8 Gardu Listrik Terdampak Kebakaran Kilang Minyak Balongan Pulih

Oleh Liputan6.com pada 30 Mar 2021, 18:15 WIB
Diperbarui 30 Mar 2021, 18:15 WIB
Balongan
Perbesar
Kilang minyak Balongan Indramayu terbakar hebat pada Senin dinihari, (29/3/2021). (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Barat (Jabar) berhasil memulihkan delapan dari 10 gardu distribusi yang terdampak kebakaran kilang minyak Balongan milik PT Pertamina RU VI Balongan di Kabupaten Indramayu, Jabar, yang terjadi pada Senin (29/3) dini hari.

"Alhamdulillah tujuh gardu yang memasok ke pelanggan umum, pada sore kemarin sudah normal kembali. Kemudian dua dari tiga gardu yang memasok ke Kilang Pertamina belum kita operasikan karena permintaan Pertamina," kata Manager Komunikasi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Barat Iwan Ridwan, dikutip dari Antara, Selasa (30/3/2021).

Alasan Pertamina meminta dua gardu milik PLN masih belum dioperasikan, kata Iwan, karena terkait dengan proses pemeriksaan keamanan lebih lanjut di lingkungan kilang minyak Balongan.

Ditemui di sela-sela kegiatan Sosialisasi Stimulus Listrik dan Test Drive Mobil Listrik di Kantor PLN UP3 Bandung, Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Iwan menjelaskan pada awal kejadian ada 10 gardu terdampak.

Ia mengatakan dari jumlah tersebut tiga gardu di antaranya khusus mensuplai pasokan listrik di kilang dan kantor Pertamina di dalam kilang, sedangkan tujuh kilang mensuplai ke masyarakat luar.

"Jadi kemarin siang satu gardu ke pelanggan umum sudah normal. Sore harinya enam gardu pelanggan umum dan satu gardu di dalam kilang sudah normal," kata dia.

Ia mengatakan, secara umum tidak ada kerusakan signifikan terhadap 10 gardu PLN yang terdampak kebakaran kilang minyak Balongan. Jika ada kerusakan kecil, menurut dia, sudah selesai diperbaiki dalam kisaran waktu yang tidak terlalu lama.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kilang Balongan Terbakar, Pertamina Harus Lebih Besar Investasi di Sektor Keamanan

Kebakaran Kilang Balongan
Perbesar
Asap hitam membumbung yang berasal dari kebakaran Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/03/2021). Kilang Balongan milik PT Pertamina di Indramayu terbakar pada 29 Maret 2021 mulai sekitar pukul 00.45 dini hari. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kebakaran kilang minyak Balongan milik Pertamina di Indramayu menjadi pelajaran penting bagi Pertamina dalam meningkatkan sektor keamanan, terutama bagi pengelolaan kilang perseroan.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, Pertamina perlu menggelontorkan investasi yang lebih banyak di sektor keamanan untuk mencegah kebakaran seperti di kilang minyak Balongan terulang kembali.

"Investasi tentu sangat perlu di sektor safety, karena kalau terjadi apa-apa seperti sekarang, dampak kerugiannya, materiilnya pasti jutaan dolar," ujar Mamit saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (30/3/2021).

Mamit melanjutkan, memang kerugiannya belum bisa diperkirakan. Namun jika dihitung, Pertamina tidak hanya kehilangan gasoline, tapi juga harus mengeluarkan uang untuk perbaikan dan pembangunan kembali kilang.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih menyelidiki sebab kebakaran kilang minyak Balongan. Ada beberapa spekulasi yang menyebutkan, kebakaran ini disebabkan oleh petir.

"Kalau sebabnya karena petir, sebenarnya Pertamina harusnya sudah menerapkan penangkal petir. Itu ada hitungannya, nanti bisa menyerap petir. Kalau memang karena petir, mungkin saja alatnya kemarin tidak berfungsi dengan baik atau bagaimana," ujarnya.

Lebih lanjut, Mamit berharap penyelidikan terhadap penyebab kebakaran kilang minyak Balongan ini bisa segera diselesaikan. Ketika penyebabnya sudah diketahui, maka Pertamina dapat berinvestasi di proyek keamanan kilang untuk mencegah kecelakaan yang sama terulang kembali.

"Ini jadi pelajaran, kita berharap supaya Pertamina lebih memperbaiki terkait perkilangan mereka terutama keamanannya. Apalagi Pertamina ini ada RDMP, GRM yang sangat penting. Saya dorong investigasi mendalam untuk memastikan penyebab kebakaran ini," kata Mamit. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

6 Orang Korban Ledakan Kilang Balongan Dirujuk ke RSPP Jakarta

Jalan Raya Balongan-Indramayu Ditutup
Perbesar
Anggota TNI berjaga di lokasi terbakarnya kilang minyak di Jalan Raya Balongan-Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/3/2021). Dampak dari terbakarnya kilang minyak Balongan milik PT Pertamina itu mengakibatkan Jalan Raya Balongan-Indramayu ditutup total. (merdeka.com/Arie Basuki)

PT Pertamina (Persero) memastikan upaya penanganan terhadap warga terdampak insiden tangki T-301 di area Kilang Balongan mendapat layanan medis terbaik.

Saat ini, Pertamina membuka Posko Layanan Kesehatan bagi pengungsi terdampak insiden Kilang Balongan yang berlokasi di Gedung Olah Raga (GOR) dan Lapangan Fustal Bumi Patra Timmedis yang diterjunkan merupakan gabungan dari Medical RU VI Balongan, Rumah Sakit Pertamina Balongan, dan RSP Klayan Cirebon dengan pengaturan 1 dokter setiap shift dan 4 perawat bersiaga selama 24 jam. Turut disiagakan satu unit ambulans.

Dari keseluruhan warga yang terdampak, sebanyak 6 orang dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) untuk memperoleh perawatan lanjutan.

Saat ini, pasien sedang ditangani oleh dokter-dokter ahli terbaik di RSPP. Adapun untuk keluarga pasien, juga telah mendapatkan tempat khusus selama anggota keluarga dalam perawatan.

“Salah satu langkah yang paling utama adalah memastikan penanganan pasien dampak insiden berjalan dengan baik. RSPP merupakan RS Rujukan terbaik bagi luka bakar yang dimiliki Pertamina saat ini,” ujar Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relations Pertamina, Agus Suprijanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Direktur RSPP, Dr Syamsul Bahri, menuturkan RSPP memiliki tim khusus untuk penanganan luka bakar yang akan melakukan penanganan medis berdasarkan SOP yang tepat.

Untuk memastikan penanganan media bagi warga lainnya, Tim RSPP juga telah berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan dua Rumah Sakit Pertamina di Cirebon dan Balongan.

“Kami akan mengupayakan perawatan terbaik untuk pasien dan mendapatkan penanganan yang tepat di masa-masa kritikal pada pascakejadian, agar tidak jatuh pada keparahan yang lebih lanjut, sebelum pasien dirujuk ke RSPP,” jelas Syamsul. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓