Rupiah Ditutup Terpuruk ke 14.525 per Dolar AS

Oleh Liputan6.com pada 31 Mar 2021, 17:45 WIB
Diperbarui 31 Mar 2021, 17:45 WIB
FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup melemah seiring masih tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Rupiah ditutup melemah 45 poin atau 0,31 persen ke posisi 14.525 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.480 per dolar AS.

"Dolar menguat terhadap mata uang utama, karena percepatan vaksinasi AS dan rencana paket stimulus utama memicu ekspektasi inflasi dan meningkatkan imbal hasil obligasi," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dikutip dari Antara, Rabu (31/3/2021).

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 14 bulan yaitu 1,77 persen pada Selasa (30/3), sehari sebelum Presiden AS Joe Biden akan menguraikan bagaimana rencana infrastruktur senilai 3 triliun dolar AS akan didanai.

Biden juga menargetkan membuka program vaksin COVID-19 AS untuk 90 persen orang dewasa Amerika pada 19 April di awal minggu.

Di sisi data, indeks Keyakinan Konsumen CB Conference Board pada Selasa (30/3) kemarin melonjak menjadi 109,7 pada Maret, level tertinggi sejak awal COVID-19 dan naik dari 90,4 pada Februari lalu.

Investor sekarang menunggu laporan ketenagakerjaan AS untuk Maret, termasuk data ketenagakerjaan non pertanian atau non-farm payrolls, yang akan keluar pada Jumat (2/4).

Investor akan mengamati angka-angka tersebut dengan cermat setelah bank sentral AS The Federal Reserve mengutip pasar tenaga kerja yang lesu karena sikap dovish-nya yang berkelanjutan pada suku bunga.

 

2 dari 3 halaman

Sikap The Fed

The Fed
Perbesar
The Fed (www.n-tv.de)

Sementara sikap The Fed yang telah meningkatkan prospek ekonomi, juga terus meningkatkan kekhawatiran inflasi.

"Selain itu, permintaan valas korporasi juga tinggi. Jelang akhir kuartal, kebutuhan valas memang tinggi karena ada kewajiban pembayaran dividen, utang jatuh tempo, dan sebagainya. Rupiah jadi banyak dilepas untuk ditukar dengan valas, utamanya dolar AS. Faktor musiman ini yang membuat rupiah melemah," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.483 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.483 per dolar AS hingga Rp14.570 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan rupiah melemah Rp14.572 per dolar AS, dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.481 per dolar AS.

   

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by