Indef Tawarkan Solusi Penyelesaian Masalah Perunggasan Tanah Air

Oleh Tira Santia pada 11 Mei 2021, 10:30 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 10:30 WIB
Peternak di Depok Ungkap Penyebab Tingginya Harga Telur Ayam
Perbesar
Pekerja mengumpulkan telur dari peternakan ayam di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (23/7). Tingginya harga telur ayam di pasaran karena tingginya permintaan saat lebaran lalu yang berimbas belum stabilnya produksi telur. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta Industri perunggasan memiliki peran dan posisi sangat strategis serta berkontribusi besar terhadap sektor perekonomian maupun kesehatan. Mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga mendorong tumbuhnya berbagai industri pengolahan, sektor distribusi dan pemasaran, cold storage, perdagangan hingga restoran, industri perunggasan berperan dalam menggerakkan perekonomian.

Di sisi kesehatan, unggas menjadi sumber protein hewani yang tinggi dengan harga terjangkau bagi masyarakat dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya.

Namun demikian, masih banyak persoalan dan kendala di sektor perunggasan ini. Antara lain masalah ketersediaan DOC, ketergantungan bahan pakan impor, persaingan antar perusahaan yang dinamis dan instabilitas harga unggas.

Dengan adanya problematika tersebut akibatnya daya saing produk unggas dalam negeri masih lemah. Tidak mengherankan, ditengah surplus produksi, Indonesia khawatir akan adanya ancaman masuknya impor ayam dari Brazil dan lainnya. Dengan adanya anomali antara besarnya kontribusi perunggasan dengan berbagai persoalan tersebut, INDEF berinisiatif melakukan kajian secara komprehensif. Kajian INDEF berfokus untuk menyiapkan sebuah concept note sebagai solusi persoalan industri perunggasan di Indonesia.

Hasil kajian tersebut langsung kami serahkan kepada pemangku kepentingan utama perunggasan melalui diskusi publik pada April 2021.

“Rekomendasi ini kami serahkan kepada 3 Kementerian yang langsung bersinggungan dengan industri perunggasan yakni Kementan, Kemendag dan Kemenko Perekonomian dengan harapan dapat segera ditindaklanjuti agar beberapa isu di industri ini dapat segera mendapat solusi untuk kebaikan semua pihak," kata ekonom senior Indef Enny Sri Hartati, Selasa (11/5/2021).

Dalam rekomendasi tersebut, menawarkan berbagai solusi, mulai dari penyediaan DOC yang berkualitas berdasarkan keseimbangan permintaan akhir, kebijakan peningkatan pertumbuhan konsumsi unggas, kebijakan penyediaan bahan baku pakan ternak yang cukup dan efisien, hingga kebijakan peningkatan posisi tawar Indonesia di WTO terkait perunggasan.

 

2 dari 3 halaman

Kekinian

20161130-Produksi-Telur-Ayam-FF1
Perbesar
Pekerja memberi pakan di kandang ternak ayam telur di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (30/11). Peternakan ayam tersebut memproduksi telur ayam mencapai satu ton telur per hari dari 20 ribu ekor ayam. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menanggapai Concept Note Pengembangan Industri Perunggasan INDEF, Rachmat Pambudy, praktisi Agribisnis sekaligus Dosen Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB menyampaikan bahwa, INDEF telah melakukan kajian akademis yang terkini, fundamental dan komprehensif mengenai perunggasan nasional yang dilakukan secara mendalam dan melibatkan hampir semua pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, asosiasi, hingga para peternak.

"Kajian ini juga menunjukkan bahwa pengaturan GPS yang telah dilakukan pemerintah telah berdasar penilaian yang lebih terbuka, lebih berkeadilan dan lebih terukur. Keberhasilan program pengurangan supply juga tercermin dari perbaikan dan stabilnya harga liverbird semenjak Kuartal Empat 2020. Kajian INDEF perlu dilanjutkan untuk menghasilkan peta jalan perunggasan secara menyeluruh,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓