Kilang Balongan Terbakar, Proyek Pertamina Terganggu?

Oleh Athika Rahma pada 30 Mar 2021, 15:50 WIB
Diperbarui 30 Mar 2021, 15:50 WIB
Kebakaran Kilang Balongan
Perbesar
Asap hitam membumbung yang berasal dari kebakaran Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/03/2021). Kilang Balongan milik PT Pertamina di Indramayu terbakar pada 29 Maret 2021 mulai sekitar pukul 00.45 dini hari. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta Pengamat energi yang juga pernah menjabat sebagai Anggota Komisi VII DPR periode 2014-2019, Kurtubi, mengatakan insiden kebakaran dan ledakan di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, bisa menghambat megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina.

"Jadwalnya pasti akan molor. Perkiraan saya memperbaiki tangki yang rusak parah butuh waktu lama untuk bisa berfungsi normal kembali," kata Kurtubi dalam keterangannya seperti dikutip dari Antara, Selasa (30/3/2021).

RDMP Kilang Balongan merupakan salah satu proyek strategis nasional dalam rangka pengembangan kilang di Indonesia.

Mengutip informasi dari laman resmi Pertamina, pengerjaan proyek RDMP Kilangan Balongan fase pertama ditandai dengan pemancangan perdana pada Februari lalu.

Pengembangan proyek ini bertujuan meningkatkan fleksibilitas unit pengolahan dan meningkatkan kapasitas produksi Kilang Balongan dari sebelumnya hanya 125 MBSD menjadi 150 MBSD, serta mampu menghasilkan nafta untuk proses lebih lanjut dari 5,29 MBSD menjadi 11,6 MBSD.

Dengan peningkatan fleksibilitas Crude Distillation Unit (CDU), maka Kilang Balongan akan bisa memproses minyak mentah campuran berat ataupun minyak mentah ringan.

Hal ini akan meningkatkan margin untuk perusahaan dan juga meningkatkan ketahanan energi nasional. Selanjutnya, fase kedua adalah aktivitas produksi mulai berlangsung pada tahun 2022 mendatang.

Adapun fase ketiga terkait pengembangan komplek kilang terintegrasi petrokimia yang diproyeksikan rampung pada tahun 2026. Dalam penggarapan proyek ini, Pertamina menggandeng dua perusahaan energi asing, yakni China Petroleum Corporation (CPC) dan perusahaan minyak asal Abu Dhabi ADNOC.

Lebih lanjut Kurtubi mengatakan hal yang juga menarik adalah kebakaran kilang minyak Pertamina bukan hanya sekali ini saja melainkan sudah sering terjadi, di antaranya kebakaran Kilang Balikpapan, Kilang Cilacap, dan yang terbaru Kilang Balongan.

"Ini artinya mungkin kurang maintenance, kurang pengawasan, dan kurang kontrol. Pertamina harus meningkatkan itu semua agar jangan sampai kebakaran kilang dianggap hal biasa," kata Kurtubi.

Seperti diketahui, insiden kebakaran Kilang Balongan terjadi pada tangki T-301G sekitar pukul 00.45 dini hari, Senin kemarin (29/3/2021). Saat ini, kondisi kilang masih belum aktif beroperasi karena Pertamina memberlakukan shutdown atau penghentian operasi pengolahan bahan bakar minyak.

DPR Minta Pertamina Evaluasi Keamanan Kilang Minyak Balongan

Jalan Raya Balongan-Indramayu Ditutup
Perbesar
Kendaraan melintas dengan latar belakang kepulan asap akibat kebakaran Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/03/2021). Dampak dari terbakarnya kilang minyak Balongan milik PT Pertamina itu mengakibatkan Jalan Raya Balongan-Indramayu ditutup total. (merdeka.com/Arie Basuki)

Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno mengatakan, diperlukan protokol pengoperasian, pemeliharaan dan pengamanan yang ketat dalam upaya pencegahan agar tidak terjadi lagi kebakaran di Kilang Minyak Balongan Indramayu.

“Diperlukan protokol pengoperasian, pemeliharaan atau perawatan dan pengamanan yang ketat karena kilang ini adalah obyek vital bagi negara,” kata Eddy kepada Liputan6.com, Selasa (30/3/2021).

Selain itu, sangat penting untuk melakukan evaluasi atas penerapan protokol tersebut. Apabila protokol yang sudah disebutkan di atas belum memadai, maka Pertamina harus meningkatkan dan memperketat penerapan protokolnya.

Oleh karena itu, Komisi VII DPR RI akan segera memanggil Direksi Pertamina untuk meminta penjelasan atas kronologis kebakaran Kilang Balongan Indramayu ini. Eddy menegaskan, harus ada upaya pencegahan agar kasus serupa tidak terulang kembali

“RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Pertamina direncanakan Senin tanggal 5 April,” ujarnya.

Sejauh ini, Komisi VII DPR meminta Pertamina untuk mengumpulkan data dan fakta di lapangan terkait penyebab kejadian terbakarnya kilang minyak Balongan, serta meminta agar mereka melakukan penanganan yang serius terhadap warga yang terluka akibat ledakan tersebut.

“Kami juga meminta Pertamina segera memberikan penjelasan perihal penyebab kebakaran di objek vital seperti Kilang Balongan Indramayu ini, dan segera mempersiapkan langkah langkah pemulihan operasi Kilang Minyak Balongan,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓