Menko Airlangga Pede Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 7 Persen di Kuartal II 2021

Oleh Andina Librianty pada 15 Mei 2021, 16:19 WIB
Diperbarui 15 Mei 2021, 16:20 WIB
FOTO: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perbesar
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7 persen pada kuartal II 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 minus 0,74 persen.

"Tapi trennya ke arah positif dan perekonomian kita tumbuh V curve. Kita berharap pertumbuhan ekonomi kuartal II akan masuk jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen," kata Airlangga dalam Antisipasi Mobilitas Masyarakat dan Pencegahan Lonjakan Kasus Covid-19 Pasca Libur Lebaran pada Sabtu (15/5/2021).

Potensi pertumbuhan ini, bisa dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang sudah berada di level 54,6. Kemudian dari segi Indeks Keyakinan Konsumen juga mulai membaik.

Ditambah lagi dengan membaiknya kinerja ekspor dan impor, belanja pemerintah yang berada di jalur tumbuh positif.

Kemudian sektor informasi komunikasi, jasa, kesehatan, pertanian, dan sektor properti maupun industri yang berada di jalur positif.

"Dan kita lihat ekspor (tumbuh) 6,74 persen bahkan lebih tinggi daripada pre-Covid, demikian pula dengan impor 5,27 persen," tuturnya.

Kepala BPS, Suhariyanto, sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia telah jauh membaik dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.

Di mana secara yoy pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen, lalu kuartal III minus 3,49 persen, dan minus 2,19 persen pada kuartal IV.

 

2 dari 3 halaman

Mudik Lebaran Dilarang, Ekonomi Desa Bakal Lesu

Kendaraan Tanpa Dilengkapi Dokumen Diputar Balik di Jalan Alternatif Parung
Perbesar
Petugas memutar balik kendaraan yang tidak dilengkapi dokumen di check point penyekatan arus mudik di kawasan Pasar Mudik, Bogor, (7/5/2021). Penyekatan pemudik pada jalur alternatif Parung diberlakukan jelang Lebaran guna mengantisipasi risiko peningkatan kasus COVID-19. (merdeka.com/Arie Basuki)

Larangan mudik Lebaran akan membuat perputaran uang di desa menjadi melambat. Pasalnya, pemudik tidak lagi bisa membelanjakan uang mereka di kampung halaman termasuk membeli oleh-oleh dan membayar penginapan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira, mengatakan ada dua perubahan yang terjadi sebagai dampak larangan mudik.

Pertama dari sisi jumlah uang yang beredar diperkirakan masih tumbuh melambat atau hanya berada di level 7-9 persen pada periode mudik dilarang. Aturan pelarangan mudik selama periode 6 hingga 17 Mei 2021.

"Biasanya terjadi kenaikan hingga 10 persen secara yoy uang beredar, namun efek pembatasan mobilitas akan menurunkan gairah konsumsi masyarakat," kata Bhima kepada Liputan6.com pada Jumat (14/5/2021).

Sementara perubahan kedua, menyangkut efek konsentrasi uang hanya berputar di wilayah Jabodetabek tidak berbeda dari bulan normal.

"Padahal mudik Lebaran mampu menggerakan peredaran uang di daerah-daerah karena ada konsumsi di daerah, pembelian oleh oleh, penginapan dan lainnya," sambung Bhima.

Efek lain, kata, Bhima, adanya larangan mudik membuat daerah ibarat kekurangan darah atau likuiditas. Sehingga pemulihan ekonomi semakin timpang.

Jabodetabek disebut bisa lebih dulu pulih, tapi daerah lain masih ada yang mengalami resesi pada kuartal II 2021.

 

** #dilarangmudik 

     #ingatpesanibu

     #DILARANG MUDIK

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓