Menko Airlangga Sebut Peningkatan PMI Manufaktur Berkat PPnBM Mobil Baru

Oleh Liputan6.com pada 07 Apr 2021, 12:30 WIB
Diperbarui 07 Apr 2021, 12:30 WIB
Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto saat bertemu secara virtual dengan Menteri Pasifik dan Lingkungan Inggris Right Honorable (Rt Hon.) Lord Zac Goldsmith, Rabu (31/3/2021).
Perbesar
Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto saat bertemu secara virtual dengan Menteri Pasifik dan Lingkungan Inggris Right Honorable (Rt Hon.) Lord Zac Goldsmith, Rabu (31/3/2021).

Liputan6.com, Jakarta Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 53,2 pada Maret 2021. Peningkatan PMI manufaktur ini menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sejak survei ini dimulai pada April 2011.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, peningkatan PMI manufaktur Tanah Air tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah. Salah satunya yakni kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP).

"Kita lihat penjualan otomitif meningkat terutama dengan tambahan fasilitas PPnBM yang di nol kan," kata Airlangga dalam Webinar Indonesia Bangkit, secara virtual, Rabu (7/4/2021).

Seperti diketahui, pemerintah memberikan insentif penurunan PPnBM untuk kendaraan bermotor pada segmen kendaraan dengan cc < 1500 yaitu untuk kategori sedan dan 4x2. Hal ini dilakukan karena pemerintah ingin meningkatkan pertumbuhan industri otomotif dengan local purchase kendaraan bermotor di atas 70 persen.

Pemberian insentif ini akan dilakukan secara bertahap selama 9 bulan, di mana masing-masing tahapan akan berlangsung selama 3 bulan. Insentif PPnBM sebesar 100 persen dari tarif akan diberikan pada tahap pertama, lalu diikuti insentif PPnBM sebesar 50 persen dari tarif yang akan diberikan pada tahap kedua, dan insentif PPnBM 25 persen dari tarif akan diberikan pada tahap ketiga.

Tak sampai di situ, Pemerintah juga kembali memperluas kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) hingga kendaraan dengan kapasitas mesin 2.500 cc, berlaku mulai 1 April 2021. Hal ini guna mendorong penjualan kendaraan bermotor roda empat (KBM-R4) produksi dalam negeri.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Indeks Manufaktur Indonesia Tembus Level Tertinggi Dalam 10 Tahun, Ini Rahasianya

Penggunaan robot di industri manufaktur
Perbesar
Penggunaan robot di industri manufaktur (dok: Universal Robot)

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan capaian Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 berada di level 53,2. Ini merupakan tertinggi dalam 10 tahun terakhir

"PMI manufaktur pada Maret 2021 meningkat 2,3 poin dari Februari 2021. Peningkatan PMI tersebut menjadi titik tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dan ini merupakan 6 bulan berturut-turut dimana PMI manufaktur kita pada titik agresif yaitu titik ekspansif," kata Agus dalam pembukaan Hannover Messe 2021 "Agro-based Industry Journey to Industry 4.0" pada Selasa (6/4/2021).

Pertumbuhan sektor industri ini juga didukung meningkatnya penanaman modal dari sektor industri. Berdasarkan data BKPM, sektor industri sepanjang Januari - Desember 2020 berhasil merealisasikan penanaman modal sebesar Rp 272,9 triliun, atau menyumbang 33 persen dari total nilai investasi nasional yang mencapai Rp 826,3 triliun.

Realisasi investasi tersebut berhasil tumbuh 26 persen dibandingkan 2019, yang mencapai Rp 216 triliun.

Menurut Agus, peningkatan investasi dan PMI menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia akan semakin cepat. Ia pun berharap pencapaian ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021.

"Salah satu upaya yang dapat didorong untuk akselerasi pertumbuhan industri adalah melalui penerapan peta jalan making Indonesia 4.0 atau revolusi industri 4.0.

Industri 4.0 akan menjadi salah satu cara Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2030. Ada tujuh sektor prioritas dalam Making Indonesia 4.0 yaitu industri makanan dan minuman, otomotif, elektronik, kimia, tekstil dan busana, farmasi, serta alat kesehatan.

Agus berharap penerapan industri 4.0 di Indonesia antara lain meningkatkan produktivitas dan inovasi, mengurangi biaya produksi, meningkatkan ekspor produk dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.

"Industri 4.0 merupakan upaya transformasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri, dimana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓