Warga di Perbatasan NTT-Timor Leste Kini Bisa Nikmati Listrik 24 Jam

Oleh Athika Rahma pada 20 Jun 2021, 20:53 WIB
Diperbarui 20 Jun 2021, 20:53 WIB
Sebanyak 845 keluarga di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste kini dapat menikmati listrik 24 jam. Dok PLN
Perbesar
Sebanyak 845 keluarga di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste kini dapat menikmati listrik 24 jam. Dok PLN
Liputan6.com, Jakarta
Sebanyak 845 keluarga di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste kini dapat menikmati listrik 24 jam berkat peningkatan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Oepoli di Desa Netemnanu Utara, Kabupaten Kupang. 
 
General Manager PLN Unit Induk Wilayah (IUW) NTT, Agustinus Jatmiko berharap kehadiran listrik selama 24 jam dapat bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. 
 
"Hari ini, PLN bersama seluruh tim datang dan mulai mengoperasikan sistem kelistrikan Oepoli yang awalnya 12 Jam menjadi 24 Jam Penuh. Saya harap warga di Oepoli, para tokoh masyarakat, para Perangkat Desa dapat memanfaatkan energi listrik tersebut lebih produktif, sehingga perekonomian masyarakat Oepoli semakin meningkat," ucap Jatmiko dalam keterangannya, Minggu (20/6/2021). 
 
Dia mengungkapkan, untuk melistriki daerah perbatasan membutuhkan upaya yang keras. PLN harus menambah kapasitas pembangkit dengan mendatangkan 1 Unit Mesin 160 kilo Watt (kW) dan 1 unit trafo dari kota Kupang dengan waktu tempuh selama 7 jam perjalanan. 
 
"Kita ketahui, Daerah Oepoli terletak di Kecamatan Amfoang Timur yang terkenal dengan medan yang terjal dan sulit dijangkau karena harus melewati banyak sungai dan anak sungai,” jelas Jatmiko. 
 
Salah satu tokoh masyarakat Desa Netemnanu Utara, Andrea Mora bersyukur atas listrik yang dapat dinikmatinya tanpa henti sekarang. 
 
"Puji Tuhan, kami masyarakat Kecamatan Amfoang Timur mengucapkan terima kasih yang berlipat ganda karena listrik di Oepoli sudah menyala 24 Jam, kami tidak memberi apa-apa kepada PLN, tetapi kami haturkan dengan ucapan doa," tutur Mora. 
 
Hingga kini PLN terus berupaya agar seluruh wilayah NTT dapat menyala 24 jam sehingga mendorong peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat. 
 
 
 
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pasokan Listrik Jakarta

PLN Tunda Proyek Listrik Demi Penyelamatan Operasional
Perbesar
Pekerja memperbaiki kabel listrik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Banten 3 Lontar, di Kabupaten Tangerang, Rabu (29/4/2020). PLN (Persero) memutuskan untuk menunda sejumlah proyek listrik khususnya yang belum memiliki pendanaan demi penyelamatan operasional. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

PLN berhasil melakukan energize (pemberian tegangan) terhadap instalasi Extension 2 Line Bay (LB) Gas Insulated Substation (GIS) 150 kV Antasari dan Jaringan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 150 kV CSW II/Antasari – Incomer (Kemang – Duren Tiga) pada Jumat (18/6/2021).

Pengoperasian infrastruktur kelistrikan yang berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan ini akan memperkuat keandalan pasokan listrik Jakarta, terutama di wilayah Kemang, Antasari, Senayan, hingga Sudirman, serta untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik yang tinggi di Jakarta.

“Daerah ini merupakan salah satu pusat ekonomi dan aktivitas masyarakat yang terbilang sibuk, sehingga kebutuhan listrik terus meningkat. Ini yang kami upayakan untuk terus terpenuhi,” kata General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Barat (UIP JBB), Ratnasari Sjamsuddin dalam keterangannya, Minggu (20/6/2021).

Secara resmi LB GIS 150 kV Antasari Arah Durentiga #2 energize pada pukul 17.03, dan 17.06 untuk arah Kemang #2. Sedangkan SKTT 150 kV Antasari - Duren tiga #2 tercatat mulai bertegangan pada Pukul 18.17 WIB dan SKTT 150 kV Antasari - Kemang #2 pada Pukul 19.09 WIB.

Ratnasari menjelaskan, instalasi ini merupakan pekerjaan tambah dua Bay baru ke arah Duren Tiga dan ke arah Kemang dengan tipe yang sama dengan eksisting GIS 150 kV Antasari.

“Pembangunannya mempunyai tantangan tersendiri, karena membutuhkan padam busbar yang tidak boleh terlalu lama, karena melistriki daerah vital yang membutuhkan listrik prima. Sehingga pekerjaan ini hanya bisa dilakukan akhir pekan,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut dia, pekerjaan jaringan SKTT 150 kV CSW II/Antasari – Incomer (Kemang – Duren Tiga) menggunakan sistem Horizontal Directional Drilling_ (HDD) tanpa pekerjaan galian open cut, karena melintasi daerah Kemang yang sudah ditata rapi oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta.

“Target pembangunan infrastruktur memang sangat penting, namun kami upayakan tetap tidak mengganggu estetika lingkungan,” lanjut Ratnasari.

Pembangunan GIS atau Gardu Induk (GI) pasangan dalam ini memungkinkan seluruh peralatan diletakkan di dalam gedung, kecuali trafo. Sedangkan SKTT sendiri instalasinya di bawah tanah, sehingga keduanya tetap tidak mengganggu estetika.

Instalasi dan jaringan listrik ini mendapat pasokan listrik dari GIS 150 kV Duren Tiga dan GIS 150 kV Kemang. Jalur tersebut merupakan bagian dari subsistem Gandul – Cawang.

Lebih lanjut, ia berharap paska suksesnya pembangunan Instalasi dan jaringan ini, akan membuat terjaminnya mutu pelayanan terhadap pelanggan dengan minimalisir pemadaman.

“Karena pada saat kegiatan pemeliharan (maintenance), sebelumnya hanya mengandalkan satu sirkit. Dengan adanya penambahan sirkit, dapat manuver dengan mudah tanpa khawatir Gardu Induk atau trafo padam maupun sistem terganggu,” pungkasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓