Covid-19 Kembali Mengganas, Indonesia Belum Bisa Lepas dari Jurang Resesi?

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 18 Jun 2021, 18:21 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 18:21 WIB
FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memprediksi Indonesia akan keluar dari lubang resesi pada kuartal II 2021 ini dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang mulai positif di kisaran 7 persen.

Namun, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, proyeksi Indonesia bisa keluar dari jurang resesi tersebut masih terlalu optimis dan terkesan kurang introspeksi diri. Terlebih saat ini Indonesia tengah bergulat dengan temuan varian baru kasus Covid-19 yang kembali membludak.

"Ini artinya sebuah introspeksi buat kita, bukan hanya dari sisi kesehatan tapi juga dari sisi kebijakan ekonominya," ujar Faisal dalam sesi webinar, Jumat (18/6/2021).

Faisal coba berkaca pada fenomena pandemi Covid-19 di negara lain, yang mayoritas sudah mengalami second hingga third wave. Sementara Pemerintah Indonesia dengan segala kebijakannya disebutnya masih berkutat pada skenario first wave.

"Bisa dilihat di kuartal kedua ini kan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen. Skenario kita ini masih first wave, negara lain kalau kita mau belajar itu sudah second atau third wave," ungkap dia.

"Kita belum banyak melihat opsi jika bagaimana terjadi peningkatan kembali, dan ini sudah terjadi, indikasinya sudah kuat. Jadi saya rasa ini instrospeksi buat kita, terutama di antaranya kebijakan ekonomi yang ada," tegasnya.

Di satu sisi, Faisal mengapresiasi beberapa kebijakan yang diambil pemerintah untuk menahan laju penyebaran Covid-19, seperti larangan mudik lebaran 2021. Namun, ia menyoroti realisasi kebijakan larangan mudik tersebut yang tidak dibarengi dengan aturan pendukung lainnya.

"Tapi yang saya rasa lepas juga tidak dilarangnya tempat-tempat wisata. Jadi ketika kita tidak mudik kita bisa melihat pada musim lebaran tempat wisata sangat luar biasa ramai. Sehingga saya rasa kita bisa menuai apa yang dirasakan setelahnya," tuturnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Jumlah Harian Vaksinasi COVID-19 di Indonesia Dekati Angka 700 Ribu

Aturan WFH 75 Persen
Perbesar
Orang-orang menyeberang jalan dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu (16/12/2020). Pemprov DKI Jakarta akan mengikuti arahan Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 Luhut Binsar Pandjaitan terkait pengetatan work from home (WFH). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi pada Rabu, 9 Juni 2021 mengungkapkan harapannya agar jumlah orang yang menerima vaksin COVID-19 di tanah air mencapai 700 ribu jiwa per hari di bulan Juni.

Harapan tersebut disampaikan Jokowi saat mengunjungi pelaksanaan vaksinasi COVID-19 massal bagi pendidik, orang lanjut usia (lansia), dan pelayan pubik di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat.

Sehingga pada Juli 2021, lanjut Jokowi, Indonesia sudah masuk pada target vaksinasi COVID-19 sebanyak 1 juta per hari. Lantas, tercapaikah?

Saat hal tersebut ditanyakan, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, hingga Kamis, 17 Juni 2021, belum tercapai tapi terus diupayakan.

"Sedang diupayakan. Saat ini sudah sampai 640ribu per hari," kata Nadia saat dihubungi Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat.

Nadia berharap angka 700 ribu orang yang menerima vaksin Corona di Indonesia dalam sehari terjadi pada hari ini, Jumat, 18 Juni 2021.

"Kita lihat, ya," ujarnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓