IMF Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Sri Mulyani: Penuh Ketidakpastian

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 09 Apr 2021, 17:15 WIB
Diperbarui 09 Apr 2021, 17:15 WIB
Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Gedung bertingkat mendominasi kawasan ibu kota Jakarta pada Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati angkat bicara seputar prediksi Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang mengkoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada 2021, atau lebih rendah dari proyeksi pemerintah di level 4,5-5,3 persen.

Menurut Sri Mulyani, prediksi IMF soal pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut keluar karena faktor ketidakpastian di tengah wabah pandemi Covid-19 pada tahun ini.

"Buat kita semua prediksi sekarang selalu subject to uncertainty. Pasti asumsinya macam-macam, vaksinasi, terjadi 3rd wave, dan yang lain-lain," ujar Sri Mulyani dalam Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional di Bali, Jumat (9/4/2021).

Namun, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, Pemerintah Inodnesia akan terus mengontrol dari sektor kebijakan dan melakukan penyesuaian diri (adjusment).

"Makanya tahun 2021 kita melakukan berbagai adjusment sesudah kita cukup berhasil untuk menahan kontraksi tidak terlalu dalam," kata Sri Mulyani.

Dia kemudian membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih lebih baik dibanding negara lain, dengan minus 2,19 persen di kuartal IV 2020 berbanding negatif 8-9 persen.

"Itu karena fiskal defisit yang relatif lebih kecil defisitnya, yaitu 6 persen dibandingkan negara lain yang defisitnya bisa double digit yaitu 10-12 bahkan 15 persen seperti di Amerika Serikat," terangnya.

Pemerintah disebutnya juga terus mempercepat program vaksinasi di 2021 ini. Menurut dia, vaksinasi akan menjadi faktor penentu (game changer) dalam proses pemulihan di tengah pandemi Covid-19.

"Jadi ini yang akan menjadi salah satu yang kita akselerasi. Indonesia termasuk the top 10 countries yang sudah sangat banyak," tukas Sri Mulyani.

 

2 dari 3 halaman

Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Sudah Mulai Pulih

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II 2020 Minus 5,32 Persen
Perbesar
Anak-anak bermain di bantaran Kanal Banjir Barat dengan latar belakang gedung pencakar langit di Jakarta, Kamis (6/8/2020). Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai pulih dari dampak Pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi yang mengalami tren perbaikan.

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level ekspansif sekitar 50. Kemudian realisasi investasi dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2020 lebih tiggi dibandingkan posisi tahun sebelumnya.

Selain itu perbaikan lain juga ditunjukan dari proporsi keuangan masyarakat terhadap simpanan yang trus meningkat Serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai Tukar Rupiah (NTR) sudah kembali ke level pra pandemi.

"Dari sisi ekonomi tanda-tanda pemulihan sudah terlihat," kata dia dalam webinar Optimalisasi UU Cipta Kerja Sebagai Strategi Utama Akselerasi Investasi Indonesia, Selasa (30/3/2021).

Dia menambahkan, berbagai lembaga internasional Bank Dunia, OECD, ADB, dan IMF bahkan memperkiakan pertumbuhan ekonomi di 2021 berada di 4,4 sampai 5,1 persen. Kemudian pada 2022 sekitar 4,8 sampai 6,0 persen.

Proyeksi tersebut sejalan dengan target pemerintah pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 persen -5,3 persen. Terutama ini didukung oleh program vaksiansi masal, kelanjutan program PEN dan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja serta pengendalian Covid-19 melalui PPKM mikro.

Pemerintah juga terus berupaya memitigasi dampak pandemi guna menjaga momentum pemulihan kesehatan dan ekonomi. Khususnya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat dari sisi konsumsi dan investasi, melalui berbagai strategi 2021.

"Pertama pemerintah tetap akselerasi pelaksanaan vaksinasi untuk memulihkan kepercayaan publik," katanya.

Hingga 28 Maret 2021, vaksinasi telah tercatat realisasinya mencapai 10,49 juta dosis. Di mana dosis pertama diberikan kepada 7,25 juta orang, dan dosis kedua diberikan kpd 3,24 juta orang.

Pelaksanaan tersebut akan terus diupayakan agar kekebalan kelompok dapat dicapai dalam waktu satu tahun.

Bersamaan program vaksinasi, pemerintah konsisten lakukan pembatasan kegiataan masyarakat skala mikro untuk menekan angka pertamabahan Covid-19 dengan menyeimbangkan aspek sosial ekonomi.

Strategi kedua, pemerintah komitmen lanjutkan penanganan anggaran Covid-19 . Di mana anggaran PEN di tahun ini alokasinya mencapai Rp699,43 triliun. Jumlah ini meningkat dibandingkan realisasi PEN tahun lalu yang sebesar Rp579,78 triliun atau terjadi kenaikan 20 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓