Aprobi Optimis Serapan Biodiesel Naik di 2021

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2021, 12:15 WIB
Diperbarui 12 Mei 2021, 19:35 WIB
Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B30
Perbesar
Sampel biodiesel B0, B20, B30, dan B100 dipamerkan saat uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) berharap serapan biodiesel dalam negeri selama pada 2021 ini meningkat, meski pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia.

Menurut Sekretaris Jenderal Aprobi Ernest Gunawan, jika produksi biodiesel tumbuh dan serapannya juga mengalami kenaikan, maka diharapkan bisa membantu pemulihan ekonomi dan menyerap tenaga kerja.

“Dengan demikian, industri dapat mempertahankan bahkan menaikan produksinya di masa pandemi dan tentu saja mempertahankan atau menaikkan jumlah tenaga kerjanya, menaikan serapan bahan baku yang berasal dari petani,” jelas dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (12/5/2021).

Ia mengatakan selama pandemi faktanya program B30 menjadi penopang industri sawit. Harga beli Tandan Buah Segar (TBS) sawit dari petani naik sekitar 2 kali lipat.

”Yang tidak kalah penting, dengan memakai B30. Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca yang signifikan guna mengurangi polusi dan mengurangi resiko ISPA bagi kesehatan masyarakat,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Sementara itu, jelang Hari Raya Lebaran, pelaku industri yang tergabung dalam Aprobi pun ikut menebarkan kebaikan kepada masyarakat dengan mendistribusikan bantuan 1.000 paket sembako kepada masyarakat di sekitar Jabodetabek.

“Kami memberikan bantuan 1.000 paket kepada Yatim dan masyarakat kurang mampu. Lokasinya tersebar ke beberapa titik di Jabodetabek. Tujuan kami memang ingin membantu di kala pandemi. Dan asosiasi punya program berbagi kebaikan seperti yang dijalankan sekarang,” ujar Ernest.

Dia menjelaskan, sebaran pembagian sembako dan alat ibadah sebanyak 16 lokasi yang berlokasi semuanya di Jabodetabek. Total paket senilai Rp100 juta. Paket sembako terdiri dari teh celup, gula, Indomie, Bihun, Wafer nabati, minyak bantal, untuk putra sarung, dan untuk Putri Mukena.

"Kita fokus ke Panti, tapi juga ke RT dan RW. Namun, pembagian ke arah yang lebih membutuhkan karena mungkin mereka belum terjamah," jelasnya.

Yayasan Seiya Sekata, Panti Asuhan di Bilangan Klender merasakan kebahagiaan atas uluran tangan Aprobi kepada 76 anak Yatim yang dibina olehnya. 76 anak Yatim terdiri 50 orang mukim dan sisanya warga sekitar.

"Berbagi ke yatim semoga bermanfaat, bulan suci kita hanya bisa membalas dengan doa semoga makin sukses," jelas Yana Sekretaris Panti Asuhan Yayasan Seiya Sekata.

Sementara itu, Perwakilan Yayasan Pantin Asuhan Cahaya Alam di Duren Sawit, Suyoto mengapresiasi kehadiran Aprobi yang bersedia datang dan memberikan santunan.

“Kami doakan Aprobi, dan anggotanya tetap sukses dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Berbangga, terharu. Tidak sia-sia, amal baik yakin dan tentu amal itu diterima allah," jelasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menko Airlangga: Kebijakan B30 Sejahterakan Petani Kelapa Sawit

harga-cpo-140219c.jpg
Perbesar
Sawit

Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Malaysia terkait kebijakan dan pengembangan Kelapa Sawit kedua negara. Hal ini ditegaskan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) 2021 yang diselenggarakan secara daring pada Jum’at, 26 Februari 2021.

Pertemuan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, bersama dengan Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Dr. Mohd Khairuddin Aman Razali.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pertanian dan Pengembangan Desa Kolombia, Rodolfo Enrique Zea Navarro; Menteri Pangan dan Pertanian Ghana Dr. Owusu Afriyie Akoto; Menteri Pertanian Honduras Mauricio Guevara Pinto dan Kepson Pupita, Senior Official Papua New Guinea mewakili Menteri Pertanian, sebagai negara observer CPOPC yang dalam waktu tidak lama lagi menjadi anggota penuh CPOPC.

Airlangga menjelaskan, pemanfaatan lahan untuk sawit lebih efektif jika dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainnya. “Secara keseluruhan, minyak sawit memasok 31 persen kebutuhan minyak nabati dunia dengan total penggunaan lahan yang hanya 5 persen.” jelas ida dlaam keterangan tertulis, Jumat (26/2/2021).

Data 2019 dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa setiap produksi 1 ton minyak nabati, untuk bunga matahari diperlukan lahan seluas 1,43 hektar. Sementara untuk memproduksi volume yang sama dari tanaman kedelai dibutuhkan lahan 2 hektar. Sedangkan untuk kelapa sawit hanya dibutuhkan lahan seluas 0,26 hektar.

Setelah Indonesia menerapkan kebijakan mandatori B30, awal tahun 2020 lalu, maka produksi biodiesel nasional terus bertambah. Melalui kebijakan ini, Indonesia juga berhasil menjaga kestabilan supply dan demand kelapa sawit secara global.

Pemerintah Indonesia juga mengajak Pemerintah Malaysia agar tetap menjaga keseimbangan ini, agar harga sawit di pasar dunia tetap menguntungkan. “Berkat harga yang relatif stabil, kebijakan ini juga turut membantu kesejahteraan petani kelapa sawit di Indonesia,” ujar Airlangga.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓