Impor Indonesia Turun 12,16 Persen di Mei 2021, Terbesar untuk Produk Kelistrikan

Oleh Athika Rahma pada 15 Jun 2021, 12:35 WIB
Diperbarui 15 Jun 2021, 12:50 WIB
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Pelindo III Permudah Proses Ekspor Impor
Perbesar
(Foto:@Pelindo III)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai impor Indonesia tercatat mengalami penurunan menjadi USD 14,23 miliar pada Mei dari USD 16,2 miliar pada April 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, penurunan impor mencapai 12,16 secara bulanan diakibatkan adanya penurunan impor non migas sebesar 14,16 persen.

"Sementara itu, impor migas tercatat masih naik 1,9 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Selasa (15/6/2021).

Suhariyanto melanjutkan, secara tahunan, impor melonjak hingga 66,68 persen. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan impor migas hingga 213,6 persen dan non migas 56,4 persen secara tahunan.

Nilai impor bulan ini terdiri atas impor konsumsi sebesar USD 1,4 miliar, bahan baku/penolong sebesar USD 10,94 miliar, dan barang modal sebesar USD 1,89 miliar.

Dilihat dari sisi penggunaan barang, impor bahan baku/penolong berkontribusi 76,88 persen, sementara impor barang modal 13,25 persen dan konsumsi 9,87 persen.

"Peningkatan impor yang terbesar terjadi pada HS 26 yaitu bijih, terak, dan abu logam sebesar USD 140 juta. Kemudian untuk buah-buahan HS 03 sebesar USD 14,5 juta," ujarnya.

Sementara, penurunan impor terbesar terjadi pada mesin dan perlengkapan elektrik sebesar (HS 85) USD 422,1 juta, diikuti plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar USD 183,3 juta, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar USD 150,8 juta, logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) sebesar USD 149,3 juta dan gula dan kembang gula (HS 18) sebesar USD 117,2 juta.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Impor Alkes Rp 12,5 Triliun, Luhut: 5 Kali Lebih Besar dari Produk Dalam Negeri

Beragam Teknologi Baru Pengendalian Epidemi Dipamerkan CIIE 2020
Perbesar
Mesin ECMO generasi terbaru dari Medtronic di area ekshibisi Peralatan Medis dan Produk Kesehatan dalam Pameran Impor Internasional China (CIIE) ketiga di Shanghai, 5 November 2020. Berbagai teknologi blockbuster dan mutakhir terkait pencegahan dan pengendalian epidemi dipamerkan. (Xinhua/Liu Ying)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan penyerapan produk alat kesehatan dalam negeri masih rendah jika dibandingkan produk impor. Tercatat  hingga Juni 2021, pemesanan alkes dalam negeri Rp 2,9 triliun, sedangkan alkes impor Rp 12,5 triliun.

“Kami melihat serapan belanja pemerintah untuk produk dalam negeri cukup rendah dibandingkan impor khususnya belanja alat kesehatan. Untuk tahun anggaran 2021, jumlah pesan Alkes impor 5 kali lebih besar senilai  Rp 12,5 triliun melalui e-katalog,” kata Menkomarves Luhut, dalam konferensi Pers Upaya Peningkatan Penggunaan PDN Bidang Alat Kesehatan, Selasa (15/6/2021).

Menurutnya, diperlukan aksi afirmatif oleh pemerintah untuk meningkatkan belanja alkes dalam negeri minimal sebesar Rp6,5 triliun untuk 5.462 barang untuk tahun anggaran 2021, dilakukan melalui e-katalog . Selain itu perlu peningkatan kapasitas produksi Alkes dalam negeri dan investasi di bidang alkes.

“Kemarin kami dua minggu lalu dengan Menteri Budi pergi ke Korea dan kemarin saya ke Tiongkok dengan wakil menteri kesehatan juga melihat betapa banyaknya kita mengimpor alat yang ternyata bisa kita produksi dalam negeri,” ujarnya.

Bahkan Presiden Jokowi pun sudah memberikan arahan ke Menteri Kesehatan, Menteri BUMN dan dirinya, agar lebih banyak lagi produksi alkes dalam negeri dengan mengundang investor-investor ke Indonesia. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penyerapan Produk Alkes Dalam Negeri

Tes Usap Pasca Libur Lebaran
Perbesar
Petugas medis menguji sampel pada alat tes usap antigen di pusat perbelanjaan kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (27/05/2021). Pasca libur lebaran, Forkopimda Kabupaten Bekasi melakukan swab tes antigen kepada 202 pedagang guna mencegah penyebaran COVID-19. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Meskipun saat ini penyerapan produk alkes masih rendah di dalam negeri, namun dari 358 jenis alkes yang sudah di produksi di dalam negeri, 79 jenis alkes sudah mampu mensubstitusi atau menggantikan produk impor untuk kebutuhan nasional.

“Oleh karena itu seperti yang dilihat ini kemampuan alat produksi alat kesehatan dalam negeri seperti itu, saya kira sudah mau mulai langkah bagus. Jadi bangga buatan Indonesia ini sudah kita mulai maksud dengan ini,” ujarnya.

Menurut Luhut, terdapat 5.462 alkes impor yang sudah tersubstitusi produk dalam negeri sejenis dan akan dialihkan untuk belanja produk dalam negeri di e-katalog. Dia meyakini bahwa produsen dalam negeri mampu memproduksi alkes sesuai dengan kebutuhan Pemerintah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓