Menteri ESDM: Masih Ada 433 Desa yang Belum Dapat Akses Listrik

Oleh Tira Santia pada 18 Jun 2021, 20:15 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 20:15 WIB
Listrik PLN terpasang di tambak udang yang milik petambak mandiri di Desa Adiwarna Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang Lampung. (PLN)
Perbesar
Listrik PLN terpasang di tambak udang yang milik petambak mandiri di Desa Adiwarna Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang Lampung. (PLN)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan masih terdapat 433 desa yang belum mendapatkan akses listrik. Di sisi lain ada sekitar 3.100 desa yang listriknya menggunakan lampu tenaga surya hemat energi.

“Capaian elektrifikasi nasional pada 2020 mencapai 99,2 persen meskipun dari tahun ke tahun rasio angka elektrifikasi nasional namun masih menyisakan 0,8 persen masyarakat yang belum menikmati listrik. Di sisi lain masih terdapat 433 desa yang gelap gulita sekitar 3.100 desa yang listriknya menggunakan lampu tenaga surya hemat energi,” kata Arifin Tasrif dalam Launching Program Patriot Energi, Jumat (18/6/2021).

Menurutnya, kedua hal tersebut masih perlu diupayakan untuk mendapatkan pasokan listrik yang permanen yang lebih andal dan berkesinambungan. Sehingga masyarakat bisa menikmati listrik dengan merata ke depannya.

Di samping itu, Menteri ESDM mengatakan negara-negara di dunia saat ini berfokus pada usaha untuk dapat menurunkan emisi atau net zero emisi karbon pada tahun 2050, dengan melakukan mitigasi dampak perubahan iklim global.

Sama halnya, dalam Paris agreement, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030, kemudian direvisi menjadi 41 persen berkat dukungan Internasional.

 

Karbon Netral

Indonesia juga berupaya untuk menuju karbon Netral akan mencapai di tahun 2060 atau lebih cepat.

Hingga akhir tahun 2020, capaian penurunan emisi dari sektor energi mencapai kurang lebih 64 juta ton CO2 emisi yang diperoleh dari aktivitas pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), pelaksanaan efisiensi energi, penggunaan bahan bakar rendah karbon, penggunaan teknologi pembangkit yang bersih dan kegiatan-kegiatan lainnya.

“Sementara dalam pengembangan energi baru terbarukan , bauran EBT pada tahun 2020 baru mencapai 11,2 persen, jadi dibutuhkan dua kali lipat dari kondisi saat ini untuk memenuhi target 23 persen di tahun 2025,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓