Hindari Sifat Konsumtif, Ini 3 Tips Kelola Keuangan untuk Milenial

Oleh Liputan6.com pada 23 Jun 2021, 18:40 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 11:34 WIB
Tips atur keuangan.
Perbesar
Tips atur keuangan.

Liputan6.com, Jakarta - Milenial memiliki peran besar dalam perekonomian, bahkan diprediksi dalam 5 tahun ke depan generasi milenial akan mengisi 75 persen dari tenaga kerja secara global. Namun sayangnya banyak milenial yang belum bisa mengelola keuangannya dengan baik.

Tuntutan gaya hidup dan perilaku yang konsumtif menjadi salah satu faktor utama para generasi milenial ini cenderung lebih suka menikmati hidup yang kerap dianggap sebagai self reward dibanding menginvestasikan kekayaannya.

Oleh sebab itu, generasi milenial ditengarai menghadapi risiko finansial lebih besar di masa mendatang akibat gaya pengelolaan keuangan yang kurang sehat.

Melihat fenomena diatas, Technical Director BRI Insurance (BRINS), Ade Zulfikar menyampaikan beberapa tips bagaimana milenial dapat mengelola keuangannya dengan lebih baik. Berikut tipsnya:

1. Tentukan prioritas kebutuhan kamu Istilah YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) seringkali dijadikan justifikasi millennials dalam perilaku konsumtif. Selain itu, Jangan hanya secara buta mengikuti tren tanpa memahami skala prioritas kebutuhan. Milenialkerap kesulitan dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

2. Hindari hal-hal yang bersifat konsumtif yang bukan kebutuhan utamamu, seperti terlalu sering belanja online dan hangout. Jangan lupa juga, tentukan prioritas kebutuhan kamu dengan mengidentifikasi kegiatan sehari-hari kamu terlebih dahulu, hindari membeli barang dengan dasar keinginan bukan kebutuhan!

3. Pahami Kondisi Keuanganmu - Smart Spending Millennials cenderung membeli sesuatu tanpa memperhatikan kondisi keuangan dan jangka panjang.

"Kesulitan membedakan keinginan dan kebutuhan menyebabkan milenial cenderung sulit mengelola keuangan. Millennials dapat menerapkan rumus 40-30-20-10. Sisihkan 40 persen untuk keperluan sehari-hari, 30 persen untuk kebutuhan hutang, 20 oersen untuk investasi, tabungan, atau asuransi, serta 10 persen untuk kebutuhan sosial," jelas Ade.

Ade juga mengimbau investasi dan asuransi di umur yang masih muda, menjadi waktu yang tepat bagi generasi milenial untuk mulai menyisihkan uangnya untuk berinvestasi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pahami Investasi

ilustrasi tips mengatur keuangan saat lebaran/pexels
Perbesar
ilustrasi tips mengatur keuangan saat lebaran/pexels

Menurut Ade, Fenomena FIRE (Financial Independence Retire Early) yang sedang trend di kalangan milenial membuat mereka banyak mencari ‘side hustle’ atau melakukan investasi yang bersifat ‘high risk high return’.

Namun perlu dipahami bahwa investasi yang bersifat high risk tentunya perlu diimbangin dengan pengetahuan dan analisa yang mendalam, oleh karena itu peran financial advisor sangat penting untuk investor pemula khususnya millennials.

Selain itu perlu dipahami bahwa risiko tak terduga dapat terjadi pada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Hal tersebut seharusnya menjadi penting bagi semua orang untuk paham akan pentingnya terlindungi asuransi, termasuk generasi milenial.

Usia yang masih produktif dan mobilitas yang tinggi tak seharusnya membuat milenial abai akan pentingnya memiliki proteksi dalam setiap kegiatannya.

“Pilar pertama dalam pengelolaan keuangan adalah to protect and to preserve. Jadi dalam pengelolaan kekayaan hal yang pertama harus dilakukan adalah dengan memproteksi aset-aset yang dimiliki. Harus dipahami bahwa risiko bisa terjadi pada siapapun, dan saat terpapar risiko, sekaya apapun anda akan sulit melakukan recover secara finansial, kecuali anda diproteksi oleh asuransi," jelas Ade.

Sayangnya, sampai saat ini masih banyak millenial yang belum sadar akan pentingnya asuransi Salah satunya adalah mahalnya premi dan sulitnya klaim premi, padahal asuransi dapat menjadi kunci milenial untuk memiliki masa depan yang lebih terlindungi dan aman.

Dalam upaya untuk menjangkau segmen millennial, Ade mengungkapkan bahwa BRINS juga merambah dunia digital dengan kemasan sederhana, customizable sesuai kebutuhan millenials dan juga bisa menerbitkan polis dalam hitungan menit.

"Kami melihat generasi milenial memiliki mobilitas yang tinggi dan memiliki karakter yang unik, sehingga ini seharusnya menjadi perhatian juga bagi mereka untuk memulai proteksi aset sejak dini dengan premi yang terjangkau. BRINS terus berkomitmen untuk terus mengikuti perkembangan zaman, melalui BRINS Mobile nasabah dapat mendapatkan proteksi yang bersifat customizable dari mulai jangka waktu sampai risiko pertanggungan sehingga cocok untuk millennials yang agile dan fastpaced," tutup Ade.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya