Ini Tanda UMKM Indonesia Belum Naik Kelas

Oleh Liputan6.com pada 10 Mei 2021, 17:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2021, 17:00 WIB
UMKM Diajak Manfaatkan Fasilitas GSP Ekspor Produk ke AS
Perbesar
Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor non minyak dan gas (nonmigas) Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini menjadi suatu tanda bahwa Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM) belum bisa naik kelas.

Wakil Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Eko Listiyanto menjelaskan, data Kementerian Koperasi dan UKM memperlihatkan bahwa total ekspor nonmigas terutama UMKM masih kecil sekali yaitu hanya 15,65 persen sumbangan terhadap total ekspor.

"Ini berarti menggambarkan banyak UMKM di kita yang belum naik kelas," ujar Eko dalam diskusi daring, Jakarta, Senin (10/5/2021).

Eko melanjutkan, seharusnya ekspor nonmigas Indonesia melalui UMKM bisa lebih besar lagi mengingat mayoritas pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM. Sumbangsih UMKM terhadap ekonomi Indonesia bahkan mencapai 60 persen.

"Penyerapan tenaga kerja Indonesia di sektor UMKM lebih dari 90 persen kemudian kontribusi terhadap PDB juga besar. Sebanyak 60 persen, data sebelum pandemi data tahun 2019 juga menggambarkan betapa besarnya dukungan dari UMKM ini," katanya.

Untuk itu, kata Eko pemerintah masih memiliki Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan bagaimana agar barang-barang yang dihasilkan oleh para UMKM tersebut bisa menembus ekspor. Jika hal tersebut bisa terjadi, maka ekonomi Indonesia pun bisa segera pulih.

"UMKM mainnya masih skala lokal lah kira-kira gitu, atau mungkin nasional yang masih mungkin tapi ekspor. Tapi kan Ini pasti membutuhkan sebuah bisnis UMKM yang solid supaya bisa tembus ekapor. Jadi harus ada perpaduan antara aspek ekosistem pembiayaan dengan ekosistem kewirausahaan," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

2021 Jadi Tahun Pemulihan Retail dan UMKM

UMKM Diajak Manfaatkan Fasilitas GSP Ekspor Produk ke AS
Perbesar
Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Kementerian Koperasi dan UKM mengajak para pelaku UMKM yang telah siap mengekspor untuk memanfaatkan Generalized System of Preference (GSP). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, lebih dari satu tahun pelaku ekonomi baik pengusaha usaha mikro, kecil menengah (UMKM), maupun ritel di Indonesia, menghadapi tantangan selama pandemi Covid-19. Penurunan pendapatan tak terelakkan lagi, namun hal ini berbanding terbalik dengan jumlah UMKM yang mengalami kenaikan tiap tahunnya.

VP Director Tangcity Superblock Norman Eka Saputra mengatakan, jumlah UMKM yang terus tumbuh hingga 65 juta yang tersebar di Indonesia, membuktikan bahwa kebijakan strategis pemerintah pusat dan daerah, khususnya Pemerintah Kota Tangerang efektif dalam menggerakkan roda perekonomian. Sosialisasi kepada masyarakat sebagai konsumen cerdas dan berdaya di tengah pandemi juga dinilai sukses.

"Dari 65 juta UMKM di Indonesia kita tercinta ini, mereka berhasil menyumbangkan lebih dari 60 persen PDB atau Produk Domestik Bruto. Sementara sektor retail F&B atau makanan dan minuman optimis mengejar target pendapatan tahun 2023, yakni 1,4 miliar Dollar AS," ujar Norman Eka, Sabtu (8/5/2021).

Norman Eka juga melanjutkan, industri ritel di pusat perbelanjaan sempat terperosok pada 2020, sama seperti di dalam mol yang dikelolanya. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan mobilitas dan penurunan konsumsi masyarakat.

Apalagi penjualan saat masa bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri yang biasanya menyumbang hampir separuh omzet secara tahunan.

Namun kini, di 2021, para tenant dan juga pelaku UMKM seperti memperoleh kebangkitannya. Vaksinasi massal terutama untuk para pedagang, dinilai mampu menjadi angin segar geliat ekonomi.

"Vaksinasi massal dikebut, pusat perbelanjaan diizinkan beroperasi kembali dengan kapasitas tertentu, tapi tidak mengendurkan penegakan protokol kesehatan 3M. Penerapan protokol kesehatan 3M berkontribusi banyak untuk menjaga gerakan roda ekonomi kita ditengah tekanan yang tengah kita alami bersama,” imbuh Norman Eka.

3 dari 4 halaman

Pendapatan Mulai Bangkit

Ritel di pusat perbelanjaan yang mengalami penurunan pendapatan per tahun secara nasional dari Rp 400 triliun menjadi Rp 200 triliun karena pandemi diharapkan perlahan-lahan dapat bangkit kembali.

"Kami selaku pengelola pusat perbelanjaan dan kawasan optimistis, sebab kebijakan pemulihan ekonomi pemerintah pusat ditambah kemahiran Pemkot Tangerang dalam membantu dunia usaha ritel perdagangan dan sektor F&B seraya menjaga dan mengutamakan kesehatan serta keselamatan masyarakat dapat rasakan secara riil," katanya. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓