Okupansi Tak Sampai 20 Persen, Libur Lebaran Gagal Kerek Bisnis Hotel di Daerah

Oleh Liputan6.com pada 17 Mei 2021, 12:40 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 12:40 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi tempat tidur di kamar hotel. (dok. pexels.com/Engin Akyurt)

Liputan6.com, Jakarta - Libur Idulfitri 1442 H tidak memberikan efek besar terhadap tingkat okupansi atau hunian hotel di Indonesia. Bahkan beberapa hotel di beberapa daerah mengalami penurunan drastis dikisaran 20 persen.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengatakan, hanya daerah DKI Jakarta saja yang masih bisa bertahan dan tumbuh di kisaran 30-35 persen. Namun selebihnya tingkat hunian hotel di beberapa daerah justru menyusut.

"Paling di bawah 20 persen (untuk daerah) kecuali DKI Jakarta masih baik. Tetapi di daerah-daerah lain itu bisa di bawah 20 persen," jelasnya kepada merdeka.com, Senin (17/5).

Dia mengatakan pertumbuhan tingkat okupnasi hotel di DKI Jakarta umumnya terjadi pada hotel klasifikasi bintang 3. Kemudian kebanyakan hotel di Ibu Kota Negara tersebut juga menawarkan atau menjual program staycation dengan beragam fasilitas yang ada.

"Kalau hotel-hotel di bawah bintang 3 tidak ini juga karena tidak ada istilahnya variasinya yang untuk mereka singgahi fasilitasnya," jelasnya.

Dia menambahkan untuk penuruanan okupansi hotel di beberapa daerah umumnya karena memang tidak ada wisatawan dari luar daerah yang melakukan kegitan atau aktivitas di daerah.

Sementara sektor pariwisata yang membeludak di daerah juga tidak memberikan efek kepada hotel sekitar. Karena kebanyakan dari mereka juga merupakan wisata lokal.

"Kemarin itu tidak terlalu banyak manfaat. Kenapa? karena memang klau kita liat objek wisata yang membeludak dan lain sebagiannya lebih konsiden kepada lokal traveler yang dari lokal," jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Restoran

Ilustrasi restoran
Perbesar
Ilustrasi restoran. Photo by Sandra Seitamaa on Unsplash

Di samping itu, kebanyakan masyarakat juga secara umum lebih banyak menggunakan waktu liburnya untuk bersama keluarga.

"Biasanya kalau kita bicara hotel, lebaran kedua itu kan mereka melakukan liburan keluarga sama-sama di jalan, di wilayah kampungnya dengan daerah terdekat itu umumnya yang mereka lakukan," sambungnya.

Sementara untuk restoran sendiri dia mengakui masih ada peningkatan daripada hotel. Karena restoran masih bisa bertahan tidak mengandalkan orang antar daerah, melainkan tetap bisa mendapatkan konsumen dari warga lokal.

"Tentu dengan kondisi seperti itu itu jauh lebih baik dibandingkan hotel. Ada pertumbuhannya pasti ada tidak mungkin tidak ada. Apalagi menjelang lebaran itu kan ada peningkatan orang berkunjung ke mal itu pasti ada efeknya kepada restoran yang ada di mal juga," pungkasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓