Jokowi: Indonesia Sudah Ekspor Kereta ke Bangladesh dan Filipina, Kita Harap LRT Juga

Oleh Liputan6.com pada 09 Jun 2021, 13:30 WIB
Diperbarui 09 Jun 2021, 13:30 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkembangan proyek lintas rel terpadu (LRT) Jabodebek pada Rabu, 9 Juni 2021
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkembangan proyek lintas rel terpadu (LRT) Jabodebek pada Rabu, 9 Juni 2021

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjajal lintas rel terpadu (LRT) Jabodebek pada Rabu pagi ini. Dalam tinjauan ini ia ingin agar pproduk-produk anak bangsa bisa juga merajai pasar ekspor.

Tinjauan Jokowi dimulai di Stasiun LRT Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, dengan dipandu oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Zulfikri.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi beserta rombongan menjajal jalur lintas pelayanan 1 LRT yang membentang dari Stasiun TMII (Jakarta Timur) hingga Stasiun Harjamukti (Cibubur).

"Tadi kita mencoba keretanya. Halus, nyaman, kecepatannya baik, dapat dikatakan tanpa suara. Nyaman sekali," tuturnya, Rabu (9/6/2021).

Sejumlah stasiun LRT Jabodebek nantinya akan terintegrasi dengan moda angkutan transportasi umum lainnya seperti TransJakarta, commuterline, MRT, hingga yang terbaru kereta cepat Jakarta-Bandung. Integrasi antarmoda transportasi itu diharapkan dapat mengefisiensikan waktu mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Kenapa LRT ini kita bangun? Kita ingin membangun transportasi massal yang terintegrasi MRT, LRT, kereta bandara, bus trans-Jakarta, semua terintegrasi sehingga terjadi efisiensi mobilitas orang dari satu titik ke titik yang lain," ucap Jokowi.

Selain itu, Kepala Negara mengatakan bahwa pengalaman dalam pembangunan moda transportasi seperti LRT ini nantinya akan sangat bermanfaat dalam memajukan industri lokal.

Kereta LRT yang digunakan dalam proyek ini diketahui dibangun oleh PT INKA, di mana konstruksi jalur dilakukan oleh PT Adhi Karya, dan pengoperasiannya oleh PT Kereta Api Indonesia yang semuanya merupakan tenaga dan perusahaan dalam negeri. Hal ini menjadi modal dan fondasi anak bangsa untuk membangun LRT atau bahkan moda transportasi lainnya di negara-negara lain.

"Sekarang kan kita sudah ekspor kereta ke Bangladesh, Filipina, dan kita harapkan LRT juga akan seperti itu," tandasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Beroperasi di 2022, Akses Jalan Menuju LRT Jabodebek Harus Segara Dibangun

Progres Pembangunan Kereta LRT Jabodebek
Perbesar
Rangkaian gerbong kereta LRT Jabodebek parkir di dekat stasiun LRT Harjamukti, Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (26/3/2021). Progres pembangunan fase 1 LRT Jabodebek ditargetkan untuk beroperasi pada bulan Juli 2022 dengan 18 stasiun pemberhentian. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sebelumnya, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyarankan agar Pemerintah segera membangun akses jaringan jalan menuju ke setiap stasiun yang berada di luar kota Jakarta, sebelum LRT Jabodebek dioperasikan.

LRT Jabodebek jangan mengulangi kesalahan di Palembang, yang minim masa uji cobanya. Jangan diabaikan akses ke setiap stasiun yang belum selesai dibangun. Harus segera membangun akses jaringan jalan menuju ke setiap stasiun yang berada di luar Kota Jakarta,” kata Djoko kepada Liputan6.com, Rabu (9/6/2021).

Selanjutnya, Djoko juga menyarankan agar Pemerintah menyediakan angkutan penghubung antara kawasan pemukiman ke stasiun terdekat.

Kata Djoko, pada tahun 2020, PT KAI sudah melakukan kajian itu. Maka pentingnya ada jaringan transportasi umum dan integrasi moda di sepanjang koridor LRT Jabodebek.

Di satu sisi, Djoko memprediksi potensi alih moda kendaraan pribadi ke LRT Jabodebek adalah sebanyak 81 persen, lantaran pengguna kendaraan pribadi ingin mencoba beralih menggunakan LRT. Alasannya waktu tempuh yang lebih singkat dan biaya perjalanan yang jauh lebih murah dibandingkan tol.

“Potensi alih moda kendaraan umum ke LRT Jabodebek sebanyak 74 persen pengguna angkutan umum ingin mencoba beralih menggunakan LRT. Alasannya waktu tempuh yang lebih singkat dan tempat kegiatan mereka dekat dengan stasiun LRT,” ujarnya.

Menurutnya, variabel aksesibilitas yang menjadi prioritas pengguna LRT Jabodebek adalah kemudahan angkutan umum ke/dari stasiun LRT, dekat pusat komersial/perkantoran, tersedia fasilitas parkir, dekat pemukiman, dekat jalan utama, akses jalan masuk stasiun lebar, feeder dari stasiun LRT yang diharapkan oleh pengguna LRT Jabodebek, bus, angkot, angkutan daring, dan Bus Transjakarta.

“Bagi warga Bogor dapat menggunakan LRT Jabodebek setelah disediakan transportasi umum yang menghubungkan Terminal Baranangsiang ke Stasiun Harjamukti. Sayangnya tahun ini belum dapat dilakukan, terganjal dengan penolakan Pemkab. Bogor terhadap Program BTS yang diselenggarakan BPTJ,” pungkasnya.   

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya