Cerita Sukses Pengusaha Krupuk Kulit dan Pekerja BRI di Padang

Oleh Tira Santia pada 13 Mei 2021, 20:03 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 15:14 WIB
Zetria, pengusaha kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang. Dok pribadi
Perbesar
Zetria, pengusaha kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang. Dok pribadi

Liputan6.com, Jakarta Perempuan bernama lengkap Zetria (40 tahun) asal Padang, Sumatera Barat merupakan salah satu wirausaha mikro sukses. Dia berhasil merintis usaha kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang.

Kisah ini bermula pada 2007, ketika Zetria memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan swasta, demi menyusul sang suami tinggal di Padang. Padahal dia sudah bekerja selama 7 tahun di perusahaan tersebut.

“Suami saya di Padang, karena jauh jadi saya pindah ke Padang dan saya mengundurkan diri dari perusahaan itu,” kata Zetria kepada Liputan6.com, Kamis (13/5/2021).

Usai meninggalkan pekerjaannya, siapa sangka dia justru bisa mengubah nasib dengan menjadi pengusaha sukses kerupuk kulit beromzet hingga Rp 200 juta per bulan.

Awal usaha dia hanya bermodal Rp 50 ribu, digunakan untuk membeli 15 kilogram kulit sapi sebagai bahan baku produksi selama seminggu.

Namun, seiring berjalannya waktu, produksi kerupuk kulitnya semakin meningkat hingga 70 kilogram per hari. “Dengan modal itu saya kembangkan sampai sekarang produksi seharinya sudah 70 kilogram kulit sapi,” ujar dia.

Merasa ini adalah sebuah peluang, Zetria mulai meminjam modal usaha ke PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada 2008 sebesar Rp 30 juta.

Pada 2011 Zetria berinovasi mengembangkan kerupuk balado khas Minang. Hal itu dilakukan agar terdapat variasi kerupuk, tidak hanya melulu kerupuk kulit saja.

Seiring perkembangan bisnis dan kelancaran pembayaran, pinjaman modal usaha terus bertambah hingga menjadi Rp 650 juta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan usaha seperti membeli mobil operasional.

“Saya menjadi nasabah BRI pas saya pinjam pertama kali ke BRI Rp 30 juta sekitar tahun 2008. Karena butuh untuk membeli mobil untuk memudahkan transportasi. Alhamdulillah saya sangat terbantu dengan bantuan BRI. Saya sudah pinjam ke BRI sekitar 4-5 kali, sekarang pinjaman terakhir saya paling besar itu diangka Rp 650 juta,” ungkapnya.

Ternyata, produk olahan kerupuknya menjadi salah satu oleh-oleh khas Minang yang banyak dititipkan pada berbagai minimarket dan pusat oleh-oleh di Kota Padang dan sekitarnya.

Harga kerupuk jualannya bervariasi, mulai dari harga Rp 1.000 per bungkus, ada juga yang Rp 40.000, tergantung kebutuhan pelanggan.

“Kerupuk kulit masih sekitar kota Padang, tapi kalau kerupuk Balado pernah sampai ke Bengkulu. Harganya mulai dari Rp 10.000, Rp 20.000, Rp 40.000, ada juga yang bungkus Rp 5.000, hingga Rp 1.000 an per bungkusnya. Tergantung kebutuhan konsumen, karena saya juga memasok ke warung-warung kecil,” sebut dia.

Dalam sehari perempuan asal Padang itu mampu memproduksi hingga 10 ribu bungkus kerupuk kulit dan kerupuk Balado.

Omzet yang diperoleh mencapai Rp 200 juta per bulan, bahkan bisa bertambah lagi ketika permintaan sedang ramai.

 

Pekerja Didominasi Perempuan

Zetria, pengusaha kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang. Dok pribadi
Perbesar
Zetria, pengusaha kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang. Dok pribadi

Perkembangan usaha kerupuk kulitnya itu, Zetria mampu mempekerjakan 15 orang pekerja. Di mana, 70 persen didominasi pekerja perempuan untuk kebutuhan pengemasan produk.

Dia memang ingin bisa memberdayakan perempuan sekitar yang tidak memiliki pekerjaan. “Saya memberdayakan perempuan sekitar seperti janda-janda, atau yang belum menikah,” ujar Zetria.

Para pekerjanya biasa digaji harian, dengan nominal yang bervariasi, mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Semua tergantung dengan kemampuan pekerja dalam mengejar target membungkus kerupuk.

Selama pandemi covid-19, Zetria mengaku usahanya tidak terlalu terdampak lantaran kerupuk kulit merupakan panganan yang dikonsumsi saat di rumah saja.

Untuk tantangan, perempuan berusia 40 tahun ini bercerita sering mengalami kesulitan ketika bahan baku kulit sapi jarang di pasaran. Meskipun dapat, kualitasnya jelek.

Tapi ketika memasuki masa Idul Adha, Zetria sering mendapatkan kulit sapi dengan mudah dan harganya pun relatif murah.

“Kalau pas hari Lebaran Haji atau Idul Adha kita dapat harga kulit sapi murah, kalau dukanya jika kita susah dapat bahan baku kulitnya paling dapat kulit yang jelek sehingga berpengaruh sama usaha saya,” jelas dia.

Dari jerih payah membangun usaha, Zetria mampu membeli ruko dan rumah petak sebanyak 12, ditambah 2 mobil.

Tentu kesuksesannya itu tidak terlepas dari dukungan keluarga dan BRI yang membantu dari segi permodalan sehingga usahanya semakin maju dan berkembang.

 

Cerita Relation Manager BRI, Yori Zania di Padang

Yori Zania, Relation Manager PT BRI kantor cabang Padang. Foto: Dok Pribadi
Perbesar
Yori Zania, Relation Manager PT BRI kantor cabang Padang. Foto: Dok Pribadi

BRI menjadi tumpuan karier banyak para pekerja wanita tak hanya pengusaha UMKM. Tengok saja, Yori Zania berusia 33 tahun yang berhasil meniti karir sebagai Relation Manager (RM) BRI kantor cabang Padang.

Yori bercerita, sudah 11 tahun menjadi RM BRI. Awalnya memang ia bekerja di BRI sebagai Frontliner. Namun ketika mendapat informasi lowongan pekerjaan dengan posisi RM, dia mencoba ikut dan beruntungnya diterima.

“Awalnya saya mendaftar di BRI sebagai frontliner petugas laporan, ketika ada lowongan pekerjaan sebagai RM saya ikut. Alhamdulillah lulus dan akhirya menjadi RM, saya pertama kali ditempatkan di Kantor cabang Solok pada tahun 2011. Baru tahun 2018 kemarin pindah ke kantor cabang BRI di Padang,” jelas Yori.

Kini Yori mengelola sebanyak 135 debitur di Padang dengan berbagai macam usaha. Tapi di kota Padang ini banyak nasabah yang usahanya di sektor perdagangan dan jasa. Sementara sebelumnya di Solok banyak nasabah yang usahanya dibidang Peternakan dan pertanian.

Kendati begitu, Yori mengaku senang bisa berkontribusi membantu para nasabah mengembangkan usahanya.Selain itu banyak pengalaman yang ia peroleh selama menjadi RM di BRI.

“Jadi kita sebagai konsultan, teman, dan sekaligus RM. Pokoknya RM biasanya mendengarkan cerita suka dukanya nasabah agar bisa membantu mereka terutama dalam permodalan. Ketika nasabah membutuhkan modal untuk mengembangkan, memperluas usaha, atau menambah aset kita sebagai RM yang proses kreditnya,” ujarnya.

Menurutnya, tugas RM hampir sama dengan mantri BRI. Namun tetap ada perbedaannya, yakni RM itu lebih membantu nasabah mengelola usaha dan keuangannya.

“Jadi kita lebih membangun hubungan bagaimana nasabah itu mengembangkan usaha atau mengambil peluang-peluang di depan,” imbuhnya.

Selama menjadi RM BRI cabang Padang, Yori sering mendapati 1-2 nasabah yang mengalami macet pembayaran pinjaman. Hal itu biasanya disebabkan karakter nasabah itu sendiri, mereka mampu membayar tapi tidak ingin membayarkan uang yang dimilikinya. Sehingga pihak BRI mencarikan solusi, salah satunya dengan menjual aset nasabah.

“Kalau macet itu, 1-2 nasabah ada. Memang karena karakternya itu sendiri yang kurang baik istilahnya mereka punya kemampuan untuk bayar tapi mereka tidak mau bayar sehingga macet. Maka kita selesaikan dengan jalur lelang, sementara sejak pandemi juga banyak nasabah yang restruk,” jelas dia.

Dari posisi menjadi RM selama 11 tahun di BRI, Yori merasakan kecukupan secara ekonomi. “Alhamdulillah hidup saya berkecukupan," pungkasnya.(*)

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓