BI Bakal Ikut Brasil dan Turki Naikkan Suku Bunga Acuan?

Oleh Andina Librianty pada 01 Apr 2021, 19:09 WIB
Diperbarui 01 Apr 2021, 19:09 WIB
BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke 5,25 Persen
Perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (kanan) didampingi DGS Destry Damayanti memberi keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bank sentral Brasil dan Turki sudah menaikkan suku bunga acuan, berbeda dengan sejumlah negara lain termasuk Indonesia yang masih menahan suku bunga acuan. Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan Indonesia melihat ruang untuk penurunan suku bunga masih sangat terbuka.

Bank sentral Turki menaikkan suku bunga acuan 200 basis poin (bps), sementara brasil 75 bps. Sementara BI sudah menurunkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate sebesar 150 bps hingga di level 3,5 persen.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan struktur ekonomi kedua negara tersebut berbeda dengan Indonesia. Turki misalnya, tekanan inflasinya mencapai belasan persen, sehingga harus menaikkan suku bunga acuannya.

"Sementara inflasi kita masih sangat rendah 1,3 persenan. Jadi memang penurunan suku bunga, secara fundamental ruangnya itu sangat terbuka," jelas Destry dalam Temu Stakeholders Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional pada Kamis (1/4/2021).

"Sebenarnya ini yang kita harapkan bisa menstimulasi pertumbuhan ekonomi, karena biaya bunga menjadi murah," sambungnya.

Selain tekanan inflasi yang rendah, Indonesia juga melihat stabilitas di sektor eksternal serta ekspor yang cukup baik, current account deficit (CAD) terkendali, likuiditas yang cukup. Sehingga, memberikan ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan.

BI pun berharap kebijakannya itu diteruskan oleh sektor perbankan. Sejauh ini hasilnya terlihat efektif.

"Ini yang kita harapkan akan diteruskan oleh sektor perbankan,sehingga kenapa dalam kebijakan kami terakhir, kami keluarkan laporan atau evaluasi soal SBDK (Suku Bunga Dasar Kredit). Hasilnya efektif karena kita lihat beberapa bank sudah mulai menurunkan SBDK-nya," ungkap Destry.

2 dari 3 halaman

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen Demi Perkuat Rupiah

Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Bank Indonesia (BI) secara resmi menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate atau BI7DRRR di level 3,50 persen pada Maret 2021. Alasan BI tetap mempertahankan suku bungan acuannya demi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Keputusan itu diambil setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu hingga Kamis, 17-18 Februari 2021.

"Setelah mencermati dan melihat berbagai assesment baik ekonomi global dan domestik, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17-18 Maret 2021 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,50 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam sesi teleconference, Kamis (18/3/2021).

Perry mengatakan, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menahan suku bunga deposito facility di level 2,75 persen, dan suku bunga lending facility pada 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, dan di tengah angka inflasi yang rendah," sambung Perry.

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam RDG pada 17-Februari lalu telah memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 3,75 persen mejadi 3,50 persen.

Adapun di sepanjang 2020, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali atau sebesar 125 basis points (bps), dari semula 5 persen menjadi 3,75 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓