PMI Manufaktur Indonesia Naik ke Level 53,2 Berkat Pemulihan Ekonomi yang Menguat

Oleh Liputan6.com pada 29 Apr 2021, 11:52 WIB
Diperbarui 29 Apr 2021, 11:54 WIB
Penggunaan robot di industri manufaktur
Perbesar
Penggunaan robot di industri manufaktur (dok: Universal Robot)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan sinyal pemulihan ekonomi global dan Indonesia terus menguat, hal itu terlihat dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang tercatat diangka 53,2 di bulan Maret 2021.

Dimana PMI manufaktur Indonesia sebesar 53,2 pada Maret tersebut meningkat dari level 50,9 di bulan Februari 2021. Menurut Febrio, angka PMI Maret menunjukkan ekspansi selama lima bulan berturut-turut dan tertinggi sejak April 2011.

“Tentang PMI global dan bagaimana Indonesia juga sudah sangat ekspansif dan ini angkanya sudah menunjukkan 5 bulan berturut-turut dan angka terakhir 53,2 ekspansif itu merupakan angka tertinggi sejak April 2011,” kata Kepala BKF Febrio, dalam Thee Kian Wie Lecture Series ”Pemulihan Ekonomi dari Pandemi Covid-19: Telaah Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi” Kamis (29/4/2021).

Melihat hal tersebut, Febrio menegaskan pentingnya untuk menjaga optimisme dari sisi suplai manufaktur dan bagaimana demand nanti diharapkan bisa mulai bergerak sesuai dengan disiplin kesehatan yang masih terus terjaga.

“Ini yang memang kita harapkan bisa terus kita jaga untuk pemulihan ekonomi kita secara signifikan di 2021 ini,” ujarnya.

Sementara, secara global kinerja manufaktur meneruskan tren penguatannya seiring kenaikan pada permintaan baru, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. Sehingga dunia bisnis secara global optimis terhadap pemulihan ekonomi ke depan karena didorong adanya proses vaksinasi, yang diyakini bisa terus meningkatkan PMI Manufaktur.

Disamping itu, Febrio juga menyebut tingkat konsumsi masyarakat membaik pada Maret 2020. Hal itu terlihat dari tingkat keyakinan masyarakat yang terus membaik seiring dengan akselerasi program vaksinasi dan mulai meningkatnya aktivitas perekonomian secara umum.

“Konsumsi masyarakat ini juga mulai leveling off dan menunjukkan optimisme tentunya ini dibantu oleh kebijakan-kebijakan yang kita keluarkan untuk mulai mendorong sisi demand lagi,” katanya.

2 dari 3 halaman

Pandemi Covid-19

Program Imunisasi Balita di Masa Pandemi COVID-19
Perbesar
Petugas paramedis memeriksa suhu tubuh seorang ibu sebelum mengantarkan anaknya mengikuti imunisasi di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Kamis (26/11/2020). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Meskipun di satu sisi memang sebagian masyarakat masih kuatir dengan kondisi covid-19. Di satu sisi masyarakat juga melakukan disiplin 3M 3T, lantaran masyarakat sebenarnya ingin sekali untuk mulai meningkatkan mobilitasnya dan mulai meningkatkan konsumsinya.

“Tetapi sentimen inilah yang perlu kita jaga supaya masyarakat semakin percaya diri dan masyarakat semakin nyaman untuk melakukan kegiatan aktivitas ekonominya dan konsumsi bisa meningkat,” ujar Febrio.

Bahkan konsumsi diperkirakan akan terus menguat pada Q2-2021. Tanda-tanda ini memang semakin kuat berdasarkan data bulan Maret kemarin, dimulai dari indeks penjualan ritel, indeks keyakinan konsumen, penjualan mobil, konsumsi listrik, google mobility, konsumsi semen, ekspor dan impor terutama dari sisi bisnis dan industrinya terpantau sangat positif.

“Konsumsi semen juga kita lihat terus meningkat, ekspor terus membaik ini cukup tinggi di bulan maret itu 30,26 persen YoY, dan impor juga sudah mulai meningkat artinya pertumbuhan dilihat dari Manufaktur itu sudah mulai kelihatan, bagaimana barang input dan barang modal itu mulai digunakan di sektor manufaktur,” pungkasnya.   

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓