Sri Mulyani Berharap Bank Dunia dan IMF Bantu Negara di Seluruh Dunia Kelola Utang

Oleh Liputan6.com pada 12 Apr 2021, 11:15 WIB
Diperbarui 13 Apr 2021, 10:13 WIB
Sri Mulyani Mencatat, Defisit APBN pada Januari 2019 Capai Rp 45,8 T
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). APBN 2019, penerimaan negara tumbuh 6,2 persen dan belanja negara tumbuh 10,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut propsek pemulihan ekonomi semakin membaik seiring peluncuran vaksin dan dukungan kebijakan program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Namun, masih terdapat ketidakseimbangan pemulihan global sebab di beberapa negara ekonomi diproyeksikan mengalami pertumbuhan positif sementara negara yang terpukul lebih keras memiliki proyeksi pertumbuhan yang jauh lebih rendah.

“Kami berharap Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional dapat meningkatkan upaya dalam mendukung negara-negara di seluruh dunia, untuk secara efektif mengelola beban utang mereka, meningkatkan akses mereka ke vaksin dan menerapkan strategi pemulihan pertumbuhan mereka,” kata Menkeu secara daring pada Komite Pembangunan / Development Commitee (DC) World Bank Spring Meeting 2021, ditulis Senin (12/4).

Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan yang tidak semestinya pada keuangan sektor publik. G20, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional dan kreditor swasta harus bekerja sama untuk memastikan skema pembagian beban yang adil untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah.

“Kami membutuhkan pengawasan dan bimbingan yang lebih besar dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi masalah utang yang terus meningkat dan mengurangi tekanan yang meningkat,” ungkap Menkeu.

Mengenai pemulihan perekonomian, Menkeu menyambut baik usulan pembangunan yang tangguh dan inklusif sebagai kerangka komprehensif untuk mengintegrasikan pertimbangan pembangunan dan penanggulangan perubahan iklim.

“Sebagai penutup, saya ingin menggarisbawahi harapan saya agar Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional dapat melanjutkan dan memperkuat peran pentingnya sebagai mitra yang dapat diandalkan dan mitra pembangunan yang efektif bagi negara-negara anggotanya di saat dibutuhkan,” pungkas Menkeu.

Sebagai informasi, Komite Pembangunan / Development Commitee (DC) adalah forum tingkat Menteri dari Kelompok Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional untuk pembangunan konsensus antar pemerintah tentang isu-isu pembangunan. Komite ini didirikan pada tahun 1974 dan memiliki 25 anggota, biasanya Menteri Keuangan atau Pembangunan, dan yang mewakili keanggotaan penuh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Anak Buah Sri Mulyani Pede Ekonomi Indonesia Tumbuh 8 Persen di Kuartal II 2021

FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Hidayat Amir optimis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 bisa mencapai 7 hingga 8 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Proyeksi itu didasarkan dari beberapa indikator perekonomian yang terus menunjukkan tren perbaikan.

"Nah kuartal II (2021) kita cukup yakin kalau ritme dan tren perbaikannya terus berlanjut. Ritme pemulihannya bisa diakselerasi, pertumbuhan 7 sampai 8 persen itu sesuatu yang realistis juga," tegasnya dalam webinar bertajuk Indonesia Macroeconomic Update 2021, Kamis (8/4).

Hidayat mengungkapkan, beberapa leading indicator tersebut seperti peningkatan penjualan segmen kendaraan bermotor dalam beberapa waktu terakhir. Menyusul pemberlakuan intensif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen sejak 1 Maret lalu.

Selain itu, pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP untuk penjualan rumah diyakini turut mendongkrak kinerja sektor properti. Sehingga turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal II nanti.

Terakhir, terkontraksinya pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 lalau hingga -5,3 persen (yoy) diyakini menjadi alasan kuat pertumbuhan ekonomi tinggi pda kuartal II tahun ini. Yakni bisa menyentuh level 8 persen

"Jadi, ini sebetulnya ya masuk akal, yang pertama (kuartal II 2020) secara teknikal hitungannya kita memiliki basis atau baseline yang sangat rendah di tahun lalu. Kedua, kita melihat dari sisi tren berbagai indikatornya terus meningkat," bebernya.

Kendati demikian, dia menyebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi tinggi di kuartal II nanti harus dibarengi dengan kontrol ketat terhadap penyebaran virus Covid-19. Mengingat, jika penyebaran virus mematikan asal China tidak terkontrol maka akan menghambat pertumbuhan ekonomi tahun ini.

"Saya termasuk yang agak konservatif cara melihatnya, karena kalau kontrol covid-nya ini lepas, (pertumbuhan ekonomi) ke belakang akan jauh lebih sulit," ujar dia mengakhiri.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com 

3 dari 4 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,3 Persen di 2021 Bukan Mimpi, Ini Pendorongnya

Prediksi BI Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan
Perbesar
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,5 persen-5,3 persen di 2021. Target ini sejalan dengan beberapa proyeksi pertumbuhan dari beberapa lembaga-lembaga keuangan internasional.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi tersebut bisa terjadi jika Indonesia bisa memanfaatkan dua momentum. Momentum pertama yakni terjadinya peningkatan terhadap beberapa harga komoditas ekspor yang saat ini telah mengalami peningkatan secara signifikan.

"Ada dua hal yang akan menjadi game changer di luar dari vaksinasi yang sudah berjalan yang pertama ini kita happy karena ada rebound ekspor yang membuat harga-harga komoditas ekspor itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata Bima dalam Webinar Indonesia Bangkit 2021, secara Virtual, Rabu (7/4/2021).

Jika dilihat terjadinya kenaikan ekspor ini dipicu oleh permintaan dari China dan Amerika Serikat (AS) terhadap bahan baku atau barang barang jadi dari Indonesia. Selain itu, kenaikan ekspor juga dipicu Pemerintah AS yang telah memberikan stimulus USD 1,9 triliun.

Menurutnya stimulus dari AS sangat berpengaruh terhadap peningkatan ekspor Indonesia yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi. Di mana ekspor Indonesia secara langsung ke Amerika 10 persen porsinya. Kemudian ke China itu lebih dari 13 sampai 15 persen porisinya.

"Jadi kalau digabungkan raksasa besar ini kemarin tertidur 2021 ini bangun Amerika dan China ini akan menarik permintaan ekspor komoditas asal Indonesia," jelasnya. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓