Menko Airlangga Beberkan 4 Pilar Kembangkan Ekonomi Digital di Indonesia

Oleh Athika Rahma pada 05 Apr 2021, 09:10 WIB
Diperbarui 05 Apr 2021, 09:10 WIB
FOTO: Kemristek Beri GeNose C19 kepada Kemenko Perekonomian untuk Deteksi COVID-19
Perbesar
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan saat menerima GeNose C19 dari Menristek Bambang Brodjonegoro di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/3/2021). GeNose C19 diharapkan dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan secara lebih masif. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan strategi pemerintah untuk mengembangkan ekonomi digital di Indonesia. Strategi tersebut, kata Airlangga, berlandaskan 4 pilar utama. Pertama, pengembangan SDM khususnya bagi talenta di bidang sains dan teknologi.

"Kedua, infrastruktur digital dan fisik yang kuat untuk meningkatkan arus ekonomi dan menciptakan lapangan kerja," ujar Airlangga dalam pembukaan Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI), Senin (5/4/2021).

Pilar ketiga pengembangan ekonomi digital di Indonesia ialah penyederhanaan birokrasi untuk mengurangi hambatan inovasi. Pilar terakhir ialah riset dan inovasi digital untuk memberi nilai tambah industri serta mendorong transformasi ekonomi.

Airlangga bilang, kerangka strategi ini juga menyangkut beberapa hal lintas sektor, seperti mempercepat digitalisasi di sektor bisnis dan industri, meningkatkan peluang dan pengembangan untuk mendorong konektivitas digital, lalu mendorong koordinasi antar sektoral dan lembaga.

Untuk mendukung 4 pilar pengembangan ekonomi digital ini, pemerintah telah menyiapkan beberapa rencana aksi baik dalam jangka pendek maupun panjang.

"Implementasi strategi digital para pemangku kepentingan telah diidentifikasi, dimana action plan dipimpin Kementerian dan Lembaga," katanya.

2 dari 3 halaman

Mantap, Nilai Ekosistem Ekonomi Digital Indonesia Nomor 1 di Dunia

FOTO: Pengembangan Sistem Digital Perbankan di Tahun 2021
Perbesar
Nasabah beraktivitas di salah satu kantor cabang digital Bank BNI di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia pada tahun 2020 mencapai USD 44 miliar. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, bilai ekosistem ekonomi digital di Indonesia mencapai USD 26,3 miliar atau Rp 377,87 triliun. Sedangkan untuk nilai pendanaan tahap awal sebesar USD 849,5 juta atau Rp 1,21 triliun.

Pencapaian tersebut membawa Indonesia menjadi nomor 1 dalam Global Startup Ecosystem Report tahun 2020.

"Berdasarkan Global Startup Ecosystem Report tahun 2020 Indonesia menempati posisi 1 berdasarkan nilai ekosistemnya," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam Webinar Belajar Digital Bareng BukaLapak dan Microsoft, Jakarta, pada Senin 8 Maret 2021.

Selain itu, dalam kategori lainnya, Indonesia menempati urutan ke-2 dari top 100 emerging ecosystem. Luhut menyebut dua pencapaian tersebut tidak terlepas dari peran berbagai pihak termasuk pemerintah dan perusahaan swasta.

"Swasta yang berperan terkait bisnis produk dan pemerintah memberikan infrastruktur dan berbagai insentif yang mengundang para investor masuk ke Indonesia," tutur Luhut.

Kolaborasi dan hubungan harmonis antara pemerintah dan swasta ini membuat Indonesia menempati posisi tersebut. Maka, pemerintah berkomitmen akan tetap menjaga hubungan baik yang telah terjalin dan mendorong kolaborasi kepada semua pihak. Mulai dari business to business, business to government maupun business to company.

"Semua peran pemerintah akan mendorong demi perkembangan sektor ekonomi digital dalam negeri," ungkap Luhut.

Kolaborasi ini diharapkan bisa menciptakan efek domino yang positif bagi masyarakat. Sehingga bisa memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat di era digital.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓