Kemenhub Ungkap Penyebab Tingginya Angka Kecelakaan, Salah Satunya Supir Ugal-Ugalan

Oleh Athika Rahma pada 20 Apr 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 20 Apr 2021, 13:00 WIB
Kronologi Kecelakaan Maut Tol Cipali Hingga Menewaskan Empat Orang
Perbesar
Jajaran Polres Majalengka melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan maut Tol Cipali yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia. Foto (istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (kemenhub) mencatat tingginya tingkat kecelakaan angkutan darat di Indonesia. Data Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Kepolisian RI 2019, terdapat 109.244 kecelakaan, 29.478 diantaranya bersifat fatal.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan, kecelakaan truk dan bus menjadi yang terbesar ke-2 setelah sepeda motor. Dirinya juga membeberkan beberapa faktor penyebabnya.

"Operasional angkutan yang tidak berkeselamatan seperti bus memuat muatan yang berlebihan, ini tidak hanya hari besar tapi di beberapa daerah terutama di Kalimantan, Sumatera dan sebagainya," ujar Budi dalam Sinergi Pemerintah dan Operator dalam Mewujudkan Angkutan yang Berkeselamatan, Selasa (20/4/2021).

Faktor lainnya ialah perilaku supir bus yang ugal-ugalan dalam berkendaran. Budi menyebut contoh fenomena tersebut, seperti "om telolet om" yang sempat viral, meski fenomena yang memicu perilaku ugal-ugalan tersebut sudah tidak ada lagi.

Kemudian, faktor kompetensi SDM pengemudi dan mekanik. Dalam beberapa kasus, Kemenhub dan Kepolisian menemukan bahwa supir tidak bisa dijadikan satu-satunya pihak yang salah dalam kasus kecelakaan.

"Kasus di Tanjakan Emen, saya tanya operator dan Kepolisian, sebetulnya supirnya tidak ada keluhan kinerja rem, tapi dari pengawasnya memberikan petunjuk yang tidak sesuai, lalu diakali dan akhirnya kecelakaan. Kami bersama Kepolisian selalu berkomitmen, kami sepakat, faktor penyebab kecelakaan tidak cuma pengemudi saja tapi ada pihak lain," ujar Budi.

Selain itu, faktor penyebab kecelakaan lainnya berupa gejala speleng kemudi, odol, pecah ban, rem bolong hingga rangka patah.

2 dari 3 halaman

KNKT: Mbah Google Itu Baik, tapi Kadang Juga Tidak Baik

Google Map
Perbesar
(ilustrasi)

Sebelumnya, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyoroti aplikasi peta Google Maps yang banyak digunakan oleh masyarakat saat berkendara. Ia menyarankan agar masyarakat tetap bijak ketika mengikuti penunjuk jalan di Google Maps untuk menghindari kecelakaan.

Soerjanto mengatakan ada beberapa kecelakaan karena mengikuti Google Maps. Hal ini disebabkan pengguna jalan tidak mengetahui dengan pasti kondisi jalan yang akan dilaluinya.

"Ada beberapa kejadian karena mengikuti mbah Google (Google Maps) tadi, lalu masuk ke jalan kecil, kemudian banyak jalanannya turunan tajam sehingga terjadi beberapa kecelakaan," kata Soerjanto dalam acara virtual Launching Kampanye Kolaboratif "Yuk Selamat Bersama" pada Rabu (17/3/2021)

Ia pun mengimbau masyarakat untuk terus berhati-hati ketika berkendara menggunakan layanan peta digital, seperti halnya produk teknologi lain.

"Ini juga menjadi tugas kita semua untuk bijak kalau kita menggunakan Google Maps. Benar tidak jalanan ini aman kita lewati. Mbah Google itu baik, tapi kadang-kadang juga tidak baik," sambungnya.

Soerjanto menyadari bahwa penggunaan teknologi tidak bisa dihindari. Melihat banyaknya masyarakat menggunakan Google Maps, pihak KNKT pun telah berkomunikasi dengan Google agar bisa memberikan jalan alternatif yang aman di layanannya.

"Kami juga sudah bekerja sama dengan Google untuk jalan-jalan seperti itu diblokir saja, tidak menjadi alternatif," tuturnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓