Ernawati, Nasabah BRI yang Merangkai Sukses dari Ikut Jejak Ayah di Usaha Kain

Oleh Tira Santia pada 04 Mei 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 04 Mei 2021, 15:15 WIB
Ernawati, sukses mengembangkan usaha kain dan perlengkapan jahit bernama Cahaya Sablon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Perbesar
Ernawati, sukses mengembangkan usaha kain dan perlengkapan jahit bernama Cahaya Sablon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Liputan6.com, Jakarta - Mengikuti jejak sang ayah, Ernawati, perempuan berusia 40 tahun sukses mengembangkan usaha kain dan perlengkapan jahit. Usaha bernama Cahaya Sablon ini beralamat di Jalan Seth Adjie No. 10B, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

“Kalau usaha mulai saya kecil, sedari kecil ikut menjaga toko bersama bapak. Mulai SMP selalu diajak bapak langsung bantuin di toko. Cuma memegang sendiri itu di tahun 2012 lepas dari bapak. Saya mengembangkan itu di tahun 2012 dengan usaha tambahan payet,” kata Ernawati kepada Liputan6.com, Selasa (4/5/2021).

Seiring berjalannya waktu, usaha Ernawati semakin berkembang. Itu lantaran tokonya tersedia barang yang lengkap yang diperlukan konsumen umum maupun keberadaan penjahit khususnya.

Saat ini, Toko Cahaya Sablon memiliki 4 cabang, dengan aset 3 unit toko. Dari usahanya, Ernawati mampu mengantongi omset hingga Rp 12,5 juta per hari. Jika sedang sepi pelanggan biasanya lebih rendah. “Kita dalam satu toko itu dapat Rp 12,5 juta per hari, paling sepinya Rp 7-8 juta per hari,” imbuh ibu 1 anak ini.

Tak selalu mulus, usaha Ernawati juga terdampak pandemi. Omset usaha sempat anjlok hingga 74 persen. Kondisi ini tak membuatnya menyera. Ikut memikirkan kondisi para pekerja yang tidak mendapat penghasilan lagi, Ernawati beralih berjualan masker, dan jenis-jenis herbal untuk tambah-tambah penghasilan.

Selain itu, Ernawati memproduksi baju kebaya dari kain yang ada di toko agar para pemayet tetap mendapatkan pemasukan khusus di masa pandemi ini.

“Alhamdulillah dari bahan-bahan di toko dipayet sendiri. Jadi saya memanfaatkan bahan-bahan brukat kita payet sendiri biar mereka tetap ada pendapatan. Sehingga saat ini 6 orang yang mempayet,” ungkapnya.

Ernawati mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha ini. Meski peran ganda dia lakukan. Mulai dari menjadi istri sekaligus ibu.

Terbiasa bekerja sedari kecil membantu sang ayah, sehingga ketika sibuk dengan pekerjaan di toko, dia tidak terbebani melainkan menikmatinya.

 

 

2 dari 3 halaman

Jadi Nasabah BRI

Ernawati, sukses mengembangkan usaha kain dan perlengkapan jahit bernama Cahaya Sablon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Perbesar
Ernawati, sukses mengembangkan usaha kain dan perlengkapan jahit bernama Cahaya Sablon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Selain mengikuti jejak sang ayah membuka usaha jahit, ada satu lagi yang diikuti Ernawati. Yakni, dia kerap mengantar ayah ke bank untuk meminjam modal usaha.

Dari sini, saat ingin mengembangkan usahanya, Ernawati tak lagi ragu melakukan hal sama. “Kalau bapak pinjam ke BRI saya sering ikut. Akhirnya saya belajar otodidak dengan melihat bapak saya, dan akhirnya saya meminjam Rp 400 juta untuk mengembangkan usaha,” kata Ernawati.

Akhirnya pada 2012, perempuan asal Palangkaraya ini resmi menjadi nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Dari pinjaman Rp 400 juta itu, Rp 125 juta digunakan untuk membuka usaha payet, kemudian sisanya digunakan untuk kebutuhan kain dan perlengkapan jahit.

“Saya pinjam Rp 400 juta dipakai untuk payet dan sisanya digunakan untuk kebutuhan toko punya bapak,” ujarnya.

Dari usaha payet tersebut, Ernawati memberdayakan 4 hingga 6 ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya sebagai pemayet.Tujuannya sungguh mulia, Ernawati ingin para perempuan itu bisa menambah pemasukan untuk kebutuhan rumah tangganya.

Untuk sistem penggajian pekerja payet, Ernawati menerapkan sistem target. Pendapatan mereka tergantung seberapa banyak yang dihasilkan. Biasanya 1 pekerja mampu memperoleh Rp 150 ribu-Rp 250 ribu per harinya.

“Dihitung sesuai yang dikerjakan mereka, sehari mereka pendapatan sekitar Rp 150 ribu per hari ada yang sampai Rp 200-250 ribu per hari,” imbuhnya.

Ernawati kemudian memberanikan diri kembali meminjam KPR untuk pembelian ruko. Dari sini, Toko Cahaya Sablon mempunyai 4 cabang dengan aset 3 unit toko, yang semuanya dimiliki melalui pembiayaan BRI. 1 toko telah lunas dan 2 toko masih berjalan pembayarannya di BRI Palangka Raya.

Berkat bantuan dari BRI usahanya semakin berkembang. “BRI, mereka membantu banget, mereka sudah percaya sama saya karena saya fokus kalau menabung selalu di BRI jadi mereka bisa melihat perputaran keuangan saya. Ketika saya butuh bantuan modal BRI cepat kasihnya,” ungkapnya.

Ernawati juga berharap kedepannya bisa menambah toko baru lagi khusus payet. Agar bisa memberdayakan lebih banyak perempuan-perempuan di sekitarnya.

“Impiannya saya ingin punya toko lagi, saya ingin punya toko khusus payet,” pungkasnya.(*)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓