Penjualan Mobil Diramal Kembali Lesu Jika Diskon PPnBM Berakhir

Oleh Liputan6.com pada 27 Apr 2021, 17:45 WIB
Diperbarui 27 Apr 2021, 17:45 WIB
Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Pekerja mengecek mobil baru siap ekspor di IPC Car Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menyebut, pemberian insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) sebesar 100 persen dilakukan pemerintah tidak cukup berkelanjutan atau sustainable.

Sebab, kebanyakan masyarakat beli kendaraan roda empat bukan karena kebutuhan, akan tetapi melihat adanya diskon.

Sementara diskon yang diberikan pemerintah sendiri ada tahapanya, di mana paling besar ditanggung 100 persen. Lalu diikuti insentif PPnBM sebesar 50 persen dari tarif yang akan diberikan pada tahap kedua, dan insentif PPnBM 25 persen dari tarif akan diberikan pada tahap ketiga hingga akhir tahun 2021.

"Artinya diperkiakan penjualan kendaraan bermotor roda empat akan menurun sejalan dengan pengurangan diskon sampai akhir tahun," jelasnya dalam acara diskusi Mendobrak Inersia Pemulihan Ekonomi, Selasa (27/4).

Dia mengakui, pemanfaatan diskon pajak mobil ini mampu meningkatkan penjualan di tahun ini. Bahkan pertumuhannya bisa mencapai 11 persen. Artinya memang ada efek yang luar biasa positif dari hasil stimulus PPnBM di Maret 2021.

Bahkan pada April dan Mei 2021 diperkirakan bakal ada peningkatan penjualan kendaraan bermotor lebih dari 11 persen. Akan tetapi dirinya khawatir begitu masa diskonnya habis industri otomotif akan kembali kepada kondisi terpuruk sebelum adanya stimulus.

"Diperkiakan penjualan kendaraan bermotor roda empat akan menurun sejalan dengan pengurangan diskon sampai akhir tahun. Artinya bisa meningkatkan penjualan tahun ini, tapi masa diskonnya habis, kita perkirakan akan kembali ke kondisi semula sebelum diberikan stimulus," pungkasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ada Diskon PPnBM, Penjualan Mobil Baru di 2021 Diprediksi Tembus 830 Ribu Unit

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Gidion Hasan membeberkan sederet dampak positif atas diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 100 persen yang efektif belaku per 1 Maret 2021 lalu. Pertama, pertumbuhan market barang mobil secara signifikan setelah program tersebut digulirkan.

"Dampak program PPnBM untuk di 2021 ini sampai dengan Maret ketika pajak luxury di bebaskan menjadi 0 persen kita melihat ada pertumbuhan market signifikan," tuturnya dalam sesi dalam sesi teleconference RUPST ASII, Kamis (22/4).

Dia mengungkapkan, lonjakan market atas PPnBM itu lantaran program diskon pajak yang ditawarkan dinilai mampu menyesuaikan daya beli konsumen yang tengah mengalami tekanan sebagai dampak pandemi Covid-19. "Jadi, boleh dibilang market sangat terbantu dengan program pembebasan pajak ini," tekannya.

Kedua, ialah proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) atas peningkatan penjualan unit mobil baru mencapai 80 ribu unit atau menjadi 830.000 setelah PPnBM diberlakukan. Mengingat, sebelumnya penjualan mobil baru pada 2021 diamalkan hanya mencapai 750.000 unit.

"Dan dari Gaikindo di proyeksikan untuk tahun 2021 ini diperkirakan market akan tumbuh sekitar lebih banyak 80 ribu unit dibandingkan proyeksi awal yang sebesar 750 ribu," ucapnya.

"Jadi, pandang kami program pembebasan pajak barang mewah (PPnBM) ini cukup menolong dari segi pertumbuhan market," tutupnya.

 

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com  

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Diskon Pajak Mobil Baru Gairahkan Industri Suku Cadang hingga Asuransi

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Pekerja mengecek mobil baru siap ekspor di IPC Car Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin meyakini kebijakan pemberlakuan diskon PPnBM untuk mobil dengan mesin di atas 1500cc mulai April 2021, bisa memberikan afek berganda (multiplier effect) bagi sektor usaha lainnya.

“Untuk mendorong demand dari kelas menengah sejak Maret 2021 pemerintah memberikan relaksasi pajak pembelian mobil dan rumah melalui pembebasan PPnBM dengan uang muka 0 persen. Kebijakan ini telah berhasil mendorong penjualan mobil,” kata Wapres dalam Forum Indonesia Bangkit Vol.1 Strategi Sektor Kesehatan Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya kebijakan ini memberikan dampak positif ke sektor-sektor usaha ikutannya, mulai dari pemasok suku cadang, ritel, pembayaran hingga industri asuransi.

Oleh karena itu, dunia usaha dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ini dengan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan dorongan stimulus fiskal melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

“Serta investasi dari dunia usaha secara bersamaan akan mempercepat pemulihan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Penyesuaian terhadap kondisi new normal nantinya juga akan tetap diterapkan di berbagai sektor ekonomi,” katanya.

Adapun dengan adanya penurunan kasus covid-19  dan vaksinasi, membuat mobilitas masyarakat yang meningkat secara terbatas memberikan rasa optimisme terhadap perbaikan konsumsi masyarakat.

“Oleh karena itu ekspansi dunia usaha melalui investasi diharapkan dapat kembali meningkatkan produksi dan menyerap tenaga kerja,” ujarnya.

Lanjutnya, tepat 1 tahun lebih bangsa Indonesia, telah berjuang mengatasi pandemi covid 19. Dimana fokus besar diarahkan untuk penanganan sektor kesehatan dengan harapan bangsa Indonesia dapat keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi atau disebut istilah Pandeksit atau pandemic exit, sehingga ekonomi dapat kembali berjalan normal.

“Pandemi memberikan pelajaran baru bagi kita semua, pandemi membawa perubahan norma dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Langkah 3M mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak harus tetap terus diterapkan secara disiplin sebagai upaya memutus rantai penularan virus,” pungkasnya.     

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓