Tekan Angka Kemiskinan, Indonesia Butuh Lebih Banyak Pengusaha

Oleh Liputan6.com pada 17 Apr 2021, 21:20 WIB
Diperbarui 17 Apr 2021, 21:47 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir
Perbesar
Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Arsjad Rasjid di acara Pelantikan Pengurus MES DKI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia saat ini dinilai masih kekurangan pengusaha. Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Arsjad Rasjid menyatakan populasi pengusaha sangat penting untuk menanggulangi permasalahan ekonomi bangsa.

Di acara Pelantikan Pengurus MES DKI Jakarta, yang digelar di Jakarta, Sabtu (17/4/2021), Arsjad Rasjid yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin), mengingatkan bahwa semua pihak harus saling membantu, untuk membantu bertambahnya jumlah pengusaha di Indonesia.

"Supaya dan agar, bisa membuat lapangan pekerjaan yang lebih besar. Dengan membuat lapangan kerja lebih besar, akhirnya adalah mengurangi kemiskinan," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah sejauh ini sudah sangat mendukung iklim berusaha, agar tercipta lebih banyak lagi pengusaha di Indonesia. Ia menyinggung kebijakan-kebijakan Menteri BUMN yang juga Ketua MES, Erick Thohir, yang membuat perusahaan induk (holding) BUMN ultra mikro.

"Itu juga untuk membantu UMKM, dan itu kedepannya kita membuat pondasi, dengan cara membuat usaha-usaha mikro kecil menengah," jelasnya.

Dua hal yang menjadi kekurangan dari pengusaha di Indonesia, adalah literasi digital. Hal tersebut menurutnya penting untuk keberlangsungan usaha di era modern ini.

"Familiarization terhadap digitalisasi itu penting sekali, di sini bagaimana unsur unsur digital, bisa membantu pengusaha," terangnya.

Arsjad Rasjid yang saat ini juga berstatus Calon Ketua Umum Kadin, menjelaskan bahwa hal lain yang menjadi kekurangan pengusaha khususnya pengusaha UMKM, adalah literasi keuangan.

"Se-simple membuat buku (catatan keuangan), itu penting sekali, karena supaya bisa ada di perbankan," ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Kadin: Diskon PPnBM Jadi Obat Pulihnya Industri Otomotif

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pertumbuhan ekonomi dalam negeri berangsur mulai pulih dari dampak pandemi. Ini dinilai sebagai dampak positif dari kebijakan-kebijakan pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Kamar Dagang (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid dalam acara buka bersama yang digelar di kantor Kadin DKI Jakarta, Jumat 16 April 2021, kemarin.

Arsjad Rasjid mengakui bahwa pemerintah cukup jeli melihat permasalahan-permasalahan yang ada di setiap industri, dan bisa mengambil kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Contoh PPNBM, dihilangkan supaya industri otomotif bisa terus bergerak, jadi saya rasa pemerintah juga melihat, dan selalu melihat bagaimana yang terbaik sebagai obat, setiap penyakit yang ada pada setiap Industri," ujarnya dikutip Sabtu (17/4/2021).

Untuk menanggulangi terganggunya pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19, menurutnya juga dibutuhkan kesehatan dari masyarakat.

Arsjad Rasjid yang juga merupakan Calon Ketua Umum Kadin, mengatakan negara yang rakyatnya sudah terbebas dari virus, akan lebih mudah keluar dari permasalahan ekonomi.

"Saya percaya kita semua harus sehat dulu, kita harus pulihkan dan bangkitkan ekonomi," katanya.

Oleh karena itu, menurutnya vaksinasi adalah hal yang harus didukung oleh semua pihak. Ia juga mengimbau kepada semua pihak, untuk mengurangi perpecahan, dan bersatu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.

"Kita harus bersatu, jangan tidur karena kita hadapi ini seperti perang, kita harus sadar itu," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓