Selama Ramadan Penjualan Produk UMKM di e-Commerce Naik 20 Persen

Oleh Liputan6.com pada 05 Mei 2021, 15:50 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 15:50 WIB
Lebaran Kurang dari 10 Hari Lagi, Kapan Janji Bebas Ongkir bagi Pelaku UMKM Akan Terealisasi?
Perbesar
Ilustrasi belanja online. (dok. Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Asosiasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun mengatakan selama bulan Ramadan lapak online UMKM di platform digital mengalami peningkatan. Secara umum penjualan produk UMKM meningkat 20 persen.

"Ada peningkatan bisa naik sampai 20 persen," kata Ikhsan saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Bisnis makanan di platform digital menjadi yang paling laris. Ikhsan menilai hal ini disebabkan masyarakat yang enggan keluar rumah karena masih dalam situasi pandemi.

"Bisnis yang paling jalan di pandemi ini pengantaran makanan dan minuman karena orang masih tidak mau keluar," kata Ikhsan.

Hingga saat ini Ikhsan menyebut baru 16 juta pelaku UMKM yang beralih ke platform digital. Angka yang masih cukup rendah dari total UMKM yang ada di Indonesia.

"Sudah ada 15 juta sampai 16 juta pelaku UMKM yang berjualan online," kata dia.

Masih rendahnya angka ini, dinilai karena keterbatasan pelaku usaha untuk beralih ke sistem digital. Proses interaksi jual-beli membutuhkan kemahiran khusus. Sedangkan banyak pelaku UMKM yang berusia di atas 40 tahun yang mengalami kesulitan berjualan online.

"Kemahiran para UMKM ini dibutuhkan buat jualan online, sementara umur mereka banyak yang di atas 40 tahun, ini jadinya repot," kat dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Belanja Online Jadi tren, Transaksi E-Commerce Dunia Sentuh Rp 60.900 Triliun di 2021

Berburu Diskon di Harbolnas
Perbesar
Calon Konsumen membuka aplikasi situs belanja online di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). Konsumen berburu diskon di salah satu situs jual beli online yang menawarkan beragam potongan harga khusus pada hari belanja online nasional (Harbolnas). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sekalipun pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari setahun, dan pola konsumsi masyarakat mulai kembali normal, kenyataannya tren belanja online masih akan terus tumbuh. Riset terbaru dari Adobe menunjukkan nilai transaksi di e-commerce akan terus naik signifikan tahun ini.

Dikutip dari Forbes, Sabtu (1/5/2021) dalam riset terbarunya berjudul Adobe Digital Economy Index, memprediksikan nilai transaksi di e-commerce di tahun ini akan menyentuh USD 4,2 triliun atau sekitar Rp 60.900 triliun.

Penjualan e-commerce global dicatat telah mencapai USD 876 miliar atau sekitar Rp 12.702 triliun pada kuartal pertama tahun ini, naik 38 persen secara tahunan. Lebih dari seperlima nilai tersebut berasal dari transaksi e-commerce di negeri paman sam. Kuartal pertama, transaksi di e-commerce Amerika Serikat (AS) sekitar USD 199 miliar atau sekitar Rp 2.885 triliun. Naik 39 persen secara tahunan.

Secara satu tahun fiskal 2021, Adobe juga memperkirakan pengeluaran e-commerce AS tahun ini berjumlah antara USD 850 miliar hingga USD 930 miliar, dan akan melampaui USD 1 triliun pada tahun 2022.

Selain mainan, furnitur atau berlangganan video game, e-commerce juga mulai diserbu para konsumen yang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari, terutama bahan makanan.

Ini berdasarkan riset yang dilakukan Adobe di tiga negara, AS, Inggris dan Jepang. Salah satu alasan dibalik meningkatnya tren penjualan bahan pangan sehari-hari di platform e-commerce dikarenakan harganya yang lebih kompetitif.

Lebih dari separuh konsumen di ketiga negara tersebut mengatakan bahwa mereka yakin dapat menghemat uang dengan berbelanja bahan makanan secara online.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓