Harga Minyak Melemah, Investor Menunggu Pembicaraan Nuklir Iran

Oleh Andina Librianty pada 08 Jun 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 08 Jun 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
harga minyak mentah Brent mencapai USD 72,27 per barel, tertinggi sejak Mei 2019, tetapi kemudian turun 40 sen. (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), setelah menyentuh level tertinggi dalam 2 tahun karena ekspektasi peningkatan permintaan dan pembatasan pasokan OPEC.

Harga minyak melemah di sesi awal perdagangan setelah data China menunjukkan bahwa impor minyak mentah China pada bulan Mei turun ke level terendah dalam satu tahun.

“Data impor China menghilangkan antusiasme pelaku pasar yang sebelumnya memberikan sentimen bullish,” kata analis senior Price Futures Group Chicago, Phil Flynn.

“Meskipun sentimen itu hanya sementara, tetapi data tersebut sudah membuat aksi ambil untung.” tambah dia.

Mengutip CNBC, Selasa (8/6/2021), harga minyak mentah Brent mencapai USD 72,27 per barel, tertinggi sejak Mei 2019, tetapi kemudian turun 40 sen ke level USD 71,49 per barel.

Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate AS menyentuh USD 70 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2018, tetapi kemudian turun 39 sen atau 0,56 persen ke level USD 69,23 per barel.

Analis Phillips Futures Singapura Avtar Sandu mengatakan, investor kemungkinan besar telah melakukan aksi jual beberapa kontrak ketika harga minyak WTI mencapai level USD 70 per barel. Para investor menggunakan angka bulat itu sebagai peluang untuk mengambil keuntungan.

Harga minyak mentah telah naik selama dua minggu terakhir, dengan Brent naik 38 persen di tahun ini dan WTI telah naik 43 persen di tahun ini. Kenaikan harga minyak dibantu oleh awal pemulihan dari gangguan permintaan terkait pandemi serta pembatasan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu (OPEC+).

OPEC+ telah mendorong harga minyak dengan tetap menahan pembatasan pasokan hingga Juli. Pada hari Senin, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan OPEC+ memperkirakan persediaan akan turun lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Analis memperkirakan harga minyak akan tetap terombang-ambing dengan pelemahanyang singkat. Hal ini menyusul meningkatnya permintaan global setelah Amerika Serikat dan Eropa melonggarkan pembatasan COVID-19. Sementara India telah mulai melonggarkan penguncian.

 

Kesepakatan Nuklir Iran

Ilustrasi nuklir Iran
Perbesar
Ilustrasi nuklir Iran (AFP)

kesepakatan nuklir antara AS dengan Iran diprediksi akan mendorong harga energi termasuk harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Dalam riset Goldman Sanchs, hal ini akan mendorong banyak negara prosuden minyak meningkatkan pasokan.

Saat ini tengah terjadi pembicaraan di Wina antara Iran dan enam kekuatan dunia yaitu AS, China, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman. Iran dan enam negara ini mencoba menyelamatkan kesepakatan penting yang telah dibuat pada 2015.

Para pejabat mengatakan ada kemajuan, tetapi masih belum jelas kapan negosiasi bisa selesai dan harga minyak telah naik sebagai hasilnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓