BERANI BERUBAH: Pengusaha Sound System Curi Kesempatan di Bisnis Sayur Segar

Oleh Ratu Annisaa Suryasumirat pada 12 Apr 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 12 Apr 2021, 06:00 WIB
Packing Sayur Segar
Perbesar
Bayu Fajri Hadyan dibantu dengan karyawannya membersihkan dan mengepak ulang sayur segar yang dibelinya dari pasar. Sayur yang sudah siap dimasak itu pun dijual lewat Instagram dan Whatsapp, serta diantar langsung ke pembeli. (Foto: Liputan6.com).

Liputan6.com, Jakarta - Setahun lebih berjalan, pandemi Covid-19 telah mematikan ribuan bisnis. Tak tercuali yang berhubungan dengan panggung konser atau event organizing. Aturan Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB) yang mewajibkan protokol kesehatan ketat membuat dunia panggung mati suri. 

Bayu Fajri Hadyan adalah salah satu dari ribuan pengusaha yang terdampak pandemi. Memilki usaha penyewaan sound system, dia pun merasakan dahsyatnya dampak pandemi.

Bisnisnya bukan lagi lesu, namun di ujung tanduk kematian. Mau tak mau dia harus Berani Berubah agar bisa terus bertahan dan membayar karyawan.

“Jadi setelah 2 bulan tidak ada pemasukan sama sekali, akhirnya di bulan Mei waktu itu kebetulan istri saya di handphone ada notifikasi bahwa salah satu perusahaan pengiriman sayur online saat itu overload, jadi dia tidak bisa melakukan pengiriman satu sampai dua minggu,” tutur Bayu kepada Tim Berani Berubah.

“Karena mungkin saking tingginya permintaan saat itu ya. Dari situ saya berpikir bahwa, wah ternyata bidang ini berarti bisa jadi opportunity, bisa jadi kesempatan,” lanjut dia.

Bayu akhirnya beralih bisnis menjual sayur segar. Memanfaatkan infrastruktur yang sudah dimiliki dari usaha sebelumnya, dia akhirnya menemukan cara untuk tetap bisa berdiri tegak di tengah terjangan pandemi. Tak hanya untuk dirinya dan keluarga, namun juga untuk belasan karyawannya.

Kini, omzet bisnis sayur segar miliknya bisa menembus Rp 70 juta per bulan, apalagi saat bulan Ramadan. Menurutnya, daya konsumsi masyarakat jauh lebih meningkat lagi di saat bulan suci. Sebab, momen untuk sahur dan berbuka dijadikan saat untuk menyantap lebih banyak variasi makanan. Penjualan sendiri hanya dilakukan lewat media sosial Instagram dan Whatsapp.

“Mungkin karena orang kalau berpuasa cenderung lebih ingin masak di rumah, lebih banyak ingin mengkonsumsi gitu ya. Kalau ngelihat tren sebelumnya kita akan cenderung lebih fokus ke bahan makanan manis ya, untuk orang buka puasa itu tinggi,” ujar Bayu. 

Selamat dari Kebangkrutan

Bayu Bersama Keluarga
Perbesar
Bayu Fajri Hadyan sedang menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. (Foto: Liputan6.com).

Sekarang Bayu bisa bernafas lega. Bisnis sayur segarnya telah menyelamatkan dia dari keterpurukan. Bayu pun tak sampai harus benar-benar gulung tikar dari usaha penyewaan sound system berkat omzet dari penjualan sayur segar.

“Dulu ketika awal pandemi kalau saya nggak menjalankan bisnis sayur ini, mungkin saya udah selesai,” ujar dia.

“Jadi (mungkin) usaha saya ini udah bener-bener nggak ada, mungkin sekarang saya lagi apply-apply lamaran kerjaan berhenti jadi pengusaha, kalau saat itu tidak menjalankan industri sayur,” sambung Bayu.

Dia pun mengingatkan agar pantang menyerah dan terus kreatif mencari cara untuk bisa berpenghasilan. Jangan sampai kalah dari keadaan, inovasi harus terus dilakukan bila ingin bisa bertahan. 

“Untuk bisa bertahan di tengah pandemi yang situasinya masih nggak pasti seperti ini, kita semua tuh harus Berani Berubah!” dia mengakhiri.

Pastinya cerita ini menjadi kisah inspiratif untuk pantang menyerah di saat kondisi terpuruk. Yuk, ikuti kisah ini maupun yang lainnya dalam Program Berani Berubah, hasil kolaborasi antara SCTVIndosiar bersama media digital Liputan6.com dan Merdeka.com.

Program ini tayang di Stasiun Televisi SCTV setiap Senin di Program Liputan6 Pagi pukul 04.30 WIB, dan akan tayang di Liputan6.com serta Merdeka.com pada pukul 06.00 WIB di hari yang sama.

Ingin tahu cerita lengkapnya, simak dalam video berikut ya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓