Kartini Masa Kini: Kegigihan Antarkan Ricca Susana Jadi Pengusaha Sukses, dari Bisnis Kredit Barang hingga TBS

Oleh Tira Santia pada 20 Apr 2021, 12:22 WIB
Diperbarui 20 Apr 2021, 12:22 WIB
Ricca Susana (37) Pengepul Tandan Buah Segar (TBS) sawit asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Perbesar
Ricca Susana (37) Pengepul Tandan Buah Segar (TBS) sawit asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 banyak memukul sektor ekonomi di Tanah Air. Namun kondisi berbeda pada komoditas sawit. Seperti diakui Ricca Susana (37 tahun), pengepul Tandan Buah Segar (TBS) sawit asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Di tengah pandemi, omzet bisnisnya justru melonjak. Angkanya menembus hingga miliaran per bulan di tengah pandemi. “Rp 2,5 miliar per bulan. Kalau dulu kan masih sedikit-sedikit. Selama pandemi ini harga sawit itu naik banget,” kata Ricca kepada Liputan6.com, Selasa (20/4/2021).

Ricca bercerita, sudah sekitar 10 tahunan menjadi pengusaha TBS. Lebih tepatnya memulai usaha sejak 2010 di bawah naungan CV QUEENT.

Usaha tersebut ia rintis bersama sang suami dengan modal awal Rp 200 juta. Sebelumnya, Ricca sempat menjajal bisnis kredit barang, dengan modal awal Rp 50 juta.

Namun Ricca berubah pikiran ingin beralih menjadi pengusaha TBS saja. Pemikiran timbul lantaran melihat sifat sawit yang berkelanjutan dan bisa replanting kembali.

Apalagi daerah di Kalimantan didominasi perkebunan kelapa sawit, sehingga kesempatan untuk berusaha TBS sangat terbuka lebar.

“Dulu pemikiran saya di sawit itu untuk bisnis permanen, maksudnya berkelanjutan karena di sini sektornya sawit. Kalau tambangkan itu ada masa habisnya, tapi sawit itu begitu sudah tidak produktif lagi ya nanti replanting lagi bisa diperbaharui. Jika tambangkan tidak bisa diperbaharui,” ungkapnya.

Awalnya ia masih menumpang surat perintah kerja (SPK) kepada orang lain. Seiring berjalannya waktu Ricca akhirnya memiliki SPK sendiri.

Ricca bercerita, berbisnis TBS sangat menguntungkan pada saat ini akibat harganya yang sedang bagus.

“Omset semakin tinggi karena harga sawit sekarang tinggi banget sudah sampai Rp 2.000-Rp 2.200 per kg, naiknya harga sawit per kg selama pandemi mencapai 30-40 persen tidak sampai 50 persen. Kalau dulu kan masih Rp 1.000 per kg, sekarang tinggi banget,” ujar dia.

Dalam sehari ia mampu menyuplai TBS ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sampai 300 ton per hari. Dengan pemasarn penjualan TBS ke PKS di sekitar Pangkalan Bun dan kota Waringin Lama.

Untuk pengepulan TBS, Ricca tidak terjun langsung melainkan mengandalkan kerjasama dengan petani. Dia membawahi sekitar 50-80 pengepul.

“Saya berdua saja dengan suami dan keponakan untuk bantu-bantu karena tidak begitu susah. Bukan saya yang langsung terjun ke lapangan tapi kita kerjasama dengan pengepul dan petani. Jadi mereka yang kirim buah dari situ nanti kita bayar,” kata Ricca.

Bantuan Modal

Ternyata, kesuksesan Ricca tidak terlepas dari bantuan modal. Adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang bersedia membantunya.

Dirinya sudah 3 kali mengajukan pinjaman modal ke BRI. Pertama sebesar Rp 50 juta untuk modal bisnis kredit barang. “Tapi sebelum di TBS pun saya sudah di-support sama BRI namun bidang usaha lain, namanya ibu rumah tangga usaha kredit-kredit barang,” jelas dia.

Berlanjut, dia mengajukan pinjaman modal kedua kali senilai Rp 200 juta saat memulai bisnis TBS. Karena melihat hasil yang baik, dia memberanikan mengajukan pinjaman lebih besar lagi hingga Rp 3,5 miliar masih untuk mengembangkan bisnis TBS.

Dari bantuan modal inilah, dia mengaku usahanya bisa semakin berkembang. “Saya sangat terbantu sekali, karena bunga pinjamannya rendah sekali. Terus untuk proses akadnya dipercepat tidak lama, mudah. Sejauh ini saya menjadi nasabah BRI tidak mengalami kesulitan dalam hal meminjam, Alhamdulillah lancar-lancar saja,” ungkapnya.

Dukungan dari BRI bukan tanpa sebab. Ricca tercatat memiliki rekam jejak pembayaran yang baik dan lancar. Dengan selalu menggunakan transaksi melalui di BRI, seperti fasilitas Giro, tabungan dan lainnya. 

2 dari 3 halaman

Tak Pikirkan Untung Semata

20160304-Kelapa Sawit-istock
Perbesar
Ilustrasi Kelapa Sawit (iStockphoto)

Meski begitu, Ricca sadar langkah suksesnya ada andil pihak lain. Sebab itu dia mengaku tak ingin selalu memikirkan untung semata.

Memang untuk pengepulan TBS, Ricca tidak terjun langsung. Melainkan mengandalkan kerjasama dengan petani. Sekitar 50-80 pengepul bekerjasama dengannya.

Sejauh ini, Ricca menyebut tidak pernah mengalami pengalaman yang buruk. Persaingan antar pengusaha yang lain masih dalam batas yang wajar.

“Kadang harga juga fluktuatif, sejauh ini tidak ada masalah persaingan usaha TBS yang buruk karena semuanya sama-sama teman. Cuman karena TBS ini seperti saya bilang usaha yang pasti karena permanen dan bisa berkelanjutan, otomatis bagi orang yang tertarik dengan bisnis ini itu banyak,” ungkapnya.

Ricca tidak menampik ada sedikit kendala dalam bisninya. Masalah tiba ketika memasuki musim trek. Musim trek merupakan sebuah musim ketika hasil panen buah menurun drastis, bahkan tidak menghasilkan buah sama sekali.

“Biasanya mungkin dapat 1 ton jadi berkurang jadi 50 persen. Pernah tahun kemarin berkurangnya sampai 70 persen. Kalau sudah ngetrek gitu sudah hukum alam, jadi sudah musimnya. Kadang walaupun dipupuk dan dirawat tapi musimnya memang seperti itu,” jelas Ricca.

Kendati begitu, tetap ada perbedaan sawit yang dirawat ketika musim trek dengan yang tidak. Kalau yang tidak dirawat itu lebih turun lagi produksinya, tapi kalau yang dirawat dampaknya tidak turun drastis.

Dikatakan hal yang terpenting kebun tetap dirawat agar pengaruhnya tidak begitu memburuk terhadap produksi TBS ketika memasuki masa trek.

Rangkul Petani

Kepada petani, Ricca mengaku ikut memberi perhatian. Seperti kerap memberikan bantuan perawatan berupa pupuk agar sawit petani menghasilkan kualitas TBS yang baik.

Bantuan pupuk dinilai akan berdampak ganda. Tidak hanya buat petani tetapi juga pihak terkait termasuk dirinya. Jika TBS yang dihasilkan bagus, otomatis PKS akan terus memesan kepada petani tersebut melalui Ricca.

Ricca pun berpesan kepada pengusaha TBS lainnya baik di wilayah Kalimantan dan wilayah lainnya agar merangkul petani-petani TBS, jangan hanya mencari untung saja. Menurut dia wajib hukumnya untuk saling menguntungkan dalam berusaha.

“Pesan saya untuk di TBS kita harus wajib merangkul petani agar saling menguntungkan simbiosis mutualisme, kita bisa support mereka dan mereka pun bisa memberikan hasil yang terbaik,” ujar Ricca.

Dia mencontohkan saat petani yang terkadang ingin cepat meraih hasil dari penjualan sawit, sehingga sebagian dari mereka mempercepat masa panen.

Namun sebenarnya hal itu berpengaruh terhadap kualitas sawit yang ternyata belum matang sepenuhnya. Maka dari itu sebagai pengusaha TBS juga turut berkontribusi mengedukasi para petani.

“Jadi kita bantu mereka untuk memberikan edukasi kalau buahnya dipanen sebelum waktunya. Sehingga pengusaha TBS tidak cuman mengambil hasil saja tapi harus ada kontribusinya juga ke petani agar kualitas TBS yang kita kirim ke PKS pun itu bagus dan terjaga. Karena itu juga akan berpengaruh kepada harga,” pungkasnya.(*)

3 dari 3 halaman

Rangkul Petani

20160308-Ilustrasi-Kelapa-Sawit-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Kelapa Sawit (iStockphoto)

Kendati begitu, tetap ada perbedaan sawit yang dirawat ketika musim trek dengan yang tidak. Kalau yang tidak dirawat itu lebih turun lagi produksinya, tapi kalau yang dirawat dampaknya tidak turun drastis. Yang terpenting kebun tetap dirawat agar pengaruhnya tidak begitu memburuk terhadap produksi TBS ketika memasuki masa trek.

Demikian, Ricca berpesan kepada pengusaha TBS lainnya baik di wilayah Kalimantan dan wilayah lainnya agar merangkul petani-petani TBS, jangan hanya mencari untung saja. Menurutnya wajib hukumnya untuk saling menguntungkan dalam berusaha.

“Pesan saya untuk di TBS kita harus wajib merangkul petani agar saling menguntungkan simbiosis mutualisme, kita bisa support mereka dan mereka pun bisa memberikan hasil yang terbaik,” ujar Ricca.

Terkadang petani ingin cepat meraih hasil dari penjualan sawit, sehingga sebagian dari mereka mempercepat masa panen. Namun sebenarnya hal itu berpengaruh terhadap kualitas sawit yang ternyata belum matang sepenuhnya. Maka dari itu sebagai pengusaha TBS juga turut berkontribusi mengedukasi para petani.

“Jadi kita bantu mereka untuk memberikan edukasi kalau buahnya dipanen sebelum waktunya. Sehingga pengusaha TBS tidak cuman mengambil hasil saja tapi harus ada kontribusinya juga ke petani agar kualitas TBS yang kita kirim ke PKS pun itu bagus dan terjaga. Karena itu juga akan berpengaruh kepada harga,” pungkasnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓