4 Smelter Bakal Beroperasi Tahun Ini, Apa Saja?

Oleh Athika Rahma pada 07 Jun 2021, 17:30 WIB
Diperbarui 07 Jun 2021, 17:30 WIB
Smelter PT Antam Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Dok Foto: Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono)
Perbesar
Smelter PT Antam Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Dok Foto: Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian ESDM menargetkan 4 fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter bakal segera beroperasi tahun ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, 4 smelter tambahan ini terdiri dari 3 smelter nikel dan 1 smelter timah. Sebelumnya, jumlah smelter yang beroperasi ialah 19 smelter.

"Tahun 2021 ini, ditargetkan ada 23 smelter, dengan tambahan 4 smelter di 2021 yaitu 3 smelter nikel dan 1 smelter timah," ujar Ridwan dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (7/6/2021).

Secara rinci, 4 smelter baru ini meliputi smelter feronikel PT Aneka Tambang (Antam) di Halmahera Timur, Maluku Utara. Progresnya sudah mencapai 97,7 persen, namun masih ada kendala pasokan listrik.

"Tadi saya dapat informasi dari direksi Antam, sudah dilaksanakan lelang mudah-mudahan, bulan Juli instalasi listrik selesai," ujarnya.

Selanjutnya ialah smelter nikel milik PT Smelter Nikel Indonesia yang bangunannya sudah selesai 100 persen dan sudah melakukan uji coba produksi. Kendati, kegiatannya terhenti sementara karena menunggu tambahan dana operasional.

Kemudian, smelter nikel milik PT Cahaya Modern Metal Industri di Banten yang konstruksinya sudah mencapai 100 persen dan sudah mulai produksi.

Terakhir, ialah smelter milik PT Kapuas Prima Citra di Kalimantan Tengah. "Ini sudah 99,87 persen, tinggal menunggu tenaga ahli dari Tiongkok untuk memulai proses smelter. Rencananya datang bulan Juni ini," papar Ridwan.

Menteri Investasi Targetkan Pembangunan Smelter di Papua Bisa Jalan Akhir Mei 202

Tambang PT Freeport Indonesia di Papua. Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P
Perbesar
Tambang PT Freeport Indonesia di Papua. Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menargetkan proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Papua bisa mulai berjalan per akhir Mei 2021.

Bahlil mengatakan, pemerintah telah mendapatkan investor untuk pembangunan smelter Papua tersebut. Dia juga memproyeksikan, pemerintah sudah bisa melakukan langkah-langkah peninjauan lapangan pada Juni 2021.

"Kemudian Insya Allah kita targetkan, mudah-mudahan, doain ya, di akhir bulan ini kami sudah bisa running atau paling lambat di 2022 awal sudah bisa jalan," ujar Bahlil dalam sesi teleconference, Jumat (28/5/2021).

Kementerian Investasi/BKPM disebutnya tengah erat menjalin komunikasi dengan MIND ID, PT Freeport Indonesia dan Kementerian ESDM untuk pembangunan smelter baru di Papua tersebut.

"Kami juga sudah melakukan kerjasama, komunikasi intens dengan MIND ID, PT Freeport dan Kementerian ESDM, dimana MoU-nya sudah diteken antara investor dengan pemerintah," terangnya.

Sebelum bertransformasi menjadi Kementerian Investasi, BKPM pada 12 April 2021 lalu telah menandatangani kerjasama dengan BUMN asal China Engineering Corporation (ENFI) untuk menggarap proyek smelter di Papua.

Proyek smelter tembaga ini rencananya akan dibangun di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, untuk nantinya dimanfaatkan dalam mengolah hasil tambang milik PT Freeport Indonesia di Papua.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓