Penjualan Ponsel Pintar Merosot Selama Ramadhan 2021

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2021, 20:15 WIB
Diperbarui 12 Mei 2021, 20:15 WIB
Pemerintah Bakal Blokir Ponsel Black Market
Perbesar
Pegawai menata handphone/smartphone di salah satu gerai di Jakarta, Kamis (7/4/2019). Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementarian Komunikasi dan Informatika tengah menyiapkan kebijakan pemblokiran ponsel ilegal atau black market. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Momentum Ramadhan dan Idulfitri bisanya turut mendongkrak penjualan ponsel pintar atau smartphone. Namun, hal ini belum terjadi di street area Babelan, Kabupaten Bekasi.

Promotor Oppo, Wahyu Hidayat mengakui, penjualan ponsel pintar selama Ramadhan 2021 merosot. Hampir selama Ramadhan baru sekitar 20-22 unit smartphone yang terjual di tokonya.

Padahal jika bulan-bulan biasanya penjualan di toko yang berada di Ujung Harapan ini bisa mencapai sekitar 30 unit. Sementara batas aman penjualan pada Ramadhan mencapai 26 unit.

"Enggak nyampe target malah dapat SP (surat peringatan). Target penjualan 45 unit sebulan. Kalau titik aman bulan Ramadhan 26 itungan tetap aman," ujar dia saat berbincang dengan Merdeka.com, Selasa (12/5/2021).

Penjualan yang seret membuat dirinya mendapatkan SP dari atasan. Salah satu bentuk sanksinya adalah potongan insentif. Adapun potongan ini diberikan kepada para promotor yang tidak bisa melakukan penjualan di atas target.

"Kalau ritel tergantung dari brand beda-beda. Kalau di Oppo SP I Rp300.000, SP II Rp600.000," ujar dia.

Sementara itu, terkait jenis ponsel pintar yang banyak diburu oleh masyarakat selama Ramadhan ini adalah yang hargaya di bawah Rp3 jutaan. Adapun untuk jenisnya beragam, mulai dari Samsung, Oppo hingga Xiaomi.

 

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

THR Bakal Dongkrak Penjualan Elektronik di E-Commerce

Pemerintah Bakal Blokir Ponsel Black Market
Perbesar
Pegawai mengecek handphone/smartphone di salah satu gerai di Jakarta, Kamis (7/4/2019). Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan pemblokiran ponsel ilegal atau black market berdasarkan pada validasi International Mobile Equipment Identity (IMEI). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Head of Business Development Akulaku Silvrr Indonesia, Yudhistira Luntungan mengatakan dalam rangka bulan Ramadan, produk fesyen muslim menjadi banyak yang cari dan dibeli masyarakat di platform digital Akulaku. Mulai dari pakaian, hijab hingga aksesoris pendukung seperti tasbih, jam tangan dan sepatu.

"Semua tahu, udah pasti fesyen menjadi yang paling tinggi penjualannya seperti baju muslim, baju koko, hijab dan yang pasti dilanjutkan dengan aksesoris muslim seperti tasbih dan lain-lain," kata Yudhistira dalam Webinar Liteasi Keuangan & Wirausaha Akulaku, Jakarta, Jumat, 30 April 2021.

Setelah produk fesyen, penjualan barang elektronik juga menunjukkan peningkatan. Ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat yang konsumtif saat menerima uang Tunjangan Hari raya (THR).

"Yang pasti di Lebaran ini ada THR dan biasanya mereka lebih konsumtif seperti elektronik atau yang lainnya," kata dia.

Selain produk kategori fesyen, produk kategori hobi juga menjadi penjualan yang tinggi seperti alat pancing, helm dan yang lainnya.

"Ini juga kuda hitam yang bisa naik selain fesyen," ujarnya.

Saat ini, Yudhistira mengatakan sudah ada 120 ribu merchant yang bergabung di platform digital Akulaku. Pihaknya juga masih terus berupaya menambah merchant dengan merangkul pelaku UMKM dan para pemilik brand.

"Kita juga enggak menunggu, kita sentuh umkm buat join dan brand besar," kata dia.

Tujuannya untuk menghubungkan pelaku UMKM dengan pemilik brand dan menghasilkan kerja sama antar keduanya. "Menghubungkan UMKM dengan pemilik brand untuk jadi resller atau yang lainnya," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓