Nilai Tukar Rupiah Perkasa di Juni 2021, Naik 0,49 Persen

Oleh Andina Librianty pada 17 Jun 2021, 20:14 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 20:14 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar Rupiah menguat seiring kembali masuknya aliran modal asing dan langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada 16 Juni 2021 menguat 0,49 persen secara rerata dan 0,30 persen secara point to point dibandingkan level Mei 2021.

"Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik, seiring dengan penurunan ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi investor yang membaik terhadap prospek ekonomi domestik," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pada Kamis (17/6/2021).

Dari perkembangan tersebut, Rupiah terdepresiasi sekitar 1,32 persen (ytd) sampai dengan 16 Juni 2021 dibandingkan dengan level akhir 2020. Ini relatif lebih rendah dari negara lain di kawasan, seperti Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamental dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar," tutur dia.

Lebih lanjut, Perry mengatakan jika BI terus menjaga ketersediaan dan kualitas uang Rupiah, serta memberikan layanan kas prima di seluruh wilayah Indonesia. Untuk itu, BI mendorong efisiensi di dalam distribusi pengedaran uang di daerah 3T, termasuk melalui penguatan kelembagaan Kas Titipan.

BI mencatat, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Mei 2021 mencapai Rp 851,3 triliun, meningkat 6,6 persen (yoy) sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal pada periode Hari Raya Idulfitri 1442 H.

Rupiah Ditutup Melemah Imbas Proyeksi Inflasi di AS

Rupiah-Melemah-Tipis-Atas-Dolar
Perbesar
Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). ]. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore ditutup melemah, pasca proyeksi kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh bank sentral AS, Federal Reserve (Fed).

Rupiah ditutup melemah 117 poin atau 0,83 persen ke posisi Rp14.355 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.238 per dolar AS.

"Dolar AS melonjak setelah Federal Reserve mengajukan proyeksi untuk kenaikan suku bunga pasca pandemi pertama hingga 2023, mengutip situasi kesehatan yang membaik," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya seperti dikutip dari Antara, Kamis (17/6/2021).

Mayoritas pejabat The Fed memperkirakan setidaknya kenaikan suku bunga 50 basis poin pada 2023, namun para pejabat dalam pernyataannya berjanji untuk menjaga kebijakan tetap mendukung untuk saat ini guna mendorong pemulihan pekerjaan yang sedang berlangsung.

Proyeksi menunjukkan prospek lonjakan inflasi pada tahun ini, meskipun kenaikan harga masih digambarkan bersifat sementara. Pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan diperkirakan akan mencapai tujuh persen.

The Fed telah mengakui inflasi meningkat dan ekonomi AS memiliki banyak momentum dan hal itu menunjukkan pergeseran sikap yang jauh lebih ketat atau hawkish dalam rangkaian proyeksi tersebut.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 91,655, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 91,129.

 

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓