Peringatan Mendag: Harga Minyak Goreng Bakal Naik

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 07 Apr 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 07 Apr 2021, 10:45 WIB
Minyak Goreng
Perbesar
Ilustrasi/copyright unsplash.com/Cassiano Barletta

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebutkan, Indonesia akan memasuki periode supercycle pada masa pandemi Covid-19, dimana harga beberapa komoditas seperti minyak goreng akan naik secara signifikan.

Supercycle dapat didefinisikan sebagai periode lonjakan permintaan untuk beragam komoditas, yang menyebabkan lonjakan harga. Kondisi ini biasanya akan diikuti oleh jatuhnya permintaan.

Menurut Mendag Lutfi, ekonomi Indonesia secara makro akan terdorong dengan adanya fenomena supercycle, berkat kenaikan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Tapi di sisi lain, harga komoditas seperti minyak goreng justru akan naik.

"Jadi secara makro, ekonomi Indonesia terbantu karena kita penjual CPO terbesar di dunia, tetapi secara mikronya memang ada kenaikan harga minyak goreng ini karena harga feedstock-nya, harga pasokan utamanya naik luar biasa," jelasnya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Kendati begitu, dia meyakinkan jika supercycle ini sebenarnya akan membawa banyak manfaat bagi perekonomian Indonesia. Penilaian itu diberikannya dengan dasar bahwa Indonesia pernah mengalami supercycle selama 10 tahun pada periode 2004-2014.

"Ini sebenarnya membawa banyak juga manfaat bagi perekonomian Indonesia, karena harga BBM, harga minyak yang tadinya USD 13 bisa jadi USD 55 dengan kenaikan hampir 7 kali lipat pada tahun 2020, antara bulan Maret sampai bulan Desember," paparnya.

Meski demikian, fenomena supercycle ini secara tidak langsung memang akan menyebabkan beberapa barang komoditas di Indonesia jadi naik, salah satunya harga minyak goreng.

"Minyak goreng kita tuh naik nih dari Rp 10 ribu jadi Rp 12 ribu, bahkan Rp 13 ribu kemarin di Kota Padang. Kenapa? Karena harga CPO-nya yang Indonesia penjual terbesar di dunia, yang biasanya USD 600-700 hari ini lebih dari USD 1.000," pungkas Mendag Lutfi.

2 dari 3 halaman

Mendag Buka Potensi Harga Bawang dan Cabai Terus Turun saat Ramadan

FOTO: Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 120 Ribu per Kg
Perbesar
Pedagang menghitung harga cabai rawit merah yang dipesan pembeli menggunakan kalkulator di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (4/3/2021). Data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat harga cabai rawit merah saat ini di pasaran berkisar Rp120.000 per kilogram. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyatakan jika bahan pangan seperti bawang dan cabai aman dari lonjakan harga jika terjadi gagal panen.

Selain stok ketersediaannya mencukupi untuk puasa Ramadan dan Lebaran Idul Fitri 2021, dia juga buka kemungkinan jika harga komoditas bahan makanan potensi turun saat terjadi musim panen.

"Jadi saya bisa pastikan bahwa puasa Ramadan tahun ini harga-harga stabil, harga-harga terjangkau, bahkan dengan adanya panen kemungkinan besar akan menurun," kata Mendag Lutfi dalam kunjungan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/4/2021).

Guna menjaga hal tersebut, Mendag Lutfi juga telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi kemungkinan adanya gagal panen. Dia tak mau harga bawang dan cabai seketika kembali melonjak gara-gara terjadi gagal panen.

"Cabai ini barang yang sangat bergejolak ketika panen dan panceklik. Jadi saya bersama-sama dengan pengelola Pasar Jaya sedang mencari alternatif supaya barang ini bisa disimpan lebih lama," ungkapnya.

Salah satu strategi yang tengah disiapkan yakni terkait pola tanam, khususnya untuk komoditas cabai. Itu dilakukan agar harga cabai tidak meroket saat ketersediaan stok menipis.

"Mungkin pola tanamnya supaya bisa dipisahkan, supaya jangan melulu pada saat panen harga cabai jatuh, dan ketika barang tidak ada harga naik. Jadi ini yang akan kita jaga bersama-sama," tutur Mendag.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓