Ekonomi Indonesia Dalam Tren Pemulihan Meski Tumbuh Minus di Kuartal I 2021

Oleh Liputan6.com pada 05 Mei 2021, 17:10 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 17:10 WIB
Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional minus 0,74 persen pada kuartal I 2021 (YoY). Pemerintah pun menilai perekonomian Indonesia menunjukkan pemulihan yang solid.

Pemulihan ekonomi menghasilkan penciptaan lapangan pekerjaan. Sampai dengan Februari 2021, tingkat pengangguran berhasil ditekan menjadi 6,26 persen dari 7,07 persen pada Agustus 2020.

Penciptaan lapangan kerja ini didukung oleh berbagai program termasuk Kartu Prakerja yang telah diberikan kepada 5,5 juta orang di 514 kabupaten/kota di sepanjang 2020, jauh melebihi target sebelumnya sebesar 2 juta orang.

"Kinerja ekonomi pada Triwulan I 2021 mengindikasikan tren pemulihan yang solid dan optimisme ekonomi pasca pandemi," ungkap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, dalam keterangannya pada Rabu (5/5/2021).

Kendati demikian, Febrio mengatakan pemerintah tidak boleh lengah dan harus terus menjaga angka kasus positif Covid-19 terus menurun. Selain itu, pelaksanaan program PEN terus diperkuat dan semakin terarah untuk mendukung dunia usaha dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Kewaspadaan dan langkah antisipatif harus dijaga mengingat pandemi belum sepenuhnya usai. Kasus di India yang mencatat rekor tertinggi hingga mencapai 400 ribu kasus per hari, harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.

"Upaya pembukaan aktivitas ekonomi perlu dilaksanakan secara lebih hati-hati dan memperhatikan disiplin terhadap protokol kesehatan," jelasnya.

Sejalan dengan itu, katanya, pemerintah secara konsisten terus memperkuat langkah pemulihan ekonomi melalui faktor yang menjadi game changer melalui penanganan pandemi, dukungan kepada sektor riil, dan kebijakan reformasi struktural. Langkah penanganan di bidang kesehatan tetap menjadi prioritas utama untuk mengatasi sumber guncangan.

Hal ini mencakup program vaksinasi gratis untuk 181,5 juta orang, yang diharapkan mampu mencapai herd immunity pada awal 2022. Selain itu, upaya penguatan dan penegakan disiplin protokol kesehatan juga terus dilakukan baik dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), maupun upaya TLI (Tes, Lacak, dan Isolasi) yang komprehensif.

 

2 dari 4 halaman

Menko Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2021 Tembus 7 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2017  Optimis Capai 5,3 Persen
Perbesar
Pemandangan gedung-gedung bertingkat di Ibukota Jakarta, Sabtu (14/1). Hal tersebut tercermin dari perbaikan harga komoditas di pasar global. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengaku optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 akan tumbuh lebih baik. Bahkan perkiraanya ekonomi domestik pada periode April-Juni 2021 itu bisa tembus di atas 7 persen.

"Diperkirakan kuartal ke II 6,9 sampai 7,8 persen (pertumbuhannya)," kata Menko Airlangga dalam konferensi pers, Rabu (5/5).

Menko Airlangga melanjutkan, pertumbuhan tesebut bisa dicapai jika konsumsi rumah tangga RI pada kuartal II-2021 juga tumbuh positif. Paling tidak bisa berada di 6,9 sampai 7,9 persen. Kemudian diikuti dengan konsumsi lembaga non profit rumah tanga (LNPRT) sebsar 5,0 sampai 5,5 persen.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, konsumsi pemerintah juga harus tumbuh 7,6 persen sampai 7,9 persen. Sementara PMTB harus berada di 6,4 sampai 8,3 persen.

Tak hanya itu, ekspor dan impor juga harus mencatatkan kinerja yang positif selama di kuartal II-2020 mendatang. Paling tidak keduanya beri andil atau kontribusi masing-masing tumbuh 10,5 - 12,0 persan dan 9,5 - 14,0 persen.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan memproyeksikan,di kuartal II mendatang, pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini mampu tumbuh sebesar 7 persen, bahkan bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Menyusul akumulasi proses perbaikan ekonomi yang mulai terasa dari periode sebelumnya.

"Untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 2021 akan tertinggi, bisa di atas 7 persen dan seterusnya. Ini diperkuat data bulan Maret atas penjualan ritel, mobil, konsumsi listrik, dari sisi bisnis dan industrinya, lalu Google mobility, pergerakan masyarakat sangat menentukan konsumsi, dari sisi suplai terus ekspansi, siap menjual barang, konsumsi semen meningkat, ekspor kita membaik di Maret 30,2 persen, impor juga meningkat," terangnya

Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2021 masih tumbuh negatif. Yakni berkisar antara -1 sampai -0,5 persen. "Estimasi kita saat ini adalah 1 persen sampai dengan minus 0,5 persen untuk kuartal pertama," ujarnya dalam acara Lecture Series ke-6 bertajuk Pemulihan Ekonomi dari Pandemi Covid-19: Telaah Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi, Kamis (29/4).

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com 

3 dari 4 halaman

Ini Biang Keladi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Minus di Kuartal 2021

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 membaik dari kuartal II 2020 lalu yang tumbuh minus 5,32 persen. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 masih mengalami kontraksi 0,74 persen secara year on year (yoy). Kontraksi ini disebabkan karena konsumsi rumah tangga dan investasi belum positif meski mengalami perbaikan.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, konsumsi rumah tangga tercatat kontraksi minus 2,23 persen. Padahal komponen konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan porsi mencapai 56,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Konsumsi rumah tangga masih mengalami kontraksi 2,23 persen, tapi kontraksi ini menunjukan arah yang membaik kalau kita bandingkan dengan kontraksi di kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV (2020)," kata dia dalam rilis BPS, di Kantornya, Jakarta, Rabu (5/5).

Selain konsumsi rumah tangga, penyebab pertumbuhan ekonomi masih kontraksi juga diakibatkan pada komponen investasi yang belum menunjukan perbaikan. Padahal investasi menyumbang hampir 32 persen dari PDB, sehingga bersama konsumsi rumah tangga totalnya mencapai 88,9 persen.

"Tantangan yang kita hadapi adalah konsumsi rumah tangga, dimana masih mengalami kontraksi minus 2,23 persen. Sementara investasi masih kontraksi tapi sudah mendekati titik nol karena kontraksinya sangat tipis yaitu 0,23 persen," ungkapnya.

Meski begitu, Suhariyanto menyebut, kontraksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini didukung oleh kinerja konsumsi pemerintah, serta ekspor dan impor yang mulai tumbuh positif di periode ini.

"Selama kuartal I ini tiga komponen yang tumbuh menggembirakan, konsumsi pemerintah tumbuh 2,96 persen, ekspor tumbuh impresif 6,74 persen, impor juga tumbuh 5,27 persen," pungkas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com  

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓