Sukses

Bos Bulog Bantah Kirim Bantuan Beras Tak Layak Konsumsi ke Indonesia Timur

Komisi IV DPR RI mempertanyakan kebenaran beras tidak layak konsumsi dari Bulog yang dibagikan dalam rangka bantuan sosial dari pemerintah.

Liputan6.com, Jakarta - Komisi IV DPR RI mempertanyakan kebenaran beras tidak layak konsumsi dari Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dibagikan dalam rangka bantuan sosial dari pemerintah.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi IV DPR, Anggia Ermarini kepada Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog.

"Banyak informasi yang kami terima, beras yang diterima masyarakat ini sudah tidak layak dikonsumsi," kata Anggia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog, Jakarta, Selasa (18/5).

Semula, kata Anggia, beras tersebut banyak diterima masyarakat ibukota yang mendapatkan bantuan sosial. Namun beras tersebut kini ditemukan di Indonesia bagian timur yang juga mendapatkan bantuan sosial.

"Banyak info ini katanya dikirim ke Indonesia bagian timur. Apa memang beras yang tidak layak ini hanya untuk dimakan masyarakat Indonesia timur," kata dia.

Menanggapi itu, Buwas alias Budi Waseso menjelaskan beras yang disalurkan kepada masyarakat tersebut bukanlah beras yang tidak layak konsumsi. Hanya saja beras yang disalurkan merupakan cadangan pemerintah yang terdahulu.

Beras impor tersebut disimpan Bulog di tiga pelabuhan yakni Jakarta, Jawa Timur dan Medan. Selain itu ada juga beras yang dikirim dari Padang. Dia mengatakan beras dari Sumatera Barat ini memang jenisnya pera.

Ini menyesuaikan dengan selera masyarakat di Padang yang lebih menyukai beras pera. Namun karena kebutuhan di Padang sudah cukup banyak, maka beras ini disalurkan kepada masyarakat di Indonesia Timur.

"Beras pera ini dikonsumsi di Padang tapi karena sudah cukup kebutuhannya makanya ini diamankan buat digeser, salah satuya buat masyarakat di wilayah timur," kata dia.

Untuk itu dia menegaskan beras yang disalurkan Bulog untuk masyarakat di Indonesia timur bukanlah beras yang tidak layak konsumsi. Melainkan beras dengan jenis pera hasil impor beras beberapa waktu lalu.

"Jadi bukan berarti berasnya tidak layak," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Bos Bulog: Sampai Akhir 2021 Tak Ada Impor Beras

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso memastikan tidak akan ada impor beras hingga akhir tahun 2021. Alasannya cadangan beras pemerintah (CBP) sudah terpenuhi.

"Sampai akhir tahun ini Bulog tidak akan impor beras dari luar negeri karena kebutuhan CBP ini sudah terpenuhi," kata Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog, Jakarta, Selasa (18/5).

Buwas, sapaannya menjelaskan, sampai akhir bulan Mei 2021, cadangan beras bulog mencapai 1,5 juta ton. Penyerapan beras dari petani pun masih berlanjut hingga bulan Juni mendatang.

"Bulog ini punya stok yang mendekati 1,5 juta ton sampai bulan ini. Kita masih mungkin serap sampai Juni dan bulan Mei ini masih bisa bertambah," tuturnya.

Selain itu, pada bulan Agustus dan September, masih ada ada panen padi gadu di sejumlah wilayah. Sehingga dia memastikan cadangan beras sampai akhir tahun ini masih aman.

"Agustus, September ini akan ada panen gadu, jadi CBP ini sudah terpenuhi. Jadi kita bisa jamin sampai akhir tahun tidak ada impor beras," kata dia.

Sebagai informasi, padi gadu merupakan padi yang dipanen pada musim kemarau. Penanaman padi gadu sering mengalami kekurangan air pada fase primordia yakni pada bulan Juni dan Juli.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com 

3 dari 3 halaman

Bulog Proyeksikan Stok Beras Capai 1,4 Juta Ton hingga Akhir 2021

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) memperkirakan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog bakal mencapai 1,4 juta ton hingga Juni 2021.

Stok ini dihitung dari sisa cadangan tahun lalu sebesar 800 ribu ton, dan penyerapan hingga Mei 2021 yang diprediksi mencapai 600 ribu ton.

Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal memprediksi, stok cadangan beras sebesar 1,4 juta ton juga dapat tercapai hingga akhir tahun ini. Proyeksi itu keluar sesuai dengan perhitungan penyerapan per bulan dan prediksi musim panen yang telah disusun Perum Bulog.

"Total kan target 1,4 juta ton satu tahun. Bukan target sebenarnya, lebih kepada proyeksi untuk estimasi penyerapan kita itu 1,4 juta ton selama satu periode tahun," ujar Iqbal kepada Liputan6.com, Sabtu (24/4/2021).

Secara estimasi, Iqbal menjelaskan, Bulog memang memiliki penugasan untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah di kisaran 1-1,5 juta ton. Kebijakan ini telah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) pada 2018 lalu.

Pasca musim panen tahun ini berakhir, dia memastikan Bulog akan terus menyalurkan beras ke hilir sehingga ketersediaannya di pasar domestik tetap tercukupi. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.