Jokowi: Ekonomi Kuartal II 2021 Paling Tidak Harus di Atas 7 Persen

Oleh Lizsa Egeham pada 15 Apr 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 15 Apr 2021, 10:45 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berterima kasih kepada umat Hindu yang beribadah tetap mematuhi protokol kesehatan saat sambutan Peringatan Dharma Santi Nasional Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1943, Sabtu (27/3/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia harus di atas 7 persen di kuartal II 2021. Jokowi mengatakan bahwa kuartal II 2021, akan sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberi arahan kepada peserta Rapat Koordinasi Kepala Daerah di Istana Negara Jakarta, Rabu 14 April 2021. Setidaknya, ada 114 petahana dan 255 kepala daerah baru yang hadir dalam acara ini.

"Hati-hati di kuartal II tahun ini, berarti bulan April, Mei, Juni ini sangat menentukan sekali pertumbuhan ekonomi kita bisa melompat naik atau tidak. Kalau tidak, kuartal berikutnya kita akan betul-betul sangat berat," jelas Jokowi melalui video yang diunggah di Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (15/4/2021).

"Kita harus bisa meningkatkan, menaikkan paling tidak di atas 7 persen di kuartal II," sambungnya.

Dia menyadari bahwa untuk mencapai target tersebut bukanlah hak yang mudah. Untuk itu, Jokowi meminta dukungan pemerintah daerah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Begitu di kuartal II bisa mencapai angka yang tadi saya sampaikan kuartal berikutnya akan menjadi lebih mudah," katanya.

Menurut dia, salah satu yang dapat dilakukan kepala daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yakni, dengan mempermudah setiap investasi yang masuk. Pasalnya, investasi yang masuk akan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Namun, apabila pemerintah daerah memperlambat izin investasi, maka sama saja dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah. Padahal, kunci pertumbuhan ekonomi nasional dari agregat pertumbuhan ekonomi di daerah.

"Kalau ekonomi daerah tidak naik, tidak meningkat, artinya juga ekonomi nasional juga tidak akan meningkat," ujar Jokowi.

Dia menyampaikan bahwa hampir semua negara saat ini berkonsentrasi kepada investasi. Jokowi berharap implementasi pelaksanaan UU Cipta Kerja dapat optimal sehingga meningkatkan investasi.

"Berikan dukungan penuh kepada dunia usaha yang ingin investasi atau yang sudah ada untuk bisa kembali segera bangkit," ucap Jokowi.

2 dari 4 halaman

IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Sentuh 6 Persen di 2021

FOTO: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perbesar
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

The International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional mengumumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang naik pada Prospek Ekonomi Dunia yang diselenggarakan Selasa (6/4/2021) di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Ekonomi global diperkirakan tumbuh 6 persen di 2021, dan berkurang jadi 4,4 persen pada 2022. Proyeksi ini berubah drastis dari perkiraan kontraksi -3,3 persen pada 2020 ketika dunia terserang pandemi Covid-19.

"Ini mencerminkan dukungan fiskal tambahan yang diberikan Amerika Serikat, program vaksinasi yang akan memperkuat masa pemulihan dalam setengah tahun ini, dan juga berlanjutnya ketahanan aktivitas ekonomi terhadap pandemi di banyak bagian dunia," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath, Rabu (7/4/2021).

Gopinath menekankan, ketidakpastian tinggi turut mempengaruhi proyeksi IMF lantaran wabah pandemi belum berhasil dikalahkan, dan kasus positif justru semakin cepat menyebar di banyak negara.

Hal tersebut membuat proses pemulihan di tiap negara jadi berbeda, sebagaimana ekonomi bergantung pada proses vaksinasi yang lambat, dukungan kebijakan yang lebih terbatas, dan harapan pada sektor pariwisata yang kurang berhasil.

"Risiko terbesar saat ini masih tetap pandemi. Jika ada varian virus baru yang tak terjangkau vaksin, itu bisa menyebabkan penurunan tajam. Tapi di sisi lain, jika program vaksinasi dapat dipercepat, itu bakal meningkatkan prospek," tutur Gopinath.

Dia juga menyoroti proses pemulihan supercepat dapat menimbulkan risiko keuangan jika suku bunga yang ditetapkan Amerika Serikat meningkat jauh dengan cara tak terduga.

Hal itu dapat menyebabkan peningkatan valuasi aset yang turun secara tak teratur, kondisi keuangan yang sangat mengetat, dan prospek pemulihan memburuk, utamanya untuk pasar negara berkembang yang memiliki leverage tinggi.

"Risiko besar kedua adalah kondisi keuangan. Kita lihat percepatan pemulihan dan suku bunga naik. Suku bunga meningkat dengan cara yang tidak teratur dapat berimplikasi negatif untuk beberapa negara, khususnya untuk negara berkembang," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Utang Tinggi, Perlu Kebijakan Cermat

Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018
Perbesar
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menurut dia, pihak regulator perlu terus mendukung ekonomi negaranya sembari berhadapan dengan ruang kebijakan terbatas dan Level utang lebih tinggi dari sebelum pandemi. Hal itu membutuhkan langkah kebijakan yang lebih cermat untuk menyisakan celah bagi dukungan berkelanjutan jika memang diperlukan.

"Sangat penting agar dukungan kebijakan terus berlanjut di masa krisis ini. Tentu saja negara-negara tengah berhadapan dengan tingkat utang tinggi. Oleh karenanya mereka harus membuat kebijakan yang tepat sasaran dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi, tahap pemulihan, dan karakteristik struktural ekonomi negaranya," imbuhnya.

Selain itu, Gopinath juga mendesak pihak bank sentral untuk menjaga akses keuangan yang mudah dalam situasi saat ini. "Kebijakan moneter juga harus tetap akomodatif sambil secara proaktif menangani risiko keuangan, berbekal makro prudensial sebagai alatnya," tandasnya. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓