Sempat Diremehkan, Ieko Damayanti Sulap Eceng Gondok Jadi Produk Mendunia Lewat BRILian Preneur

Oleh Tira Santia pada 03 Mei 2021, 19:07 WIB
Diperbarui 03 Mei 2021, 20:29 WIB
Pengusaha UMKM, Ieko Damayanti pemilik CV Sahabat Alam handycraft dengan merek “Ratu Eceng”. Istimewa
Perbesar
Pengusaha UMKM, Ieko Damayanti pemilik CV Sahabat Alam handycraft dengan merek “Ratu Eceng”. Foto: Istimewa

Liputan6.com, Jakarta Hampir setiap orang memiliki cita-cita dalam hidupnya. Bagi beberapa orang, impian ibarat sebuah nyawa. Demi berhasil mencapainya, bahkan rela sekuat tenaga melangkah maju meskipun perlu keluar dari zona nyaman.

Termasuk Ieko Damayanti, perempuan berusia 33 tahun memiliki cerita menarik dalam mewujudkan cita-cita membangun CV Sahabat Alam Handycraft, UMKM kerajinan tangan berbahan baku eceng gondok dengan merek “Ratu Eceng”.

Tentunya merintis usaha di usia muda bukan hal yang mudah bagi Ieko. Apalagi dia menilai dirinya hanya lulusan SMA yang kemungkinan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Dari sini, dia berpikir membangun usaha. Jika bisa justru membangun perusahaan yang mempekerjakan banyak orang.

“Saya memulai usaha tahun 2008 dengan modal Rp 150 ribu. Seorang gadis umur 20 tahun modalnya kecil tapi mimpinya kegedean tapi tidak punya modal. Bagaimana caranya umur 20 tahun ingin punya usaha dengan modal sekecil-kecilnya tapi untung sebesar-besarnya,” kata Ieko kepada Liputan6.com, Senin (3/4/2021).

Pilihan Ieko jatuh pada usaha kerajinan anyaman eceng gondok karena menilai peluangnya cerah di masa mendatang. Apalagi bahan baku ini banyak terdapat di daerah sekitarnya.

Dia secara otodidak mempelajari anyaman eceng gondok. Lambat laun, kemampuannya terasah.  Dari tangan terampilnya, lahir berbagai produk kerajinan anyaman.

Mulai dari cover pot, tempat tisu, aneka keranjang, hiasan dinding, tikar, hingga kursi dan masih banyak lagi. Harga 1 produk dibanderol mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 8 juta, tergantung tingkat kesulitan dan besar kecilnya produk. 

Mencari Modal

Membangun bisnis juga membutuhkan modal usaha. Dia memutuskan bekerja sampingan di toko konter ponsel. Harapannya, dari sini memegang modal awal.

“Untuk mendapatkan modal usaha lagi biar berputar dengan aku bekerja dulu. Aku bekerja di konter handphone hanya 10 hari, sehabis itu aku lanjutkan usaha eceng gondok untuk bangkit lagi karena sudah mendapat modal,” ujarnya.

Setelah  bisnisnya berjalan dan membutuhkan modal tambahan, Ieko memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank.

Adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI yang akhirnya memberikan bantuan pinjaman. Berkat bantuan modal usaha dari BRI, Ieko mampu membeli mobil angkutan bahan baku dan jadi alat mengikuti berbagai pameran.

Tak sebatas modal, CV Sahabat Alam Handycraft juga mengikuti program BRI Incubator. Pada program ini, kerajinan eceng gondok Ieko masuk 10 besar di Indonesia.

Bahkan, bermula dari BRI Incubator dia bisa mengenalkan eceng gondok anyamannya ke pembeli di luar negeri.

“Ketika BRILian Preneur 2019 saya diundang dan lolos oleh BRI sehingga saya bisa menampilkan produk saya di BRILian Preneur. Dan disitulah saya akhirnya bertemu dengan buyer dari Los Angeles, pemasaran kita bukan hanya ke Los Angeles tapi pemasaran kita Alhamdulillah sudah ke Jepang,” ujar perempuan asal Tangerang ini.

Ieko mengaku sangat senang dan berterima kasih bisa bekerjasama dengan BRI. Bank BUMN ini sangat mendukung usahanya, baik dari segi permodalan, pendampingan, dan pelatihan-pelatihan.

“Saya berpikir ini tidak hanya cukup sampai di sini tapi bagaimana usaha ini terus berkembang dan terus bermanfaat bagi orang banyak. Terimakasih BRI atas support luar biasanya,” imbuhnya.

 

2 dari 3 halaman

Memberdayakan Perempuan

Pengusaha UMKM, Ieko Damayanti pemilik CV Sahabat Alam handycraft dengan merek “Ratu Eceng”. Istimewa
Perbesar
Pengusaha UMKM, Ieko Damayanti pemilik CV Sahabat Alam handycraft dengan merek “Ratu Eceng”. Foto: Istimewa

Ieko sadar perlu membagi keterampilan menganyam eceng gondok ke perempuan lain di sekitarnya. Selain bisa menopang usahanya, juga membantu para perempuan tersebut mandiri dengan menghasilkan pendapatan buat keluarga.

“Tetangga-tetangga aku ajak kerjasama, bagaimana kalau seandainya dia menganyam nanti kita kerja sama, dan hitungan satu tasnya misalnya berapa rupiah,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya orderan, jumlah orang-orang yang Ieko ajarkan bertambah. Tidak hanya kelurahan di Sindang Jaya saja tapi sudah ke daerah-daerah kecamatan Ciledug Parung Serab.

Untuk penganyam, Ieko memprioritaskan perempuan. Hingga kini, terdapat 11 penganyam perempuan membantu.

Ieko ingin agar perempuan disekitarnya memiliki nilai lebih dalam hidupnya dan bisa mencari uang. Serta dapat menambah nilai ekonomi untuk keluarga. Sementara untuk laki-laki diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku eceng gondok.

Untuk sistem penggajian, Ieko menerapkan sistem target. Semuanya tergantung seberapa banyak penganyam dalam membuat anyaman. Biasanya ada yang menghasilkan hingga Rp 200 ribu dari hasil menganyam.

“Kebanyakan kita lebih banyak bayar di muka. Selain aku menghasilkan benefit untuk diri aku sendiri aku juga harus menghasilkan benefit untuk orang lain. Satu penganyam biasanya paling banyak menganyam 10 anyaman. Itu untuk cover pot yang kecil,” ujarnya.

Bicara tentang omset, saat ini bisa mengantongi Rp 15 juta-Rp 35 juta. Nilai ini luar biasa sekali buat Ieko. Meski dia tidak puas sampai situ saja. Tetap ingin meningkatkan agar omset penjualan semakin bertambah.

“Usaha ini bukan hanya untuk meraup keuntungan bagi diri saya sendiri, tapi untuk masyarakat banyak,” imbuh ibu 1 anak ini.

Buah Hasil Usaha

 

Dari usahanya yang sempat diremehkan orang, kini Ieko mampu membangun 1 rumah baru, dan membuat rumah produksi anyam sendiri.

Mimpi ke depan, perempuan berusia 33 tahun ini juga berencana akan membuat galeri rumah cantik anyam berlantai 3.

“Dari hasil usaha ini saya sudah bikin 1 rumah lagi, aku juga bikin gudang memisahkan rumah tinggal dengan rumah produksi. Rencananya aku pengen bikin galeri 3 lantai,” tutup dia.

Pimpinan BRI KCP Karang Tengah Ciledug Affan Nurhadi, menyebut Ieko merupakan salah satu nasabah BRI yang memiliki kemauan dan kemampuan yang baik dalam mengembangkan suatu usaha.

“Salah satunya beliau adalah binaan dari BRI unit kemudian dengan kegigihan dan ketepatan waktu dalam melakukan pembayaran pun. Kemudian beliau bisa naik kelas dan beliau kita beri fasilitas pinjaman KUR dengan pemberdayaan perempuan yang sekarang memang digalakkan oleh BRI secara keseluruhan,” ujar Affan.

Dia pun menegaskan, bahwa Ieko adalah orang yang sangat tangguh dan ulet. Dengan usaha yang sangat jarang sekali, Affan menilai kemampuan diri Ieko yang ingin mencoba memajukan lingkungan dan sumber daya yang ada sangat tinggi. (*)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓