Kemenperin Nilai Revolusi Industri 4.0 Mampu Serap Banyak Tenaga Kerja

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 05 Apr 2021, 15:30 WIB
Diperbarui 05 Apr 2021, 15:30 WIB
Ilustrasi industri 4.0
Perbesar
Ilustrasi industri 4.0 (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Eko SA Cahyanto, menilai era revolusi industri 4.0 yang ada di depan mata nantinya bakal banyak menyerap tenaga kerja.

Penilaian itu sekaligus membantah perkiraan banyak orang, bahwa implementasi industri 4.0 bakal bergantung pada mesin, sehingga jumlah tenaga kerja otomatis berkurang.

"Padahal kalau kita betul-betul memanfaatkan teknologi ini kita justru akan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga kerja," kata Eko dalam acara Forum Merdeka Barat secara virtual, Senin (5/4/2021).

Oleh karenanya, Eko mengatakan, yang pertama dibutuhkan adalah bagaimana pemerintah dan pelaku industri bisa berusaha untuk mentransformasikan sumber daya manusia yang ada.

"Mereka harus aware dulu apa itu industri 4.0, kemudian bagaimana kita memberi kompetensi yang baru kepada mereka. Melakukan shifting ini harus dilakukan secara masif," imbuhnya.

Menurut dia, sektor industri sebenarnya saling berkaitan dengan investasi teknologi dan sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya, Kemenperin saat ini tengah fokus untuk ketiga hal itu.

"Untuk sumber daya manusianya sendiri kami melakukan awareness, mulai dari sosialisasi sampai ke pelatihan, kepada tidak hanya calon-calon tenaga kerja yang kami latih tetapi juga pelaku usaha industrinya itu sendiri," tuturnya.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Uji Coba

Revolusi Industri 4.0
Perbesar
Revolusi Industri 4.0. Dok: engineersjournal.ie

Eko lantas bercerita pengalamannya melihat uji coba (piloting) revolusi industri 4.0 pada beberapa kegiatan usaha, termasuk di sektor industri. Dia pun menemukan seringkali ada hambatan pada uji coba yang tidak dilakukan secara menyeluruh.

Dia lantas berkesimpulan bahwa transformasi SDM jadi tahap awal yang perlu dilakukan. Setelah itu baru dilihat kesiapan industrinya seperti apa.

"Kalau dilihat bagaimana implementasinya kami assessment dulu, assessment dilakukan kepada industri, kita mulai dengan self assessment kepada mereka. Mereka kita berikan panduan, kemudian mereka akan melakukan self assessment," pungkas Eko.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓