaan mobil listrik yang mulai populer. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, pemerintah menargetkan produksi mobil listrik mencapai 600 ribu unit untuk kendaraan roda 4 dan 2,5 juta unit untuk kendaraan roda dua pada 2030 nanti. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, iklim bisnis di Indonesia, termasuk bisnis otomotif akan semakin lancar dengan kasus Covid-19 yang terkendali. Keseriusan dari pemerintah pada kendaraan ramah lingkungan tentunya akan berdampak baik pada industri pembiayaan kendaraan. 

Peningkatan penggunaan mobil listrik dan fokus pembiayaan ramah lingkungan juga sejalan dengan himbauan Presiden Joko Widodo yang meminta industri memanfaatkan potensi bisnis yang belum optimal. Greensurance dari BRINS tentunya akan semakin populer ke depan dengan semakin banyaknya nasabah yang menggunakan mobil listrik. 

"Potensi-potensi yang belum tergarap optimal harus kita temukan dan kita kembangkan. Tahun 2021 akan menjadi momentum kita untuk bangkit. Teruslah membangun optimisme dan harapan agar kita mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang semakin kokoh, tangguh, dan mandiri," ujar Jokowi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya