Sri Mulyani Waspadai Dampak Lonjakan Kasus Covid-19 Terhadap Stabilitas Ekonomi Kuartal II

Oleh Athika Rahma pada 14 Jun 2021, 12:15 WIB
Diperbarui 14 Jun 2021, 12:15 WIB
Sri Mulyani Rapat dengan Komisi XI DPR Bahas Pagu Indikatif Kemenkeu
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) mengikuti rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Rapat tersebut membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 terhadap stabilitas ekonomi terutama pada angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021.

Secara global, lanjutnya, lonjakan kasus Covid-19 terjadi di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam hingga Thailand, imbas adanya ledakan kasus Covid-19 di India. Sementara di Indonesia, selain pengaruh global, kenaikan kasus juga disebabkan meningkatkan mobilitas masyarakat pada masa Lebaran.

"Kalau kita lihat lonjakannya cukup besar. Pada Juni ini harus diwaspadai karena bulan Juni ini bulan akhir triwulan ke II. Jadi nanti pasti akan terpengaruh terhadap penilaian stabilitas ekonomi triwulanan," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (14/6/2021).

Kenaikan kasus awalnya terjadi di beberapa daerah di luar pulau Jawa seperti di Riau, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Namun sekarang, pola penyebarannya sudah masuk ke pulau Jawa, seperti Jawa Tengah.

"Tidak hanya di Kudus tapi di beberapa kota, di DKI Jakarta, Wisma Atlet kemarin bed occupancy ratio-nya dari 16 persen ke 29 persen, lalu ke 33 persen terakhir saya lapor, dan sekarang 80 persen jadi kenaikan luar biasa," ujarnya.

Sri Mulyani menjelaskan, pemulihan ekonomi di Indonesia terlihat saat penanganan Covid-19 terlaksana dengan baik. Contohnya, saat terjadi lonjakan kasus setelah masa libur natal dan tahun baru di bulan Maret, pemerintah melakukan pengetatan penanganan Covid-19.

Setelah mengalami pengetatan, jumlah kasus perlahan menurun. Ditambah, pemerintah menggelontorkan beragam stimulus, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat kembali hidup.

Hal itu tercermin dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di bulan April dan Mei dimana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), indeks penjualan ritel meningkat dan penjualan mobil meningkat.

"Begitu Covid-19 bisa ditangani,, maka aktivitas meningkat dan aktivitas ekonomi mulai menggeliat. Namun sekali lagi, dengan munculnya Covid-19 di bulan Juni, kita harus waspada," tandas Sri Mulyani.

Tempat Tidur COVID-19 RSDC Wisma Atlet Naik, Kini Terisi 75,19 Persen

FOTO: Nakes dan Pasien COVID-19 Main Angklung Peringati 1 Tahun RSDC Wisma Atlet
Perbesar
Sejumlah tenaga kesehatan memainkan angklung di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (23/3/2021). Acara tersebut dilakukan dalam rangka satu tahun beroperasinya RSDC Wisma Atlet Kemayoran. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, keterisian tempat tidur COVID-19 RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta naik, kini sudah terisi 75,19 persen. Kenaikan keterisian tempat tidur COVID-19 ini terjadi sejak pasca Idulfitri 2021.

Dalam Rapat Koordinasi Satgas Nasional, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, terjadi kenaikan keterisian tempat tidur di RSDC Wisma Atlet mencapai 60 persen.

"Angka keterisian di RSDC Wisma Atlet, kalau kita lihat ada beberapa puncak dalam waktu kurun waktu akhir 1 Desember 2020 sampai dengan saat ini. Puncaknya pada saat itu, keterisian mencapai 88,63 persen," jelas Dewi pada Minggu, 13 Juni 2021.

"Kemudian di akhir Januari 2021 masih di angka 84 persen, sempat turun, naik lagi di Februari pada angka 79 persen. Saat ini, kalau kita melihat data, ternyata ada kenaikan mulai naik pada tanggal 19 Mei 2021 atau sekitar satu pekan setelah libur Idulfitri."

Tren keterisian tempat tidur COVID-19 RSDC Wisma Atlet terus meningkat hingga 12 Juni menjadi 75,19 persen.

"Angka ini dalam rentang waktu 25 hari. Kita melihat ada kenaikan absolut cukup signifikan di angka 60,17 persen," terang Dewi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓