Konsumsi Minyak Indonesia Bakal Naik Jadi 3,9 Juta Barel per Hari di 2050

Oleh Maulandy Rizki Bayu Kencana pada 17 Jun 2021, 11:10 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 11:10 WIB
Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mematok target tinggi untuk produksi minyak dan gas (migas) di sektor hulu, yakni target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, salah satu faktor pendukung terpenting untuk mencapai target produksi migas di 2030 tersebut yakni dengan memperbaiki iklim investasi.

"Bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), SKK Migas merumuskan opsi kebijakan fiskal untuk meningkatkan iklim investasi, baik dalam jangka pendek maupun panjang," kata Dwi di acara Oil & Gas Investment Event, Kamis (17/6/2021).

Dwi menceritakan, pada 2020 lalu SKK Migas bersama pemerintah telah mengusulkan 9 paket stimulus untuk menggenjot iklim investasi hulu migas di Indonesia.

Selain itu, ia menambahkan, efisiensi proses dan persetujuan paket insentif juga menunjukkan komitmen pemerintah untuk merevitalisasi iklim investasi sektor migas di Indonesia.

Dia mencontohkan, pemerintah telah menyetujui usulan insentif fiskal yang diajukan oleh Operator Blok Mahakam, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Menurutnya, itu merupakan paket insentif pertama yang diberikan kepada blok migas di Indonesia dalam tahap produksi.

"Persetujuan paket insentif ini akan memungkinkan PHM untuk mengeksekusi proyek-proyek pengembangan yang tertunda dan memaksimalkan pemulihan sumber daya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Dwi memaparkan, berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), konsumsi minyak Indonesia akan meningkat lebih dari 130 persen dari saat ini 1,6 Juta BOPD menjadi 3,9 Juta BOPD pada 2050.

Selain itu, konsumsi gas juga akan meningkat di atas 290 persen dari sekitar 6 miliar standar kaki kubik gas menjadi sekitar 26 miliar standar kaki kubik gas pada 2050.

"Di sisi lain, Indonesia masih memiliki banyak prospek migas. Dari 128 cekungan, produksi hanya berasal dari 20 cekungan dan masih ada 68 cekungan yang belum tereksplorasi secara penuh," tuturnya.

Negara Dapat Rp 78,2 Triliun dari Kegiatan Produksi Migas

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak Dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, kegiatan produksi migas menyetor sebesar USD5,5 miliar atau setara Rp 78,2 triliun ke negara sampai Mei 2021.

Sekretaris SKK Migas Taslim Yunus mengatakan, setoran tersebut 76,2 persen dari target penerimaan yang ditetapkan dalam APBN 2021 sebesar USD7,28 Miliar.

Untuk menjaga penerimaan negara tetap maksimal, SKK Migas meminta agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) segera meningkatkan investasi, memanfaatkan harga minyak yang naik seperti saat ini.

Selain itu SKK Migas juga mengharapkan insentif hulu migas segera diberikan sehingga momentum yang baik untuk meningkatan investasi ini dapat dimaksimalkan.

“Kita bersyukur karena harga minyak saat ini semakin meningkat, saat ini sekitar USD73 per barel, dan Indonesia Crude Price (ICP) sekitar USD68 per barel," kata Taslim, di Jakarta, Rabu (16/7/2021).

Taslim pun berharap, harga yang tinggi ini bisa mendorong KKKS meningkatkan kegiatan investasinya, antara lain dengan segera merealisasikan proyek-proyek yang sebelumnya ditinggalkan karena memiliki keekonomian pada harga USD50 atau USD60 per barel

Peningkatan kegiatan minimal akan tercermin dalam pembahasan-pembahasan Work, Program and Budget (WP&B) yang akan segera dilakukan SKK Migas dengan KKKS pada bulan Juli hingga September 2021.

“Pak Kepala sudah memberi arahan, kami akan segera mengirimkan surat edaran kepada KKKS agar mereka segera meningkatkan investasi pada tahun 2022. Syukur kalau kegiatan bisa ditingkatkan mulai tahun 2021 ini,” tambahnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓