Pengusaha Yakin Ramadan dan Lebaran Dongkrak Ekonomi Kuartal II 2021

Oleh Liputan6.com pada 17 Mei 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 11:00 WIB
20161107-Ekonomi-RI-Jakarta-AY
Perbesar
Suasana gedung bertingkat nampak dari atas di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid menyatakan, momen bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri menjadi salah satu faktor pemicu dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang positif, pada Kuartal II 2021.

Dia mengungkapkan, selain meningkatkan konsumsi masyarakat, Ramadan dan Idul Fitri juga mendorong pertumbuhan penggunaan sarana informasi, telekomunikasi, kesehatan, dan pertanian.

“Momen Ramadan dan Idul Fitri selalu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun ini, masyarakat menyambut Idul Fitri lebih antusias, dibandingkan tahun lalu. Saya yakin pertumbuhan ekonomi yang positif, pada Kuartal II tahun ini akan terwujud,” kata Arsjad di Jakarta, pada Senin (17/5/2021).

Selama bulan Ramadan, lanjut Arsjad, masyarakat cukup patuh menjalankan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Ditambah lagi, pemerintah juga menerapkan kebijakan yang memicu peningkatan konsumsi dan produktivitas, di antaranya peningkatan penyaluran likuiditas bagi sektor riil, penurunan suku bunga pinjaman korporasi, dan meningkatkan kinerja ekspor.

“Bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri juga memicu kenaikan omzet penjualan. Permintaan konsumen yang terus bertambah mendorong peningkatan produksi dan omzet penjualan. Ini berarti terjadi perputaran uang yang cukup besar sehingga menimbulkan efek domino. Ditambah lagi banyaknya program diskon yang ditawarkan pelaku usaha. Ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi kita,” jelas pengusaha yang juga mencalonkan Ketua Umum Kadin Indonesia, periode 2021-2026.

Arsjad juga sependapat dengan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut dan menunjukkan tren kenaikan pada Kuartal II-2021. Pemulihan tersebut tercermin pada sejumlah indikator, di antaranya PMI Manufaktur yang mencapai 54,6 dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mendekati angka normal yaitu antara 90-100.

“Saya sependapat dengan Menko Perekonomian Pak Airlangga Hartarto bahwa perekonomian nasional akan tumbuh berdasarkan V-curve. Pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II akan memasuki jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen,” ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera telah mendekati arah positif, yaitu minus 0,86 persen, Pulau Jawa minus 0,83 persen, dan Pulau Kalimantan minus 2,23 persen.

Sementara itu, sebagian wilayah Kawasan Tengah dan Timur Indonesia telah bertumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi di Pulau Sulawesi positif 1,2 persen, Maluku dan Papua 8,97 persen.

Menko Airlangga Pede Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 7 Persen di Kuartal II 2021

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7 persen pada kuartal II 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 minus 0,74 persen.

"Tapi trennya ke arah positif dan perekonomian kita tumbuh V curve. Kita berharap pertumbuhan ekonomi kuartal II akan masuk jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen," kata Airlangga dalam Antisipasi Mobilitas Masyarakat dan Pencegahan Lonjakan Kasus Covid-19 Pasca Libur Lebaran pada Sabtu (15/5/2021).

Potensi pertumbuhan ini, bisa dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang sudah berada di level 54,6. Kemudian dari segi Indeks Keyakinan Konsumen juga mulai membaik.

Ditambah lagi dengan membaiknya kinerja ekspor dan impor, belanja pemerintah yang berada di jalur tumbuh positif.

Kemudian sektor informasi komunikasi, jasa, kesehatan, pertanian, dan sektor properti maupun industri yang berada di jalur positif.

"Dan kita lihat ekspor (tumbuh) 6,74 persen bahkan lebih tinggi daripada pre-Covid, demikian pula dengan impor 5,27 persen," tuturnya.

Kepala BPS, Suhariyanto, sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia telah jauh membaik dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.

Di mana secara yoy pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen, lalu kuartal III minus 3,49 persen, dan minus 2,19 persen pada kuartal IV.

Mudik Lebaran Dilarang, Ekonomi Desa Bakal Lesu

FOTO: Ada Larangan Mudik, Gerbang Tol Palimanan Terpantau Sepi
Perbesar
Polisi memeriksa kendaraan di Gerbang Tol Palimanan, Jakarta, Jumat, (7/5/2021). Gerbang Tol Palimanan sepi karena adanya kebijakan larangan mudik Lebaran pada tanggal 6-17 Mei 2021 untuk memutus penyebaran COVID-19. (merdeka.com/Imam Buhori)

Larangan mudik Lebaran akan membuat perputaran uang di desa menjadi melambat. Pasalnya, pemudik tidak lagi bisa membelanjakan uang mereka di kampung halaman termasuk membeli oleh-oleh dan membayar penginapan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira, mengatakan ada dua perubahan yang terjadi sebagai dampak larangan mudik.

Pertama dari sisi jumlah uang yang beredar diperkirakan masih tumbuh melambat atau hanya berada di level 7-9 persen pada periode mudik dilarang. Aturan pelarangan mudik selama periode 6 hingga 17 Mei 2021.

"Biasanya terjadi kenaikan hingga 10 persen secara yoy uang beredar, namun efek pembatasan mobilitas akan menurunkan gairah konsumsi masyarakat," kata Bhima kepada Liputan6.com pada Jumat (14/5/2021).

Sementara perubahan kedua, menyangkut efek konsentrasi uang hanya berputar di wilayah Jabodetabek tidak berbeda dari bulan normal.

"Padahal mudik Lebaran mampu menggerakan peredaran uang di daerah-daerah karena ada konsumsi di daerah, pembelian oleh oleh, penginapan dan lainnya," sambung Bhima.

Efek lain, kata, Bhima, adanya larangan mudik membuat daerah ibarat kekurangan darah atau likuiditas. Sehingga pemulihan ekonomi semakin timpang.

Jabodetabek disebut bisa lebih dulu pulih, tapi daerah lain masih ada yang mengalami resesi pada kuartal II 2021.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓