Miliarder Ini Dipanggil Pemerintah China Hanya Karena Posting Puisi Kuno, Kenapa?

Oleh Athika Rahma pada 20 Jun 2021, 21:15 WIB
Diperbarui 20 Jun 2021, 22:02 WIB
Bos Meituan Wang Xing.Photo: Xinhua
Perbesar
Bos Meituan Wang Xing.Photo: Xinhua

Liputan6.com, Jakarta Miliarder teknologi bernama Wang Xing mendapat panggilan dari otoritas China setelah memposting puisi kontroversial di akun media sosialnya.

Mengutip Bloomberg, Minggu (20/6/2021), Bos Meituan, perusahaan aplikasi pesan antar populer di China, ini mendapat peringatan dari otoritas China agar dirinya "tidak menarik perhatian banyak pihak".

Dalam media sosial Wang yang diketahui hanya diikuti orang tertentu, dirinya membagikan puisi kuno berusia ribuan tahun bernama Tang Dynasty Poem.

Puisi ini mengkritik pemerintahan pertama China, yang disebut membakar buku untuk membungkam para pemberontak intelek yang diduga akan menggulingkannya.

Banyak orang di media sosial menafsirkan postingannya sebagai sindiran terhadap kampanye anti-monopoli Presiden Xi Jinping.

Tindakannya ini juga memicu aksi jual saham perusahaannya selama hari dengan nilai USD 26 miliar saham.

Namun, Wang membantah dan mengatakan memposting puisi itu untuk menyindir orang-orang picik dalam bisnisnya, dengan berkata "lawan paling berbahaya sering kali tidak terduga."

Saham Meituan dikabarkan turun namun kembali naik 3,7 persen per Jumat lalu. Saat ini, pengusaha-pengusaha di China berada di bawah radar otoritas China. Setelah insiden tersebut, Wang dilaporkan tidak lagi membagikan apapun di media sosialnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Senasib dengan Alibaba

Ilustrasi Alibaba
Perbesar
Ilustrasi: Alibaba (Sumber: Ubergizmo)

Seperti Alibaba sebelumnya, Meituan sedang bergulat dengan penyelidikan oleh pengawas antimonopoli pemerintah China atas dugaan perilaku monopoli seperti eksklusivitas pedagang. Tudingan ini diperkirakan beberapa analis dapat mengakibatkan denda lebih dari USD 700 juta.

Pejabat menahan diri untuk tidak mengambil tindakan yang lebih keras terhadap Wang karena mereka tidak ingin menyampaikan kesan bahwa setiap pelanggaran kecil dapat mengakibatkan konsekuensi yang mengerikan, kata salah satu sumber. 

Insiden itu terjadi kurang dari dua bulan sebelum Partai Komunis China bersiap untuk merayakan ulang tahun ke-100 pada 1 Juli, periode yang sensitif secara politik di negara itu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓