Menteri Teten: Sekarang Orang Bukan Beli Makanan Murah, Tapi Pilih yang Sehat

Oleh Liputan6.com pada 22 Jun 2021, 13:10 WIB
Diperbarui 22 Jun 2021, 13:10 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam acara Pengembangan Koperasi dan UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif di Kabupaten Klungkung, Selasa (8/6/2021).
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam acara Pengembangan Koperasi dan UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif di Kabupaten Klungkung, Selasa (8/6/2021).

Liputan6.com, Jakarta - Para konsumen memiliki pertumbuhan khusus untuk membeli suatu produk di tengah pandemi Covid-19. Pertumbuhan khusus tersebut adalah faktor kebersihan melalui packaging aman untuk memenuhi aspek kesehatan. Hal tersebut diungkap oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

"Sehingga, industri makanan rumahan ini yang tumbuh terutama makanan siap saji yang dikemas. Sekarang orang lagi bukan beli makanan yang murah tapi yang sehat," ujar Teten Masduki dalam acara Peringatan Hari Pangan Dunia, Selasa (12/6/2021).

Sejak kemunculan pandemi Covid-19 di akhir tahun 2019 lalu telah mengubah pola konsumsi masyarakat global termasuk Indonesia. Salah satunya dengan prioritas konsumen untuk membeli produk makanan berkemasan agar terhindar dari risiko terpapar virus corona jenis baru itu.

"Jadi, hari pangan sedunia menjadi momen penting bagi kita semua bahwa keamanan pangan dunia adalah salah satu prioritas. Terutama pada masa pandemi Covid-19," tekannya.

Maka dari itu, dia mengajak BPOM untuk berkolaborasi membantu pelaku UMKM sektor makanan dalam menghasilkan produk yang bisa memenuhi aspek higienitas. Menyusul adanya perubahan perilaku konsumen dunia yang lebih memilih membeli produk makanan berkemasan ketimbang dengan harga miring.

"Jadi, saya kira dukungan kerja sama BPOM untuk UMKM pangan sangat menolong untuk pemulihan di tengah pandemi Covid-19 yang memang banyak di gerakan oleh tiga sektor utama yaitu makanan minuman, pemeliharaan kesehatan, dan home care," beber Teten Masduki.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Scroll down untuk melanjutkan membaca

14 Juta UMKM Sudah Go Digital

Geliat Produksi Tepung Aci di Tengah Pandemi
Perbesar
Pekerja membawa tepung aci di Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, minggu (20/6/2021). Pemerintah mengklaim hasil pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) klaster dukungan UMKM membantu mayoritas penerima manfaat dapat bertahan selama pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, jumlah usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sudah bergabung dalam platform digital mencapai 14 juta usaha. Angka ini cukup positif karena hampir setengah dari target pemerintah hingga 2023.

"Kita ini sudah 13-14 juta UMKM yang on boarding, masih ada setengahnya lagi dari target kita 30 juta UMKM di 2023," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam Acara Puncak Bangga Buatan Indonesia: Kilau Digital Permata Flobamora, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (18/6/2021).

Sejak 2020, Pemerintah Pusat ingin 30 juta dari 64 juta pelaku UMKM Indonesia bertransformasi ke sistem digital. Setelah sudah hampir setengah dari target pemerintah tersebut tercapai.

Untuk memprcepat proses on boarding, Luhut pun meminta agar Pemerintah Daerah memberikan dukungan untuk program ini. Pemda diminta ikut berkolaborasi dalam mencapai tujuan ini.

"Kami minta Pemda dan Pemerintah Pusat ini harus kolaborasi untuk dorong UMKM kita masuk (ekosistem digital) sampai 30 juta dari 64 juta yang ada di Indonesia," kata Luhut.

Luhut meminta semua kepala daerah dan pemerintah pusat untuk fokus pada target yang telah ditentukan. Berbagai pelatihan yang dibuat untuk pelaku UMKM pun diharapkan tidak hanya satu bulan. Melainkan terus berkelanjutan hingga pelaku usaha mampu berjualan dan mengembangkan bisnisnya dengan teknologi digital.

Bila diperlukan, Luhut mengizinkan dana desa digunakan untuk pelatihan digital masyarakat. Tujuannya, agar pelaku usaha bisa langsung mengakses pasar dengan teknologi. Sehingga tidak lagi menjadi target para tengkulak yang kerap membeli dengan harga murah lalu menjual produk dengan harga tinggi.

"Dana desa bisa digunakan untuk pelatuhan digital biar mereka tidak dibatasi tengkulak lagi sehingga mereka bisa masuk ke pasar tingkat nasional," kata dia.

Kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika, Luhut meminta menanam Base Transceiver Station (BTS) di sejumlah daerah. Ini menjadi penting karena sebagai tulang punggung jaringan internet dan keberhasilan program UMKM masuk ekosistm digital.

"Kami mohon gerak cepat Kominfo untuk tambah BTS di daera lainnya karena jaringan internet ini kunci keberhasilan UMKM on boarding," kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓