Puluhan Poktan di Gunung Kidul Dapat Bantuan Alsintan

Oleh Reza pada 28 Apr 2021, 17:37 WIB
Diperbarui 28 Apr 2021, 17:37 WIB
Alsintan
Perbesar
Petani makin bersemangat melakukan aktivitasnya di sawah untuk penuhi stok pangan di Provinsi Sulteng.

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian (Kementan) kepada puluhan kelompok tani (Poktan) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pemberian Alsintan ini diberikan kepada 2 kategori. Kategori pertama adalah masyarakat yang merupakan Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA), Koporasi Petani dan Kelomppok Usaha Bersama (KUB) serta masyarakat tani.

"Kategori kedua adalah Pemda Provinsi, Kabupaten/Kota dan Korem/Kodim. Untuk itu, sebelum mengajukan bantuan Alsintan, kami akan pastikan petani sudah termasuk ke dalam dua kategori tersebut," ujar Mentan SYL, Selasa (27/4).

Menurutnya, hal tersebut penting dilakukan, sehingga peralatan mesin pertanian yang dibutuhkan dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, juga untuk memastikan Alsintan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan.

"Karena bantuan Alsintan umumnya hanya akan diberikan kepada petani yang berkontribusi aktif terhadap peningkatan hasil pertanian untuk bangsa Indonesia," tegas Mentan SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, apabila alsintan bisa dikelola dengan baik akan memberi penghasilan tambahan bagi Poktan atau Gapoktan. Poktan atau Gapoktan bisa membentuk UPJA, koperasi dan kelompok usaha bersama (KUB) untuk mengembangkan alsintan bantuan pemerintah.

"Alsintan yang dikelola UPJA di sejumlah daerah sudah banyak yang berhasil. UPJA terbukti bisa memberikan nilai tambah kepada poktan atau gapoktan," kata Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, bantuan alsintan ke petani harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, petani yang menggunakan alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.

"Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari per hektare. Dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam per ha. Sehingga, penggunaan alsintan 40 persen lebih efisien," tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto mengatakan, bantuan tersebut berupa 70 alat mesin pertanian, di antaranya tiga unit power thresher, lima unitcornshelerataupemipil jagung, satu unit unit pengolahan hasil (UPH) Mokaf yang bersumber dari pusat/Kementerian Pertanian dan 39 unit alat olahan hasil pertanian.

"Pengadaan alsintan melalui APBN dan APBD Gunung Kidul. Hampir setiap tahun kami memberikan fasilitas ini agar petani di Gunung Kidul lebih maju kembali," kata Bambang Wisnu.

Ia mengatakan, bantuan alsintan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kehilangan hasil karena pasca panen, mempercepat pasca panen serta menaikkan nilai ekonomi hasil pertanian agarkesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

Selain itu, pemkab juga melakukan pembangunan infrastruktur air. Antara lain lima damparit untuk mendukung tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) 10 unit, irigasi perpompaan besar mendukung tanaman pangan dan perkebunan lima unit.

Dinas juga melakukan pembangunan irigasi perpipaan untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan empat unit serta irigasi perpompaan menengah untuk hortikultura dua unit untuk mendongkrak produktivitas tangan pangan dan modernisasi sektor pertanian di Gunung Kidul.

"Bantuan untuk mengurangi kehilangan hasil komoditas pertanian, mempercepat proses panen, meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, menyediakan infrastruktur air, serta upaya mitigasi bencana dampak perubahan iklim," katanya.

Wakil Bupati Gunung Kidul, Heri Susanto juga mengungkapkan rasa bangganya kepada petani-petani yang telah berkontribusi banyak untuk memajukan perekonomian Gunung Kidul, terutama di masa pandemi ini.

"Upaya pemkab adalah bagaimana optimalisasi lahan dengan paling tidak setiap sentuhan teknologi pada akhirnya nanti akan meningkatkan produksi pangan kita. Maka dalam kesempatan hari ini, untuk bisa membantu dan meringankan proses pengolahan baik itu lahan, pasca panen dan sebagainya sehingga produksi itu menjadi lebih meningkat," katanya.

 

(*)