KPPU: Harga Daging Sapi Meroket hingga Rp 140 Ribu per Kg Jelang Lebaran

Oleh Liputan6.com pada 06 Mei 2021, 18:30 WIB
Diperbarui 06 Mei 2021, 18:30 WIB
FOTO: Mendekati Lebaran, Harga Daging Mulai Merangkak Naik
Perbesar
Pedagang daging melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (3/5/2021). Pemerintah melalui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan pihaknya siap melakukan intervensi jika stok daging langka dan terdapat lonjakan harga pada bulan Ramadan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengaku telah memantau perkembangan harga pangan jelang hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Hasilnya, hanya harga daging sapi yang mengalami kenaikan. Sementara komoditas lainnya dalam posisi stabil.

"Kami sampaikan pantauan harga menjelang lebaran dari akhir April sampai awal Mei, alhamdulillah beberapa komoditi stabil. Cuman harga daging sapi relatif tinggi, jadi belum kembali ke level semula," ungkap Deputi bidang Kajian dan Advokasi KPPUTaufik Ariyanto dalam konferensi pers virtual terkait Hasil Pantauan KPPU atas Komoditas Pangan Menjelang Lebaran, Kamis (6/5/2021).

Taufik menyebut, saat ini, harga daging sapi segar di sejumlah wilayah Indonesia terhitung mahal. Yakni mencapai Rp130.000-Rp140.000 per kilogram.

"Jadi, cuma daging sapi yang sifatnya cenderung stabil di level yang tinggi Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram," tekannya.

Sedangkan sejumlah komoditas lainnya yang sempat mengalami kenaikan harga di awal Ramadan lalu kini telah mengalami penurunan mendekati level stabil. "Seperti cabai, daging ayam yang sebelumnya naik dan beberapa komoditas sudah relatif stabil," terangnya.

Oleh karena itu, dia meminta stakeholders terkait untuk segera merespon kenaikan harga daging sapi jelang lebaran. Menyusul tingginya kenaikan harga komoditas sumber protein hewani tersebut di sejumlah wilayah.

"Ini menjadi PR selanjutnya buat pengambil kebijakan untuk menyikapi gejolak harga daging sapi yang belum kembali ke level harga normal," tekannya.

Sulaeman

Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Harga Daging Sapi dan Ayam Merangkak Naik Jelang Lebaran

FOTO: Mendekati Lebaran, Harga Daging Mulai Merangkak Naik
Perbesar
Pedagang daging melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (3/5/2021). Pemerintah melalui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan pihaknya siap melakukan intervensi jika stok daging langka dan terdapat lonjakan harga pada bulan Ramadan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat harga daging sapi dan ayam mulai naik. Kenaikan ini biasa terjadi ketika mendekati hari raya  Lebaran atau Idul Firtri.

Sekretaris Jenderal APPSI, Ngadiran mengatakan, khusus untuk harga daging segar saat ini sudah lebih dari Rp 110.000 per kilogram (kg). Sementara untuk harga daging ayam berada di atas Rp35.000 per kg.

"(Harga) naik ayam di Rp38.000 - Rp40.000 per kg. Daging Rp115.000 - Rp125.000 per kg," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Minggu (2/5/2021).

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasionnal (PIHPSN) harga daging sapi di DKI Jakarta pada 30 April 2021 terpantau sebesar Rp 136.000 per kiliogram (kg) dan untuk harga daging ayam ras segar Rp 39.100 per kg.

Sementara jika merujuk pada Info Pangan Jakarta, harga daging sapi murni per hari ini atau 2 Mei 2021 sebesar Rp 130.406 per kg. Sedangkan untuk harga daging ayam broiler/ras sebesar Rp 39.800 per kg.

Ngadiran menambahkan, jika barang atau stok daging banyak di pasaran maka dia menjamin harga bisa stabil atau tidak mengalami kenaikan harga.

Namun jika stok barang dimainkan oleh distributor dengan cara menahan keluar dari gudang, maka loginya harga akan tetap melonjak.

Di samping itu, dia juga meminta kepada pemerintah agar tidak menyalahkan pedagang kecil ketika harga komoditas meningkat.

Sebab, kewenangan untuk distribusi daging impor, sebagai upaya menekan harga di pasaran dilakukan oleh pengusaha atau pedagang besar.

"Maaf kalau boleh saya ingatkan bahwa yang bisa stabilkan harga itu yang dikasih izin impor (pemerintah). Karena yang atur lazimnya yang punya barang notabane yang tandatangan izin itu bisa ngatur apa tidak, apa justru siapa yang ngatur," jelasnya.

Untuk menekan harga, pemerintah juga diminta untu bisa mengingatkan kepada pemilik barang untuk membantu masyarakat dengan harga yang standar. "Boleh ambil untung tapi jangan terlalu mahal," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓