Berawal dari Bantu Orangtua, Nasabah Setia BRI Gusmiwati Kini Sukses Bangun Bisnis Bahan Bangunan

Oleh Tira Santia pada 02 Jun 2021, 20:30 WIB
Diperbarui 03 Jun 2021, 08:17 WIB
Gusmiwati, pengusaha toko bangunan nasabah BRI asal Lubuk Linggau, Sumatera Barat. Foto: Dok Pribadi
Perbesar
Gusmiwati, pengusaha toko bangunan nasabah BRI asal Lubuk Begalung, Sumatera Barat. Foto: Dok Pribadi

Liputan6.com, Jakarta Bakat berdagang sepertinya mengalir pada diri Gusmiwati, perempuan berusia 50 tahun asal Lubuk Begalung, Padang. Dia memberanikan diri memulai usaha toko bahan bangunan pada 2010, belajar dari orang tua.

Tak sia-sia, bermodal Rp 10 juta, kini dia mampu meraih omset hingga ratusan juta per bulan dari usaha toko bangunan tersebut.

“Alasan saya membuka toko bangunan karena ada bakat turunan dari orangtua saya, karena dari kecil saya suka ikut berdagang dengan orangtua yang dulu jualan beras saya sering bantu-bantu,” kata Guwmiwati kepada Liputan6.com, Kamis (2/6/2021).

Setelah beberapa usahanya berjalan, dia pun memberanikan diri mencari modal tambahan. Mengingat sudah menjadi nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk atau BRI sejak 2004 silam, dia pun memberanikan diri meminjam modal usaha ke bank BUMN ini sebesar Rp 1 miliar pada tahun 2012.

Modal tersebut yang digunakan untuk mengembangkan usaha toko bangunannya. "Sekarang pinjaman saya menambah jadi Rp 3,5 miliar untuk terus mengembangkan usaha,” ujarnya.

Selama pandemi covid-19, usaha toko bangunan Gusmiwati ikutan terdampak. Hanya saja tidak signifikan seperti bidang usaha lainnya.

Katanya, pendapatan toko bangunan miliknya sempat turun 30-40 persen namun kini sudah kembali normal. “Selama pandemi ini pengaruhnya ada tapi tidak terlalu hanya sekitar 30-40 persen saja,” imbuhnya.

Dia mengaku jika saat merintis usaha mengalami suka dan duka. Dirinya merasa senang adalah saat penjualan bahan baku bangunan cepat habis dan dia bisa segera belanja kembali.

Hal tidak mengenakkan baginya, terkadang barang yang dipesan pembeli ada yang rusak dalam proses pengiriman sehingga harus diganti.

Manajeman yang baik dan kegigihan membuat usaha Gusmiwati terus membesar. Dalam sebulan dia mampu memperoleh omset hingga Rp 500 juta per bulan. 

Besarnya omzet diadapat karena pelanggan pembeli toko bangunannya banyak yang berasal dari luar Padang. 

Gusmiwati mempekerjakan sekitar 30 karyawan warga sekitar untuk membantu. 13 orang diantaranya merupakan perempuan yang bekerja di bagian administrasi, penjualan, dan pergudangan.

 

 

Hasil Jerih Payah

Nasabah BRI
Perbesar
Gusmiwati, pengusaha toko bangunan nasabah BRI asal Lubuk Begalung, Sumatera Barat dan RM BRI Vera Utami. Foto: Dok Pribadi

Dia mengakui bisnisnya bisa berkembang tak terlepas dari bantuan BRI. Semenjak menjadi nasabah dia sering mengajukan pinjaman modal kerja dan tak kesulitan mendapatkannya.

Dikatakan jika semua proses pengajuan dan pencairan pinjaman dari BRI terbilang cepat. Dalam membayar angsuran pun Gusmiwati mengaku selalu tepat waktu.

Alhamdulillah cepat kalau mengajukan tambahan modal usaha. Saya selalu tepat waktu bayar angsuran, karena dalam rekening dana saya stand by jadi orang BRI tidak perlu telpon saya, tapi dana di rekening langsung ke ambil,” ungkapnya.

Dari bisnisnya Gusmiwati bisa menikmati hasil. Tak hanya bagi dirinya juga keluarga. Dia mampu membeli tanah dan aset lain untuk tabungan masa depan anak-anaknya.

Alhamduillah saya sudah beli tanah dan aset yang lain, berkat BRI usaha saya jadi maju. Anak saya 3, dua anak saya yang kuliah terbantu pendidikan anak saya karena usaha semakin maju. Kedepannya saya memang mau buka usaha lagi, karena salah satu anak saya sudah mau selesai kuliah, dan tempat buat usahanya pun sudah dipersiapkan untuk anak saya nanti,” ungkap dia.

Cerita RM BRI Vera Utami

Salah satu yang ikut membantu usaha Gusmiwati berkembang adalah Vera Utami. Perempuan berusia  41 tahun ini, sudah hampir 15 tahun mendedikasikan dirinya di BRI sebagai Relations Manager BRI KC Padang. Tepatnya, dia mulai bergabung dengan BRI pada 2006.

Dia menceritakan ketika di tahun pertama hingga tahun kedua bekerja, Vera sempat mengalami kesulitan, lantaran belum beradaptasi dengan baik dengan pekerjaannya.

Namun semua kini bisa terlewati. “Namanya kesulitan pasti ada, cumankan karena ini sudah hampir 15 tahun jadi saya sudah tahu mau ngapain aja. Mungkin kesulitannya itu di tahun pertama dan kedua saat awal masuk bekerja, karena saya waktu itu belum paham seluruhnya lantaran masih baru,” kata Vera.

Saat ini Vera mengelola 38 debitur dengan total jumlah pinjaman sebanyak Rp 65 miliar. Vera menilai dari semua debitur yang dikelola semuanya kooperatif tidak ada yang menyulitkan. Namun tetap saja, tugasnya sebagai RM terus memantau perkembangan angsuran kredit para debitur.

“Mungkin karena pendekatan saya sebagai perempuan mereka lebih nyaman, karena saya selalu mendengarkan cerita mereka kalau lagi ada masalah. Jadi saya berusaha sebisa mungkin untuk melihat kondisi usaha mereka minimal 1 bulan sekali ngobrol atau mampir langsung,” ungkap Vera.

Vera bilang sebagian besar debiturnya banyak usaha perdagangan, misalnya toko bahan bangunan dan lainnya. Selain itu juga ada debitur yang membuka usaha jasa angkutan, dan peternakan.

Sejauh ini dari 38 debitur tidak ada yang macet bayar angsuran pinjaman. Hanya saja sebagian dari mereka ada yang usahanya terdampak pandemi covid-19 sehingga pendapatan menurun.

Terkait ini, BRI memberikan restrukturisasi untuk meringankan debitur sekaligus agar usaha mereka tetap bertahan di tengah pandemi.

“Kalau macet sampai saat ini belum ada, cuman kalau kondisinya menurun ada apalagi sejak pandemi. Cuman di BRI itu ada treatmentnya, misalnya untuk nasabah yang usahanya menurun kita berikan restruk agar usahanya tetap jalan,” ujarnya.

Vera mengaku jika Gusmiwati merupakan salah satu debitur yang loyal kepada BRI, dimana untuk transaksi keuangannya sebagian besar melalui BRI. Selain itu dia merupakan debitur yang kooperatif.(*) 

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓