Sedih, Dana Riset Indonesia Kalah Dibanding Malaysia dan Vietnam

Oleh Liputan6.com pada 15 Apr 2021, 11:40 WIB
Diperbarui 15 Apr 2021, 11:40 WIB
20151101-Penyimpanan Uang-Jakarta
Perbesar
Tumpukan uang di ruang penyimpanan uang BNI, Jakarta, Senin (2/11/2015). Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah rekening simpanan dengan nilai di atas Rp2 M pada bulan September mengalami peningkatan . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Program Indef, Eshter Sri Astuti mengatakan, dana Riset and Development (RnD) Indonesia tertinggal dibandingkan Malaysia dan Vietnam. Hal ini yang kemudian membuat indeks inovasi dan teknologi Indonesia masih berada pada peringkat 70-an.

"Dari dana riset dan development Indonesia masih rendah. Sehingga tidak heran dari indeks inovasi dan teknologi kita tadi masih berada diranking 70-an," ujar Eshter dalam diskusi online, Jakarta, Kamis (15/4).

Dia mengatakan, dana RnD Indonesia juga masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Singapura, Jepang dan Korea. Adapun dana riset Indonesia hanya 0,24 persen dari PDB.

"Padahal disini, Malaysia dan Thailand relatif lebih banyak. Singapura sadar betul RnD dan inovasi sangat penting bagi kemajuan negaranya," jelas Eshter.

Eshter mengatakan pemerintah sebenarnya sangat menyadari pentingnya inovasi melalui riset. Sebab, riset dan inovasi menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi.

"Kenapa inovasi sangat penting, karena inovasi dampaknya kalau kita lihat dari teori pertumbuhan salah satunya adalah ada labor, capital dan technologi itu komponen yang mendukung pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Apabila pembangunan labor atau SDM bagus, maka kualitas SDM kemudian bagus. Apalagi juga didukung oleh modal dan teknologi yang memadai maka secara langsung akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Dana RnD juga sangat mendukung kalau dialokasikan lebih besar artinya apabila pemerintah mendorong riset dan pengembangan inovasi maka dampaknya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semakin besar alokasi dana RnD maka itu sangat positif bagi ekonomi," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Jokowi Minta Pertamina Tambah Dana Riset Industri Minyak Nabati

Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi pernyataan tentang impor beras di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (26/3/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta PT Pertamina (Persero) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menambah kucuran dana riset untuk pengembangan industri katalis minyak nabati.

Menurut dia, saat ini Pertamina membutuhkan 50 katalis. Namun hanya tiga katalis yang diproduksi dalam negeri sementara sisanya hasil impor.

"Padahal kita punya kemampuan produksi katalis itu. Nanti kita tindaklanjuti dalam ratas khusus. Kita ingin bisa produksi dengan bahan produksi sendiri," kata Jokowi dalam Rakornas Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasionas di Tangerang Selatan, Kamis (30/1/2020).

Dalam acara itu, Jokowi sempat berbincang dengan Kepala Tim Riset Katalis dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Subagjo. Kepada Jokowi, Subagjo pun menceritakam bahwa selama ini Pertamina memberikan bantuan berupa alat seharga Rp8 miliar.

Sementara itu, BPDPKS memberikan dana riset sebanyak Rp35 miliar. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai dana riset dari Pertamina dan BPDPKS sangatlah kecil.

"Pertamina itu bukan bantuan. Rp 8 miliar (untuk Pertamina) itu kecil. (Dana Sawit) itu juga kecil. Dana sawit kita mendekat Rp35 triliun, untuk apa disimpan saja," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓